SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Ada dua sapaan yang cukup lekat dengan Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, yakni “Senator Cantik” dan “humble”.
Dua sebutan tersebut berkembang dari ruang yang berbeda. Sebutan “cantik” kemudian tidak hanya dimaknai dari sisi penampilan, tetapi juga dikaitkan dengan tagline CANTIK yang merupakan akronim dari Cerdas, Inovatif, dan Kreatif.
Sementara sebutan “humble” muncul dari kesan masyarakat terhadap cara Lia berinteraksi dan hadir di tengah warga.
Keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa itu menjadikan gagasan tersebut sebagai pesan bahwa perempuan tidak semestinya hanya dinilai dari penampilan, tetapi juga dari kapasitas, gagasan, dan kontribusinya di ruang publik.
Pengamat politik Mubarok mengatakan, makna tersebut menjadi bagian dari pesan yang digunakan Lia untuk mendorong perempuan agar berani mengambil peran di ruang publik.
“Jauh sebelum menjadi senator, identitas tersebut sebenarnya sudah muncul dalam perjalanan Ning Lia sebagai aktivis perempuan. Hingga akhirnya kini menjadi tagline dan sosok Ning Lia yang memang cantik dan dekat dengan masyarakat,” kata Barok.
Beberapa media juga mencatat bahwa ketika maju sebagai calon anggota DPD RI, Ning Lia telah membawa gagasan “CANTIK” sebagai bagian dari kesadaran perempuan untuk mengambil peran di ruang publik.
Karena itu, ketika publik kemudian menyebutnya “Senator Cantik”, istilah tersebut memiliki makna yang lebih luas.
“Cantik bisa dimaknai sebagai Cerdas, Inovatif, dan Kreatif. Jadi bukan soal rupa, tapi cara berpikir dan bersikap dalam melayani masyarakat,” ujar Ning Lia.
Sapaan “cantik” bahkan beberapa kali terdengar spontan ketika Lia hadir dalam kegiatan masyarakat.
Dalam sebuah kegiatan bakti sosial di Kutisari beberapa waktu lalu, seorang warga bahkan meneriakkan, “Ning Lia cantik banget,” saat Lia memberikan sambutan.
Warga lainnya, Sri Lestari, mengakui bahwa “Cantik” juga merupakan tagline dari Cerdas, Inovatif, dan Kreatif. Namun, menurut dia, Lia memang memiliki kesan tersebut.
“Cantik dan baik orangnya. Selalu ramah dan senyum dimanapun,” kata Sri.
Di sisi lain, sebutan “humble” lahir dari pengalaman orang-orang yang berinteraksi langsung dengan Lia.
Salah satu contohnya terlihat ketika Lia berbaur dengan masyarakat Wonocolo, Surabaya. Dalam sebuah kegiatan bersama warga, ia bahkan terlihat berjalan tanpa alas kaki atau nyeker.
Tokoh masyarakat Wonocolo, H. Muhaimin, menggambarkan Lia sebagai sosok yang sederhana dan tidak membuat jarak dengan masyarakat.
Kesan tersebut juga terlihat dalam aktivitas Lia bersama mahasiswa di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, pada September 2026.
Dalam pertemuan dengan mahasiswa baru tersebut, Lia tidak tampil dalam suasana formal sebagai seorang senator. Pertemuan justru berlangsung layaknya percakapan antara seorang kakak dan adik mahasiswa. Aktivitas tersebut juga diberitakan pada September 2026 oleh sejumlah media.
Sebelumnya, pada Maret 2026, Lia juga melakukan silaturahmi dengan PC Fatayat NU Kota Surabaya. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan dialogis dengan pembahasan mengenai pemberdayaan perempuan.
Kesan serupa disebut muncul dari aktivitas Lia sebelum maupun setelah menjadi senator.
Lia disebut tetap membawa kebiasaan turun langsung dan menyapa masyarakat meskipun telah memperoleh mandat sebagai anggota DPD RI.
Dalam berbagai kunjungan, ia aktif mendatangi sejumlah wilayah di Jawa Timur untuk menyerap aspirasi masyarakat, termasuk persoalan pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan perempuan dan anak.
Aspirasi tersebut kemudian dibawa ke ruang pembahasan DPD RI. Aktivitas Lia sebagai senator Jawa Timur juga tercatat dalam agenda Komite I DPD RI di Jawa Timur pada September 2026.
Bagi sebagian masyarakat, pola komunikasi tersebut yang kemudian membuat sapaan “humble” semakin melekat.
Ada pula istilah lain yang menggambarkan karakter komunikasi Lia, yakni “wani mudhun ngisor”, yang bermakna berani turun ke bawah untuk menyapa masyarakat.
“Saya pernah lihat Ning Lia nyeker waktu jalan, ramah dan suka menyapa dulu,” kata Wiwik Setyowati, salah satu warga Gresik.
Dari “CANTIK” yang dimaknai sebagai Cerdas, Inovatif, dan Kreatif hingga “wani mudhun ngisor” yang menggambarkan kedekatan dengan masyarakat, dua sapaan tersebut akhirnya menjadi bagian dari identitas publik Lia Istifhama.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar