KOTA MALANG, RadaBangsa.co.id – Workshop Menulis Esai bertema pendidikan bertajuk “Seribu Satu Suara Hati Guru (Ketika Hukum Mengancam)” digelar di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Kota Malang. Tak sekadar menjadi ruang pelatihan menulis, acara ini berkembang menjadi forum refleksi yang menyentuh sisi kemanusiaan dalam dunia pendidikan, khususnya menyangkut posisi dan perlindungan terhadap guru.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Dalam sesi talkshow, perempuan yang dikenal dengan tagline “Cantik: Cerdas, Inovatif, dan Kreatif” itu mengapresiasi inisiatif penyelenggara yang dinilainya mampu menggugah empati publik terhadap para pendidik. Menurutnya, anak-anak zaman sekarang perlu dibimbing untuk lebih bijak dalam memahami tindakan guru di sekolah.
“Ketika seorang guru menegur, seharusnya itu dilihat dalam konteks pendidikan. Jangan langsung dilaporkan ke orang tua, apalagi sampai viral di media sosial. Perlu ada ruang pemahaman dan komunikasi,” ujar Ning Lia.
Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua sebagai penyeimbang dalam menerima laporan anak. Bagi Lia, sikap bijak dan keterbukaan menjadi kunci agar konflik antara murid dan guru tidak berkembang menjadi polemik hukum yang merugikan kedua belah pihak.
“Orang tua harus menjadi penyaring pertama. Jangan sampai karena emosi sesaat, guru langsung dianggap bersalah. Semua harus ditelusuri secara menyeluruh, bukan sepihak,” tuturnya.
Tak hanya menyentuh aspek relasi sosial, Ning Lia turut menyoroti perlunya payung hukum yang tegas untuk melindungi guru dari ancaman kriminalisasi. Menurutnya, tidak semua tindakan guru bisa dikategorikan sebagai kekerasan tanpa analisis yang objektif.
“Harus ada regulasi yang jelas soal batasan tindakan guru. Subjektivitas tidak boleh menjadi dasar menjatuhkan hukuman. Kita butuh aturan yang adil, yang tetap menjunjung martabat dan otoritas guru,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Ning Lia juga menyoroti perlunya perlindungan terhadap kesejahteraan guru. Menurutnya, dalam kondisi apapun, termasuk ketika keuangan negara sedang sulit, penghasilan guru tetap harus menjadi prioritas.
“Guru adalah penjaga kualitas generasi bangsa. Negara punya kewajiban untuk menjamin gaji dan kesejahteraan mereka, tanpa pengecualian,” ujarnya.
Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dari berbagai unsur, mulai dari Kementerian Agama, legislatif, hingga kalangan pesantren dan penggerak pendidikan. Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Kemenag Kota Malang Ach. Shampton, S.HI, M.Ag, disusul oleh Kepala Kemenag Kabupaten Malang Drs. Sahid, M.M, serta Kabid PAIS Kanwil Kemenag Jawa Timur Dr. Moh Amak Burhanudin, M.S.I. Dari unsur legislatif, hadir Wakil Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Hikmah Bafaqih, M.Pd, yang juga dikenal aktif dalam isu-isu pendidikan inklusif. Sementara itu, dari kalangan Nahdlatul Ulama dan akademisi, tampak Ketua LP Ma’arif Kabupaten Malang, Prof. Amka, bersama Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Prof. Dr. Ir. KH. Muhammad Bisri, M.S., yang turut memberikan sambutan sekaligus dukungan terhadap semangat literasi guru yang diangkat dalam workshop ini.
Sebagai pengisi utama, Wiwin Siswanti dan Anis Hidayatiedua guru peraih penghargaan Literasi Teladan Jawa Timur juga turut memperkenalkan karya terbaru mereka, buku “Seribu Satu Suara Hati Guru (Ketika Hukum Mengancam)” yang menjadi refleksi kolektif atas tantangan guru di tengah tekanan sosial dan hukum yang semakin kompleks.
–
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar