Kampung Tempe Purwodadi Pasuruan, UMKM Pangan Lokal Bertahan Puluhan Tahun

- Redaksi

Senin, 19 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengrajin tempe di Desa Parerejo, Purwodadi, memproduksi tempe dan aneka olahan berbahan kedelai.(Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Pengrajin tempe di Desa Parerejo, Purwodadi, memproduksi tempe dan aneka olahan berbahan kedelai.(Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, berkembang sebagai sentra produksi tempe berbasis rumah tangga yang menopang perekonomian warga. Ratusan pengrajin aktif setiap hari memproduksi tempe dalam jumlah besar sekaligus menghadirkan beragam inovasi olahan bernilai tambah.

Aktivitas merebus kedelai, menyiapkan tungku, hingga membungkus tempe dengan daun pisang telah menjadi rutinitas turun-temurun warga Desa Parerejo. Aroma kedelai rebus yang khas menyelimuti kawasan yang kini dikenal luas sebagai Kampung Tempe.

Bagi masyarakat setempat, tempe bukan hanya pangan tradisional, melainkan sumber penghidupan utama yang diwariskan lintas generasi. Keahlian memproduksi tempe terus dijaga, seiring upaya mempertahankan kualitas dan cita rasa yang diminati berbagai kalangan.

Salah satu pengrajin tempe, Mukhammad Irfan, menyampaikan bahwa kapasitas produksinya mencapai satu kuintal tempe per hari. Produk yang dihasilkan tidak hanya tempe batangan untuk pasar tradisional, tetapi juga berbagai olahan modern.

“Tempe batangan tetap kami suplai ke pasar karena permintaannya stabil. Selain itu, kami kembangkan menjadi keripik tempe, nugget, mendol krispi, brownies, hingga cookies,” ujar Mukhammad Irfan, pengrajin tempe Desa Parerejo, di sela aktivitas produksinya.

Dari inovasi tersebut, Irfan mengungkapkan omzet usahanya dapat menembus Rp50 juta per bulan. Harga produk relatif terjangkau, mulai dari tempe batangan ukuran besar seharga Rp30 ribu, tempe kemasan mika Rp10 ribu, tempe mendoan kemasan Rp6 ribu, hingga keripik tempe Rp70 ribu per kilogram.

“Tempe Parerejo ini berbeda karena rasanya lebih gurih dan teksturnya empuk,” tambahnya.

Skala produksi tempe di Desa Parerejo turut memperkuat peran desa ini sebagai penggerak ekonomi lokal. Camat Purwodadi, Sugiarto, menyebutkan sekitar 185 pengrajin tempe aktif berproduksi setiap hari.

“Produksi tempe di Parerejo mencapai sekitar 20 ton per hari. Perputaran uang dari kegiatan ini bisa menyentuh Rp200 juta setiap harinya,” kata Sugiarto, Camat Purwodadi, saat memberikan keterangan.

Dengan konsistensi produksi dan inovasi olahan, Kampung Tempe Parerejo tidak hanya menjaga warisan pangan tradisional, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif dan edukasi berbasis potensi lokal.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Kampung Krisan Tutur Pasuruan Panen Setiap Hari, Suplai Bunga Tembus Jakarta hingga Bali
Petani Lumajang Perkuat Koordinasi Lewat Pembangunan Gardu Tani Mandiri
Pertemuan Rutin PKH di Curahpetung Lumajang Angkat Kepedulian Lansia, Dorong Peran Keluarga dan Lingkungan
Pemberdayaan KRTP Terbukti Tekan Kemiskinan, Lamongan Targetkan 11,95 Persen di 2026
Sungai Grindulu Tegalombo Dilirik untuk PLTA, Pemda Harap Dampak Ekonomi
Pasar Banyuwangi Berkonsep Modern, Siap Dongkrak Wisata Kota
Durian Merah Banyuwangi Resmi Berstatus Indikasi Geografis, Pertama di Indonesia
Diskop UKM Perindag Pasuruan Tampung Aspirasi Pedagang Pasar Wisata Cheng Hoo

Berita Terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 07:29 WIB

Kampung Krisan Tutur Pasuruan Panen Setiap Hari, Suplai Bunga Tembus Jakarta hingga Bali

Jumat, 23 Januari 2026 - 06:00 WIB

Petani Lumajang Perkuat Koordinasi Lewat Pembangunan Gardu Tani Mandiri

Jumat, 23 Januari 2026 - 05:55 WIB

Pertemuan Rutin PKH di Curahpetung Lumajang Angkat Kepedulian Lansia, Dorong Peran Keluarga dan Lingkungan

Kamis, 22 Januari 2026 - 19:19 WIB

Pemberdayaan KRTP Terbukti Tekan Kemiskinan, Lamongan Targetkan 11,95 Persen di 2026

Kamis, 22 Januari 2026 - 18:21 WIB

Sungai Grindulu Tegalombo Dilirik untuk PLTA, Pemda Harap Dampak Ekonomi

Berita Terbaru