MATARAM, RadarBangsa.co.id – Kota Mataram kembali menegaskan identitasnya sebagai kota toleran melalui gelaran budaya dan spiritual Pawai Ogoh-ogoh, Rabu (18/3). Kegiatan ini menjadi simbol kuat harmoni di tengah keberagaman masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB).
Acara yang melibatkan ratusan peserta tersebut tidak hanya menjadi atraksi budaya, tetapi juga ruang perjumpaan nilai seni, tradisi, dan spiritualitas yang memperkuat kebhinekaan.
Pawai Ogoh-ogoh berlangsung meriah dengan partisipasi 105 kelompok peserta dari berbagai elemen masyarakat. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Hadir dalam kegiatan tersebut Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal, Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana, serta jajaran Forkopimda tingkat provinsi dan kota. Kehadiran para pimpinan daerah ini menjadi simbol sinergi dalam menjaga stabilitas sosial.
Prosesi pawai berjalan tertib dengan pengamanan ketat dari aparat. Masyarakat terlihat antusias menyaksikan parade ogoh-ogoh yang sarat nilai budaya dan pesan spiritual menjelang Hari Raya Nyepi.
Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai masyarakat NTB telah menunjukkan kedewasaan dalam menjaga kehidupan beragama.
“Saya melihat keseriusan dan kesiapan kegiatan ini. Ini bukti bahwa masyarakat NTB, khususnya Mataram, mampu menjaga toleransi dan kebersamaan dengan sangat baik,” ujarnya.
Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, menegaskan bahwa toleransi telah menjadi identitas kota. “Harmoni bukan lagi harapan, tetapi sudah menjadi karakter masyarakat Mataram,” katanya.
Ketua Panitia, Made Krisna Yuda Prasetya, juga mengapresiasi keterlibatan masyarakat. “Ini bukti kolaborasi dan gotong royong dalam menjaga nilai kebhinekaan,” ucapnya.
Kegiatan ini dinilai strategis dalam memperkuat citra NTB sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi. Di tengah meningkatnya isu intoleransi di berbagai wilayah, Mataram justru menunjukkan praktik nyata kehidupan harmonis lintas agama.
Selain itu, event budaya ini juga berdampak pada sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Kehadiran masyarakat dan wisatawan turut menggerakkan aktivitas UMKM di sekitar lokasi acara.
Melalui Pawai Ogoh-ogoh, Kota Mataram tidak sekadar merayakan tradisi, tetapi menegaskan komitmen menjaga kerukunan. “Perbedaan bukan penghalang, melainkan kekuatan untuk hidup bersama,” pungkas Made Krisna.
Penulis : Aini
Editor : Zainul Arifin


















Komentar