JOMBANG, RadarBangsa.co.id – Pencemaran sungai akibat limbah pabrik tahu di Kabupaten Jombang ternyata bukan persoalan baru. Warga mengungkapkan kondisi tersebut telah berlangsung lebih dari satu dekade dan berdampak langsung terhadap lingkungan, kesehatan, hingga aktivitas pertanian masyarakat.
Keluhan itu mencuat dalam hearing Komisi C DPRD Jombang, Kamis (4/6/2026), yang mempertemukan warga terdampak, Paguyuban Pengusaha Tahu, dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang guna mencari jalan keluar atas persoalan limbah dari 94 pabrik tahu di tiga desa di Kecamatan Jogoroto.
Warga yang tinggal di sekitar Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Kecamatan Peterongan, menyampaikan perubahan kondisi sungai mulai dirasakan sejak sekitar tahun 2015, bahkan diduga sudah terjadi lebih lama. Sungai yang sebelumnya menjadi tempat mandi warga kini berubah keruh dan menimbulkan bau tidak sedap.
“Dulu saya mandi di sungai itu masih bisa. Tapi sekitar tahun 2015 atau bahkan lebih lama, sungai mulai tercemar limbah tahu. Sejak itu air sungai tidak bisa lagi digunakan untuk mandi,” ujarnya di hadapan anggota dewan, dikutip dari HaloJombang.com.
Perubahan kualitas air tersebut berdampak langsung pada kehidupan warga sekitar. Anak-anak yang dahulu leluasa bermain dan mandi di sungai kini tidak lagi berani melakukannya karena khawatir terhadap risiko gangguan kesehatan.
Persoalan itu sebenarnya pernah dibahas warga beberapa tahun lalu. Menurut keterangan warga, sekitar tiga hingga empat tahun lalu masyarakat RT 26 hingga RT 29 di lingkungan Ponpes Darul Ulum sempat menggelar musyawarah untuk mencari solusi.
Namun upaya tersebut tidak berlanjut karena warga tidak mengetahui mekanisme pengaduan maupun langkah penyelesaian yang harus ditempuh.
“Kami waktu itu bingung harus mengadu ke mana. Mau lapor bagaimana dan solusinya seperti apa juga tidak tahu. Akhirnya tidak ada tindak lanjut,” katanya.
Kekhawatiran warga kini tidak hanya tertuju pada kondisi sungai. Mereka juga mulai mempertanyakan kualitas air sumur di kawasan utara pondok pesantren yang diduga ikut terdampak pencemaran.
Harapan warga sederhana. Mereka ingin sungai kembali berfungsi sebagaimana mestinya dan tidak lagi menjadi sumber gangguan lingkungan.
“Kami ingin sungai kembali jernih seperti dulu. Kalau bisa ada ikan lagi di sungai itu. Apalagi, di situ banyak wali santri, atau alumni yang datang ke Ponpes Darul Ulum dan melihat langsung kondisi sungai sekarang,” tuturnya.
Di sisi lain, persoalan limbah tahu juga memunculkan dilema bagi petani. Seorang warga Desa Sumbermulyo yang juga menjabat sebagai bayan desa mengungkapkan bahwa aliran sungai saat ini hampir sepenuhnya berasal dari limbah pabrik tahu.
“Kalau pagi, siang, malam, pada musim kemarau baunya sangat menyengat. Air di sungai itu hampir tidak ada selain air dari pabrik tahu,” ujarnya.
Ironisnya, aliran tersebut justru menjadi sumber utama pengairan sawah warga saat musim kemarau. Kondisi itu membuat petani tidak memiliki banyak pilihan.
“Jadi pengairan sawah itu mengandalkan limbah. Tapi baunya sangat menyengat dan mengganggu,” katanya.
Masalah lain muncul ketika sampah menyumbat aliran sungai. Warga harus turun langsung membersihkan berbagai jenis sampah agar air tetap dapat mengalir menuju area persawahan.
“Kalau tidak saya bersihkan, limbah tahu itu tidak mengalir. Kalau mampet biasanya dam dijebol. Kalau dam dijebol, saya dapat air dari mana untuk sawah,” ungkapnya.
Situasi tersebut menempatkan warga pada posisi yang sulit. Mereka menginginkan pencemaran sungai segera dihentikan, namun di saat yang sama kebutuhan air untuk pertanian tetap harus terpenuhi.
Karena itu, warga mendesak pemerintah mempercepat penyelesaian pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal. Mereka berharap limbah yang selama ini mengalir ke sungai dapat diolah terlebih dahulu sehingga tidak lagi mencemari lingkungan, sekaligus tetap bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
“Yang kami butuhkan solusi,” tegasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar