KEDIRI, RadarBangsa.co.id – Hujan deras yang mengguyur Kelurahan Semampir, Kota Kediri, Sabtu (23/5/2026) sore tak menghentikan langkah warga berburu sembako murah. Ratusan masyarakat tetap bertahan mengantre di lokasi pasar murah yang digelar Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa demi mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga di bawah pasaran menjelang Idul Adha 1447 Hijriah.
Payung dan jas hujan terlihat memenuhi halaman kantor Kelurahan Semampir. Warga rela berdesakan demi membeli beras, minyak goreng, gula, hingga cabai dengan harga yang jauh lebih murah dibanding harga pasar.
Program pasar murah yang menjadi titik ke-69 itu digelar sebagai langkah pengendalian inflasi sekaligus menjaga daya beli masyarakat menjelang hari besar keagamaan.
“Menjelang Idul Adha, kita ingin masyarakat tenang karena stok bahan pokok tersedia, distribusi lancar, dan harga tetap terkendali,” kata Khofifah di sela kegiatan.
Ia menegaskan, tingginya antusiasme warga menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap pangan murah masih sangat tinggi. Karena itu, Pemprov Jatim terus menggencarkan operasi pasar dan pasar murah di berbagai daerah.
“Pasar murah terus kita lakukan agar masyarakat bisa mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau,” ujarnya.
Dalam pasar murah tersebut, sejumlah komoditas dijual di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Beras premium dipatok Rp14 ribu per kilogram, sementara beras medium SPHP Rp11 ribu per kilogram.
Minyak goreng Minyakita dijual Rp13 ribu per liter, gula pasir Rp14 ribu per kilogram, telur ayam ras Rp22 ribu per pack, dan daging ayam ras Rp30 ribu per pack.
Selain itu, tersedia tepung terigu Rp10 ribu per kilogram, bawang putih Rp6 ribu per 250 gram, bawang merah Rp7 ribu per 250 gram, hingga paket cabai Rp5 ribu per 200 gram.
Khofifah menyebut pasar murah menjadi instrumen penting untuk menahan lonjakan harga pangan yang berpotensi terjadi menjelang Idul Adha. Menurutnya, pemerintah juga harus menjaga keseimbangan agar pasar murah tidak mematikan aktivitas pasar tradisional.
“Kita tempatkan di titik-titik yang tidak berdekatan dengan pasar tradisional agar tidak mengganggu ekosistem pasar yang sudah ada,” tegasnya.
Pemprov Jatim, lanjut Khofifah, terus memperkuat koordinasi dengan Bulog, pemerintah daerah, dan pelaku distribusi pangan agar pasokan kebutuhan pokok tetap aman di seluruh wilayah Jawa Timur.
“Yang paling penting, kebutuhan pokok harus mudah diakses masyarakat dan daya beli tetap terjaga,” katanya.
Di tengah antrean panjang, warga mengaku sangat terbantu dengan harga sembako yang lebih murah. Maulidya, warga Semampir, bahkan datang bersama suami dan anaknya meski hujan deras mengguyur lokasi.
“Hujan deras tapi tetap datang karena kebutuhan mau Iduladha banyak dan harganya di sini lebih murah. Sangat membantu,” ucapnya.
Hal serupa disampaikan Diana, warga Kecamatan Mojoroto. Ia sengaja datang lebih awal agar tidak kehabisan sembako murah.
“Jam 2 saya sudah di sini karena takut antre makin panjang. Kalau beli di pasar beda harganya lumayan. Di sini Rp25 ribu sudah dapat beras sama minyak,” katanya.
Lonjakan kebutuhan pokok menjelang Idul Adha menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Di tengah tekanan harga pangan yang terus disorot masyarakat, pasar murah dinilai menjadi solusi cepat untuk menjaga stabilitas harga sekaligus meringankan beban warga kecil.
“Sembako kita Insya Allah sangat cukup. Yang kita jaga adalah keterjangkauan harganya agar masyarakat bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan baik,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar