JEMBER, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Kabupaten Jember menggelar kegiatan buka puasa bersama sekaligus silaturahmi dengan tokoh pemuda dan mahasiswa di Pendopo Wahyawibawagraha, Sabtu (7/3/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka antara pemerintah daerah dengan organisasi kepemudaan serta Badan Eksekutif Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jember.
Forum tersebut dihadiri puluhan perwakilan organisasi kepemudaan, aktivis mahasiswa, dan tokoh masyarakat. Bupati Jember Muhammad Fawait atau yang akrab disapa Gus Fawait memanfaatkan momentum Ramadan itu untuk memperkuat komunikasi sekaligus membuka ruang diskusi terkait arah pembangunan daerah.
Dalam sambutannya, Gus Fawait menegaskan bahwa pemerintah daerah membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda dalam proses pembangunan. Menurutnya, mahasiswa memiliki cara pandang kritis yang sering kali menghadirkan ide-ide segar bagi pemerintah.
“Saya sebagai Bupati Jember membutuhkan banyak masukan dan ide-ide segar, terutama dari adik-adik mahasiswa. Pemikiran mahasiswa biasanya masih sangat orisinal dan berani berpikir out of the box,” ujar Gus Fawait di hadapan para peserta silaturahmi.
Ia menilai forum seperti ini penting agar pemerintah tidak hanya menerima laporan formal dari organisasi perangkat daerah (OPD), tetapi juga mendapatkan gambaran nyata kondisi masyarakat di lapangan. Pemerintah, kata dia, harus terbuka terhadap kritik dan masukan dari berbagai elemen.
“Saya tidak ingin hanya menerima laporan yang baik-baik saja dari OPD. Saya perlu tahu kondisi sebenarnya di lapangan. Karena itu saya membutuhkan masukan dari organisasi kepemudaan dan mahasiswa,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Fawait juga memaparkan sejumlah tantangan besar yang dihadapi Kabupaten Jember pada awal masa kepemimpinannya lebih dari satu tahun lalu. Salah satu persoalan utama adalah tingginya angka kemiskinan yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah.
Secara absolut, Jember tercatat sebagai daerah dengan jumlah penduduk miskin tertinggi kedua di Jawa Timur. Sementara dalam kategori kemiskinan ekstrem, Jember bahkan menempati posisi tertinggi di provinsi tersebut.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk melakukan berbagai langkah strategis, terutama pada sektor kesehatan yang saat itu menghadapi tekanan cukup berat. Salah satu masalah yang harus diselesaikan adalah utang rumah sakit daerah yang mencapai sekitar Rp214 miliar.
Selain beban utang, tiga rumah sakit daerah milik pemerintah kabupaten juga dilaporkan berada dalam kondisi yang hampir mengalami kolaps secara finansial. Situasi tersebut menuntut kebijakan cepat agar layanan kesehatan masyarakat tidak terganggu.
Sebagai langkah awal, Pemkab Jember melakukan efisiensi anggaran di sejumlah sektor. Beberapa kebijakan yang diambil antara lain menunda pengadaan kendaraan dinas baru, mengurangi kegiatan seminar dan perjalanan dinas, serta memangkas berbagai belanja yang tidak berkaitan langsung dengan program pengentasan kemiskinan.
Efisiensi tersebut kemudian dialihkan untuk memperkuat sektor kesehatan. Salah satu kebijakan yang dijalankan adalah memperluas jaminan kesehatan masyarakat melalui program Universal Health Coverage (UHC) Prioritas.
Kebijakan tersebut mulai menunjukkan dampak terhadap stabilitas keuangan rumah sakit daerah. Salah satunya terlihat dari peningkatan pendapatan RSUD dr. Soebandi yang sebelumnya berada di kisaran Rp15 miliar dan meningkat menjadi sekitar Rp31 miliar dalam waktu kurang dari satu tahun.
Selain sektor kesehatan, pemerintah daerah juga memprioritaskan perbaikan infrastruktur pendidikan. Berdasarkan data yang dihimpun pemerintah, terdapat 1.532 sekolah di Kabupaten Jember yang mengalami kerusakan berat.
Pemerintah kemudian melakukan perbaikan secara bertahap dengan dukungan anggaran dari APBD dan APBN. Hingga tahun 2025, hampir 40 persen dari total sekolah yang mengalami kerusakan berat telah berhasil diperbaiki.
Langkah lain yang dilakukan adalah memberikan akses pendidikan tinggi yang lebih luas bagi masyarakat. Pemkab Jember meluncurkan program beasiswa bagi sekitar 20.000 mahasiswa asal daerah tersebut.
Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memberikan kesempatan lebih besar bagi generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga mengembangkan sistem pengaduan publik berbasis digital yang diberi nama “Wadul Gus’e”. Melalui sistem tersebut, masyarakat dapat menyampaikan berbagai keluhan atau persoalan secara langsung kepada pemerintah.
Hingga saat ini tercatat hampir 12 ribu aduan masyarakat masuk melalui kanal tersebut. Dari jumlah tersebut, sekitar 87 persen aduan telah berhasil ditindaklanjuti dan diselesaikan oleh pemerintah daerah.
Pemkab Jember juga melakukan reformasi layanan administrasi kependudukan guna mempermudah masyarakat, terutama di wilayah pinggiran. Salah satu kebijakan yang dijalankan adalah penyediaan fasilitas pencetakan KTP di 28 kecamatan di luar kawasan perkotaan.
Kebijakan tersebut diambil untuk memangkas jarak dan waktu tempuh masyarakat yang sebelumnya harus datang langsung ke kantor Dispendukcapil di pusat kota.
Dalam forum dialog tersebut, Gus Fawait juga mengajak mahasiswa untuk tetap mempertahankan sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah. Namun ia menekankan bahwa kritik yang disampaikan sebaiknya bersifat konstruktif dan disertai solusi.
“Mahasiswa harus tetap kritis, tetapi kritik yang membangun. Kritik yang disertai solusi,” ujarnya.
Ia menilai generasi muda memiliki peran strategis dalam memberikan perspektif baru bagi pemerintah daerah. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga pada partisipasi masyarakat.
Di akhir sambutannya, Gus Fawait menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan daerah tidak diukur dari banyaknya program yang dijalankan, melainkan dari dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
“Tujuan utama pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat. Ukurannya jelas, yaitu angka kemiskinan,” tegasnya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, pemuda, mahasiswa, dan seluruh elemen masyarakat dapat mempercepat upaya pembangunan di Kabupaten Jember.
Kegiatan silaturahmi tersebut kemudian ditutup dengan tausiyah keagamaan dan doa bersama. Pemerintah daerah berharap kebersamaan ini menjadi awal kolaborasi yang lebih kuat dalam mewujudkan visi pembangunan daerah menuju “Jember Baru, Jember Maju”.
Penulis : Herry
Editor : Zainul Arifin


















Komentar