Gubernur Khofifah Tegaskan Peran Vital Tagana di Surabaya, 22 Tahun Mengabdi Jadi Kunci Ketangguhan Bencana di Jawa Timur

Selasa, 24 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa 22 tahun pengabdian Taruna Siaga Bencana (Tagana) menjadi bukti nyata pentingnya sinergi dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana, khususnya di Jawa Timur. Pernyataan itu disampaikan dalam peringatan HUT ke-22 Tagana, Selasa (24/3).

Menurut Khofifah, keberadaan Tagana selama lebih dari dua dekade telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem penanggulangan bencana nasional, terutama di wilayah rawan bencana seperti Jawa Timur.
Peringatan HUT ke-22 Tagana tahun ini mengusung tema “22 Tahun Mengabdi, Satu Sinergi untuk Ketangguhan Negeri”. Tema tersebut menegaskan bahwa kekuatan utama dalam menghadapi bencana tidak hanya terletak pada kesiapan teknis, tetapi juga kolaborasi lintas sektor.

Di wilayah Jawa Timur yang memiliki potensi bencana cukup tinggi—mulai dari banjir, tanah longsor, hingga gempa bumi—peran Tagana dinilai sangat strategis. Mereka hadir dalam berbagai fase kebencanaan, mulai dari pra-bencana, tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana.

Khofifah menjelaskan, di lapangan, Tagana menjalankan berbagai tugas krusial seperti mendirikan tenda pengungsian, mengelola dapur umum, hingga membantu proses evakuasi korban. Tak hanya itu, mereka juga terlibat dalam distribusi bantuan logistik serta pendampingan sosial bagi penyintas.

Kecepatan respons dan kesiapsiagaan Tagana menjadi faktor penting dalam meminimalisir korban jiwa maupun kerugian material. Dalam banyak kasus, relawan Tagana menjadi pihak pertama yang hadir di lokasi bencana sebelum bantuan lainnya tiba.

“Selama 22 tahun, Tagana hadir di garis terdepan. Bukan sekadar relawan, tetapi menjadi bagian dari keluarga bagi masyarakat yang terdampak bencana,” ujar Khofifah.

Ia menambahkan, “Di tengah bencana, Tagana sigap. Di saat krisis, Tagana hadir. Dari dapur umum hingga proses evakuasi dan pemulihan sosial, Tagana menjadi bagian dari harapan masyarakat.”

Khofifah juga menyoroti bahwa kekuatan utama Tagana tidak hanya terletak pada keterampilan teknis, tetapi juga nilai kemanusiaan yang mereka bawa. “Keikhlasan dan ketulusan mereka dalam melayani masyarakat adalah bentuk pengabdian luar biasa yang harus kita apresiasi,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam membangun ketangguhan bencana. “Ketangguhan negeri tidak dibangun sendiri. Dibutuhkan sinergi kuat antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media,” imbuhnya.

Dalam konteks penanggulangan bencana, keberadaan Tagana yang berada di bawah koordinasi Kementerian Sosial Republik Indonesia menjadi salah satu pilar utama dalam sistem respons cepat nasional.

Peran Tagana tidak hanya terbatas pada evakuasi darurat, tetapi juga mencakup layanan dukungan psikososial bagi korban, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Pendekatan ini dinilai efektif dalam mempercepat pemulihan mental masyarakat pascabencana.

Selain itu, program seperti Kampung Siaga Bencana terus didorong untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di tingkat akar rumput. Program ini menjadi bagian dari strategi mitigasi berbasis komunitas yang dinilai lebih adaptif terhadap kondisi lokal.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga berkomitmen meningkatkan kesejahteraan dan kapasitas SDM Tagana. Langkah tersebut meliputi penyaluran bantuan operasional, tali asih, pelatihan lanjutan, sertifikasi kompetensi, hingga penyediaan asuransi dan alat pelindung diri.

Melalui program “Sapa Bansos” yang digelar di 38 kabupaten/kota, Pemprov Jatim berupaya memastikan seluruh pilar sosial, termasuk Tagana, mendapatkan perhatian dan apresiasi secara langsung.

Upaya ini diharapkan mampu menjaga semangat relawan sekaligus meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan tugas kemanusiaan yang penuh risiko.

Khofifah berharap, dengan pengalaman 22 tahun, Tagana semakin solid, profesional, dan adaptif dalam menghadapi tantangan kebencanaan di masa depan.

“Tagana selalu ada di setiap fase, dari pra hingga pascabencana. Mereka memastikan keselamatan warga dan meminimalisir dampak yang ditimbulkan,” tegasnya.

Ia pun menutup dengan harapan agar semangat kemanusiaan Tagana terus menginspirasi generasi muda. “Mari kita doakan agar seluruh personel Tagana selalu diberi kesehatan, perlindungan, dan kekuatan dalam menjalankan tugas mulia ini,” pungkasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi
Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter
Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit
Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan
Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember
Hari Jadi Pasuruan ke-1097, RSUD Bangil Gelar Baksos Medis Gratis untuk Puluhan Warga
Tiga Kali Raih Diamond Status, RSUD HMR Mataram Selamatkan 234 Pasien Stroke
95 Lukisan SBY Dipamerkan di Surabaya, Khofifah Soroti Karya tentang Tsunami Aceh

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 20:40

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi

Rabu, 16 September 2026 - 20:16

Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter

Rabu, 16 September 2026 - 20:05

Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit

Rabu, 16 September 2026 - 19:58

Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan

Rabu, 16 September 2026 - 18:45

Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember

Berita Terbaru