PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Musim panen duku di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, menjadi momen yang paling dinantikan para petani setiap tahun. Buah khas yang dikenal sebagai duku Rejoso itu bahkan tak perlu dijual ke pasar karena langsung diborong pembeli dari kebun.
Pemandangan tersebut terlihat di Dusun Petahunan, Desa Ketegan, Kecamatan Rejoso, Kamis (12/3/2026). Sejumlah petani tampak memanen buah duku yang tumbuh lebat di pohon-pohon tua yang telah berproduksi puluhan tahun.
Salah seorang petani duku, Abdul Karim, mengaku telah menanam pohon duku sejak sekitar tahun 1970. Saat itu, ia memiliki lebih dari 50 pohon yang menghasilkan buah setiap musim panen.
Namun kini jumlah pohon yang dimilikinya tinggal sekitar separuhnya. Seiring waktu, banyak pohon yang mati karena usia maupun faktor perawatan.
“Dulu pohonnya banyak, sampai lebih dari 50. Sekarang tinggal sekitar separuh karena banyak yang mati,” ujar Karim.
Menurut dia, satu pohon duku yang berukuran besar dan telah berusia belasan tahun mampu menghasilkan hingga satu kuintal buah. Namun secara rata-rata, setiap pohon dapat dipanen sekitar 60 hingga 70 kilogram.
Karim menjelaskan, harga jual duku Rejoso saat musim panen berkisar Rp27.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Menariknya, para petani tidak perlu repot menjual ke pasar karena sudah ada pembeli yang memborong langsung dari kebun.
“Biasanya langsung diborong pembeli. Jadi tidak sampai dijual ke pasar,” katanya.
Karim menambahkan, duku Rejoso memiliki karakteristik berbeda dibandingkan duku dari daerah lain, seperti duku Palembang. Buah ini dikenal memiliki rasa sangat manis, biji kecil, daging tebal, serta daya simpan yang lebih lama.
“Cita rasanya manis sekali, dagingnya tebal dan bijinya kecil. Itu yang membuat duku Rejoso banyak dicari,” ungkapnya.
Sementara itu, Camat Rejoso Arfian Fakhrudin Kurdiamsyah mengatakan hingga saat ini masih terdapat sekitar 1.000 pohon duku yang tersebar di beberapa desa di wilayahnya.
Ia menjelaskan, terdapat empat desa utama penghasil duku di Kecamatan Rejoso, yakni Desa Ketegan, Kawisrejo, Pandanrejo, dan Rejoso Kidul. Produksi terbanyak berasal dari Kawisrejo dan Pandanrejo, sementara panen lebih dulu biasanya terjadi di Desa Ketegan.
Meski jumlah pohon berkurang, komoditas duku tetap menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga setiap musim panen.
Pemerintah kecamatan juga pernah berupaya menambah populasi pohon melalui bantuan bibit dan program cangkok hasil kerja sama dengan Dinas Pertanian serta program CSR perusahaan.
“Beberapa kali sudah ada bantuan bibit, termasuk dari CSR perusahaan. Ada yang berhasil berkembang, ada juga yang tidak karena kembali pada perawatan petani,” jelas Arfian.
Arfian berharap masyarakat tetap menjaga keberadaan pohon duku agar komoditas ini tidak hilang dari wilayah Rejoso.
“Harapan kami pohon duku tetap dilestarikan. Selain meningkatkan ekonomi warga saat panen, duku Rejoso juga menjadi ikon buah khas Pasuruan,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar