SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan LXVI di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (25/6).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran strategis yang diselenggarakan Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan para pejabat pimpinan tinggi dari berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.
Melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh pembelajaran langsung mengenai praktik kepemimpinan, inovasi tata kelola pemerintahan, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pembangunan nasional.
Peserta PKN Tingkat I Angkatan LXVI berasal dari berbagai instansi, di antaranya Kejaksaan Agung, Kepolisian Republik Indonesia, Kementerian Hukum, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Ketenagakerjaan, Basarnas, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Lembaga Administrasi Negara, Sekretariat Jenderal DPR RI, Pemerintah Provinsi Gorontalo, hingga Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Dalam arahannya, Khofifah menegaskan bahwa peserta PKN Tingkat I merupakan calon pemimpin strategis bangsa yang kelak memegang tanggung jawab besar di berbagai institusi.
“Peserta PKN I Angkatan LXVI bukan sembarang orang. Ada calon jenderal, calon menteri, bahkan calon sekda. Pemimpin tidak hanya dituntut mampu menjalankan fungsi administrasi pemerintahan, tetapi juga harus menjadi agen perubahan yang menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Bapak-Ibu semua adalah pemimpin,” ujar Khofifah.
Menurutnya, tantangan kepemimpinan saat ini semakin kompleks sehingga menuntut lahirnya sosok pemimpin yang transformatif, inovatif, kolaboratif, dan mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Untuk menggambarkan kepemimpinan transformatif, Khofifah mencontohkan mantan Presiden Iran, Mohammad Khatami, yang dinilainya berhasil membangun perubahan melalui pendekatan persuasif dan penguatan kesadaran masyarakat.
Ia menjelaskan, di tengah keterbatasan regulasi saat itu, Khatami memilih melakukan transformasi melalui penyebaran nilai-nilai keagamaan yang menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai mitra yang saling menghormati, melindungi, dan bekerja sama.
“Pada masa itu tidak ada anggota parlemen perempuan di Iran. Perubahan besar diinisiasi dan dieksekusi langsung oleh Presiden Khatami melalui pendekatan yang transformatif,” jelasnya.
Khofifah menambahkan, Khatami yang juga dikenal sebagai seorang ulama membangun perubahan dengan menyebarluaskan pesan Al-Qur’an, di antaranya ayat *hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna* yang mengajarkan bahwa suami dan istri saling melindungi serta menghormati satu sama lain.
Selain itu, ia juga mengangkat prinsip *wa ‘asyiruhunna bil ma’ruf* yang menekankan pentingnya memperlakukan perempuan dengan baik dan penuh penghormatan.
“Beliau mampu menembus keterbatasan regulasi melalui transformasi cara berpikir masyarakat. Menurut saya, beliau adalah contoh pemimpin transformatif yang menemukan jalan perubahan di tengah berbagai keterbatasan,” tuturnya.
Khofifah menekankan bahwa kepemimpinan transformatif bukan hanya soal kewenangan atau kebijakan, melainkan kemampuan memengaruhi, menginspirasi, serta membangun kesadaran kolektif menuju perubahan yang lebih baik.
Ia pun mengajak seluruh peserta PKN Tingkat I untuk menjadi pemimpin yang selalu membawa manfaat bagi masyarakat.
“Insya Allah setelah mengikuti PKN I, tingkat kepemimpinan dan amanah Bapak-Ibu akan semakin tinggi. Yang terpenting adalah bagaimana kehadiran kita mampu memberi manfaat bagi sesama, sebagaimana pesan *anfa’uhum linnas*,” ujarnya.
Khofifah juga mengingatkan bahwa setiap pemimpin akan menghadapi tantangan, termasuk kesalahpahaman maupun perbedaan perspektif dalam menjalankan kebijakan.
“Kita sering bertemu dengan sosok *trouble maker*. Kalau salah paham itu masih bisa diluruskan, tetapi kalau pemahamannya yang salah, itu yang menjadi persoalan. Karena itu, kita harus mampu membangun perspektif bersama terhadap setiap kebijakan yang diambil. Tidak ada kesuksesan jika berjalan sendiri. Kita berhasil karena bekerja bersama-sama,” tegasnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN LAN RI, Tri Widodo Wahyu Utomo, menyampaikan apresiasi atas komitmen Gubernur Khofifah dalam mendorong peningkatan kapasitas aparatur sipil negara di Jawa Timur.
Menurutnya, kepemimpinan Khofifah menunjukkan komitmen kuat dalam membangun kompetensi ASN sebagai fondasi tata kelola pemerintahan yang profesional, adaptif, dan responsif.
“Ibu Gubernur Khofifah adalah sosok kepala daerah yang memiliki kepedulian dan komitmen luar biasa terhadap pengembangan kapasitas ASN. Beliau memahami bahwa kepemimpinan harus dibangun secara berkelanjutan,” kata Tri.
Ia menyebut komitmen tersebut tercermin dari capaian peserta asal Jawa Timur yang kerap mendominasi dan masuk dalam lima besar pada pelaksanaan PKN Tingkat I.
“Terima kasih atas dukungan Ibu Gubernur terhadap program pengembangan kapasitas pimpinan. Jawa Timur telah menjadi laboratorium kepemimpinan yang melahirkan berbagai praktik baik dan inovasi dalam pengembangan sumber daya aparatur,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar