SURABAYA, RadarBangsa.co.id — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa disebut menerima penghargaan Leadership Award dalam Amerta Nutrition Award 2026 dari Amerta Nutrition Journal, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga. Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi atas upaya penguatan pembangunan gizi dan kesehatan masyarakat di Jawa Timur.
Berdasarkan keterangan yang diterima, penghargaan itu merupakan bagian dari rangkaian 6th Amerta Nutrition Conference (ANC) 2026 dan diserahkan secara daring pada pekan sebelumnya.
Sejumlah upaya menjadi perhatian dalam pemberian penghargaan tersebut, mulai dari percepatan penurunan stunting, penguatan intervensi gizi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga pengembangan kolaborasi lintas sektor.
Khofifah menyampaikan bahwa penghargaan tersebut bukan sekadar bentuk apresiasi personal, melainkan pengingat akan pentingnya menjaga keberlanjutan pembangunan gizi bagi masyarakat.
“Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Jurnal Amerta Nutrition atas penganugerahan ANC 2026 Leadership Award ini. Bagi saya, penghargaan ini bukan sekadar apresiasi kepada seorang pemimpin, melainkan amanah dan pengingat bahwa pembangunan gizi merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa,” ujar Khofifah di Surabaya, Selasa (27/10/2026).
Salah satu capaian yang disebut menjadi pertimbangan pemberian penghargaan adalah penurunan prevalensi stunting di Jawa Timur dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen pada 2024.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dipublikasikan melalui pemberitaan ANTARA juga mencatat penurunan dengan angka yang sama. Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan prevalensi stunting terendah di Pulau Jawa dan terbaik kedua secara nasional setelah Bali.
Meski demikian, penurunan prevalensi tidak berarti upaya penanganan stunting dapat dihentikan. Keberlanjutan program, kualitas pendampingan, dan ketepatan sasaran tetap menjadi bagian penting untuk memastikan intervensi gizi memberikan manfaat nyata.
Khofifah menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan gizi berkaitan erat dengan pendidikan, produktivitas, kesejahteraan keluarga, dan daya saing bangsa. Karena itu, investasi di bidang gizi perlu menjadi prioritas bersama melalui kebijakan dan pelaksanaan program yang berkelanjutan.
Ia juga mengingatkan agar keberhasilan tidak hanya diukur dari penurunan angka prevalensi, tetapi juga dari kualitas intervensi yang diterima masyarakat.
“Pesan saya, jangan sampai kita hanya mengejar penurunan angka, tetapi melupakan kualitas intervensi dan keberlanjutan hasilnya. Setiap anak harus memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, berkembang optimal, dan terbebas dari masalah gizi,” tegasnya.
Menurut Khofifah, penanganan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perangkat daerah, Tim Penggerak PKK, BKKBN, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, mitra pembangunan, serta pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi tersebut diperlukan untuk memastikan program berjalan secara terintegrasi, mulai dari pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil dan ibu menyusui hingga pendampingan bayi, balita, dan keluarga.
Sejumlah inovasi yang disebut dalam bahan keterangan meliputi konseling dari pintu ke pintu, pendampingan ibu hamil yang mengalami kurang energi kronis, serta program Jawa Timur Tanggap terhadap Ibu Hamil Risiko Stunting.
Edukasi gizi juga dinilai perlu diperkuat agar keluarga memahami pentingnya pola makan bergizi seimbang dan perilaku hidup sehat. Dengan demikian, upaya pencegahan tidak hanya bertumpu pada program pemerintah, tetapi turut didukung kebiasaan sehat di lingkungan keluarga.
Dalam konteks tersebut, Khofifah menekankan pentingnya memperluas jangkauan pendampingan serta memastikan setiap program menjawab kebutuhan kelompok sasaran.
Selain kolaborasi, Khofifah menyoroti pentingnya penggunaan data dan hasil penelitian sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan gizi.
Ia mendorong perguruan tinggi untuk berperan aktif menjembatani perkembangan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan pelayanan masyarakat. Hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi akademik, tetapi dapat diterapkan dan dievaluasi dampaknya.
“Hasil penelitian dan inovasi perguruan tinggi harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan praktik pelayanan yang dapat diterapkan, diukur dampaknya, serta dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” jelasnya.
Khofifah juga menekankan pentingnya pencegahan masalah gizi sejak usia remaja, masa persiapan pernikahan, kehamilan, hingga periode seribu hari pertama kehidupan.
Pendekatan tersebut memerlukan kesinambungan program dan komitmen bersama agar pendampingan dapat dilakukan sejak dini. Pemerintah, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan keluarga diharapkan menjalankan perannya secara saling melengkapi.
Dalam keterangannya, Khofifah turut menyoroti dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis serta penguatan tata kelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Timur sebagai bagian dari perhatian terhadap pemenuhan gizi masyarakat.
Ia berharap Amerta Nutrition Conference dapat terus menjadi ruang pertemuan antara kalangan akademisi, pengambil kebijakan, dan pelaksana program untuk menghasilkan solusi yang dapat diterapkan di lapangan.
“Saya berharap Amerta Nutrition Conference terus menjadi ruang strategis untuk mempertemukan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan praktik di lapangan, sehingga menghasilkan solusi konkret bagi peningkatan status gizi masyarakat,” tuturnya.
Khofifah mengajak seluruh pihak menjadikan penghargaan tersebut sebagai motivasi untuk memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan memastikan generasi mendatang tumbuh sehat dan memperoleh kesempatan berkembang secara optimal.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar