DPD RI Lia Istifhama Soroti Trauma Anak, Dorong Langkah Cepat Pemerintah

- Redaksi

Senin, 13 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, RadarBangsa.co.id — Isu kesehatan mental anak kembali menjadi perhatian serius seiring meningkatnya kasus gangguan belajar hingga trauma akibat perundungan dan kekerasan. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mulai mendorong langkah preventif, termasuk penyusunan buku edukasi bagi anak sejak usia dini.

Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menilai kebijakan tersebut sebagai langkah awal yang penting, namun belum cukup tanpa penguatan kolaborasi lintas sektor. Ia menegaskan bahwa pendekatan komprehensif diperlukan agar persoalan kesehatan mental anak dapat ditangani secara menyeluruh.

Lia menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif Kemenkes dalam menyusun buku saku edukatif bagi anak-anak. Program ini dinilai strategis untuk mencegah gangguan kesehatan, termasuk masalah mental dan kesulitan belajar sejak dini.

Namun, ia menekankan bahwa implementasi kebijakan tidak bisa berjalan sendiri. Keterlibatan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dinilai krusial agar materi edukasi dapat terintegrasi dalam sistem pembelajaran.

Menurut Lia, buku edukasi tidak hanya harus informatif, tetapi juga mampu merangsang kreativitas dan pola pikir anak. Dengan demikian, anak-anak dapat membangun mimpi yang realistis dan memiliki arah yang jelas dalam perkembangan mereka.

Dalam kunjungannya ke RS Menur Surabaya, Lia menemukan berbagai persoalan nyata yang dihadapi anak-anak. Mulai dari gangguan belajar hingga trauma akibat perundungan dan pelecehan seksual menjadi gambaran kompleksnya masalah di lapangan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental anak tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial dan lingkungan. Banyak anak mengalami tekanan psikologis yang berdampak langsung pada proses tumbuh kembang mereka.

“Kami mendukung penuh upaya Kemenkes dalam menyusun buku saku bagi anak-anak sebagai langkah preventif. Namun, kolaborasi lintas kementerian harus diperkuat agar lebih komprehensif,” ujar Lia, Senin (13/04).

Ia menambahkan, “Saya menemukan anak yang memiliki mimpi besar, tetapi ada juga yang menjadi korban perundungan dan pelecehan seksual. Ini menunjukkan perlunya pendekatan yang menyeluruh.”

Lia juga menegaskan pentingnya peningkatan fasilitas layanan kesehatan mental. “Diperlukan penguatan tenaga medis dan fasilitas kesehatan, khususnya di klinik gangguan belajar, agar anak mendapatkan pendampingan optimal,” tegasnya.

Kesehatan mental anak di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk minimnya rumah sakit yang fokus pada layanan kesehatan jiwa. Stigma negatif di masyarakat juga membuat layanan ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Selain itu, faktor keluarga menjadi salah satu penyebab dominan. Lia mengungkapkan sekitar 24 hingga 46 persen masalah kesehatan jiwa anak dipengaruhi pola pengasuhan dan konflik dalam keluarga.

Kondisi ini menuntut adanya sinergi antara sektor kesehatan, pendidikan, dan keluarga. Tanpa kolaborasi yang kuat, kebijakan yang ada berisiko tidak berjalan efektif di lapangan.

Lia menegaskan bahwa investasi pada kesehatan mental anak merupakan langkah strategis untuk masa depan bangsa. “Pendekatan kolaboratif sangat penting agar penanganan kesehatan mental anak bisa dilakukan secara menyeluruh,” pungkasnya.

Lainnya:

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Tekan Stunting, Bangkalan Genjot Tanam Padi Biofortifikasi Kaya Zat Besi
May Day 2026: Saat Buruh Masih Rentan, BPJS Ketenagakerjaan Cairkan Santunan Rp744 Juta di Lamongan
Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal
Menteri PKP Turun ke Bangkalan, 573 Rumah Warga Siap Dibedah Tahun Ini
Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948
Saat Dunia Memanas, Khofifah Pilih Panggung Nyepi untuk Serukan Stop Perang Global
Jembatan Tarik Nyaris Tumbang, Pemkab Sidoarjo Pastikan Dibangun 2027
BPBD Batang Dorong Adaptasi Rob, Kawasan Terdampak Disulap Jadi Wisata Perikanan

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 11:41 WIB

May Day 2026: Saat Buruh Masih Rentan, BPJS Ketenagakerjaan Cairkan Santunan Rp744 Juta di Lamongan

Minggu, 3 Mei 2026 - 22:58 WIB

Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:38 WIB

Menteri PKP Turun ke Bangkalan, 573 Rumah Warga Siap Dibedah Tahun Ini

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:02 WIB

Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:53 WIB

Saat Dunia Memanas, Khofifah Pilih Panggung Nyepi untuk Serukan Stop Perang Global

Berita Terbaru