SIDOARJO, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, turun langsung memantau proses evakuasi korban ambruknya musholla di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Kejadian tragis ini menimpa ratusan santri saat musholla sedang digunakan untuk Sholat Ashar berjamaah.
Kejadian bermula saat pengecoran lantai empat musholla masih berlangsung. Struktur kayu yang digunakan tidak mampu menahan beban pondasi, sehingga bangunan runtuh hingga ke lantai dasar. “Kita semua berduka atas insiden ini. Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan untuk memastikan ruang yang aman bagi seluruh santri,” ujar Khofifah.
Evakuasi korban dilakukan oleh tim gabungan BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Sidoarjo, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan. Gubernur menekankan bahwa proses evakuasi harus maksimal dan tuntas, memastikan tidak ada satu orang pun yang tertinggal di reruntuhan. “Kami terus melakukan evakuasi secara maksimal dan tanpa henti,” kata Khofifah.
BPBD, Basarnas, dan relawan secara intens menyisir reruntuhan sambil memberikan oksigen dan air kepada korban yang masih bisa berkomunikasi di bawah bangunan. Ekskavator juga disiagakan, meski belum bisa digunakan karena kondisi reruntuhan yang tidak stabil.
Pemprov Jawa Timur membuka Crisis Center di lokasi untuk memudahkan wali santri memperoleh informasi terkait kondisi anaknya. “Tim lintas instansi dan pengasuh pondok siap memfasilitasi wali santri,” jelas Khofifah. Puluhan ambulans telah disiapkan untuk mengevakuasi korban ke rumah sakit terdekat, antara lain RSI Siti Hajar, RSUD RT Notopuro, RS Delta Surya, RS Sheila Medika, dan RSUD Sidoarjo.
Berdasarkan data BPBD Jatim, jumlah korban yang telah teridentifikasi sebanyak 100 orang, terdiri dari 26 pasien rawat inap, 70 orang telah pulang, 1 pasien dirujuk ke RSI Sakinah Mojokerto, dan 3 korban meninggal dunia. Kondisi rumah sakit menunjukkan upaya maksimal dalam menangani korban, dengan tim EMT dari Dinas Kesehatan, rumah sakit, dan relawan siap memberikan pertolongan pertama dan rujukan pasien.
Dinas Kesehatan memastikan seluruh fasilitas rumah sakit di Sidoarjo dan Surabaya siaga menerima korban. Layanan kesehatan non-RSUD akan ditanggung Pemprov, sementara pasien yang dirawat di RSUD Sidoarjo ditanggung Pemkab Sidoarjo. Tim DVI dari Polda, Basarnas, Polri, TNI, Pemprov, dan Pemkab bekerja bersama untuk memberikan layanan serta informasi bagi keluarga korban.
“Kita bersama-sama mencari solusi dan bergotong royong memberikan pertolongan kepada para santri yang masih dalam proses evakuasi,” pungkas Khofifah.
Lainnya:
- DPRD Musi Rawas Gaspol 4 Raperda Krusial Dibahas, Dari Tata Ruang hingga Ketertiban Daerah
- Banjir Sidoarjo Tak Kunjung Usai, Pemkab Gandeng BNPB Gaspol Rp209 M
- Sidoarjo Hapus Denda Pajak 2026, Warga Dikejar Deadline Oktober
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








