SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Jarak generasi muda dengan dunia politik kian melebar. Minimnya keterlibatan Gen Z dalam ruang demokrasi menjadi alarm serius, karena berpotensi memengaruhi kualitas kebijakan publik di masa depan.
Situasi ini disorot Lia Istifhama saat menghadiri Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Bidang Kaderisasi dan Pemuda DPD Partai Golkar Jawa Timur. Ia menilai pendekatan politik yang kaku menjadi salah satu penyebab utama generasi muda enggan terlibat.
“Kalau politik disampaikan dengan cara lama, anak muda tidak akan merasa dekat. Harus ada pendekatan yang lebih relevan dengan dunia mereka,” ujar Lia.
Di tengah perubahan pola komunikasi yang didominasi media sosial, Lia menegaskan bahwa politik tidak cukup disampaikan secara formal. Pesan harus dikemas secara kreatif, komunikatif, dan menyentuh sisi emosional publik.
Sebagai respons, ia memperkenalkan konsep “SENI” sebagai pendekatan baru dalam strategi politik. Konsep ini mencakup Strategy (strategi komunikasi kreatif), Equity (keadilan dalam kebijakan), Nation (orientasi pada kepentingan bangsa), serta Integrity (konsistensi antara ucapan dan tindakan).
Menurutnya, konsep ini bukan sekadar pendekatan komunikasi, tetapi juga upaya memperbaiki hubungan antara politik dan masyarakat, khususnya generasi muda.
“Generasi muda hari ini adalah Syubbanul Yaum Rijalul Ghod—pemimpin masa depan. Politik tidak boleh kaku, harus ada sentuhan seni agar bisa menyentuh hati,” tegasnya.
Dampak dari rendahnya partisipasi generasi muda dinilai tidak bisa dianggap sepele. Selain menurunkan kualitas demokrasi, kondisi ini juga berpotensi membuat kebijakan publik tidak lagi merepresentasikan kebutuhan kelompok usia produktif.
Anggota DPR RI, Fathoni, menilai pendekatan tersebut sebagai bentuk komunikasi politik yang lebih adaptif. Ia menyebut gagasan Lia mampu menjembatani bahasa politik dengan karakter generasi digital.
Sementara itu, panitia kegiatan Aan Ainur Rofiq menegaskan bahwa perubahan strategi ini penting untuk menjawab pergeseran perilaku pemilih.
“Gen Z lebih kritis dan selektif. Pendekatan berbasis narasi dan nilai seperti ini menjadi kunci agar politik tetap relevan,” ujarnya.
Langkah ini menjadi sinyal perubahan pendekatan politik di Jawa Timur. Dari yang sebelumnya cenderung formal dan elitis, kini mulai bergerak menuju model yang lebih inklusif, komunikatif, dan dekat dengan realitas generasi muda.
Jika berhasil diterapkan secara konsisten, pendekatan ini diharapkan mampu membuka ruang partisipasi yang lebih luas, sekaligus mengembalikan kepercayaan publik terhadap politik sebagai sarana memperjuangkan kepentingan bersama.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar