Petani Tikung Laporkan Developer TKB ke Polres Lamongan, Pembayaran Tanah Sawah Diduga Tak Tuntas

Sabtu, 31 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Para pelapor kasus dugaan penipuan jual beli tanah sawah Tikung menunggu pemeriksaan di Polres Lamongan, Jumat (30/1/2026). (Foto Dok Ho/nul-RadarBangsa.co.id)

Para pelapor kasus dugaan penipuan jual beli tanah sawah Tikung menunggu pemeriksaan di Polres Lamongan, Jumat (30/1/2026). (Foto Dok Ho/nul-RadarBangsa.co.id)

LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Pembayaran jual beli tanah sawah milik petani di Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, diduga tak kunjung dilunasi. Tiga warga melaporkan seorang pengusaha developer Perumahan Tikung Kota Baru (TKB) berinisial S (40) ke Polres Lamongan atas dugaan penipuan atau penggelapan.

 

Laporan pertama disampaikan Darsono (70), warga Desa Pengumbulanadi. Ia mengaku menjual tanah sawah seluas 1.216 meter persegi kepada terlapor dengan harga Rp200 ribu per meter. Nilai transaksi mencapai Rp243,2 juta, namun Darsono menyebut baru menerima Rp210 juta, sehingga masih terdapat kekurangan Rp33 juta.

 

“Karena pelunasan tidak segera diselesaikan dan hanya janji-janji saja, maka saya melaporkan perkara ini ke Polres Lamongan,” ujar Darsono di ruang tunggu Satreskrim Polres Lamongan, Jumat (30/1/2026) malam. Laporannya tercatat dengan nomor STTLPM/52/I/2026/SPKT/Polres Lamongan/Polda Jawa Timur.

 

Pelapor kedua, Kasinu (56), warga Desa Guminingrejo, juga melaporkan kasus serupa. Ia menjual tanah seluas 1.676 meter persegi dengan nilai Rp335,2 juta. Namun, pembayaran yang diterima baru Rp130 juta, sehingga masih tersisa Rp205,2 juta.

 

“Sebelumnya dia berjanji melunasi dalam satu tahun. Tapi sudah hampir dua tahun tidak ada kejelasan,” kata Kasinu. Laporannya terdaftar dengan nomor STTLPM/53/I/2026/SPKT/Polres Lamongan/Polda Jawa Timur.

 

Laporan ketiga diajukan Muksri (57), warga Desa Pengumbulandi. Ia menjual dua bidang tanah dengan total luas 2.592 meter persegi senilai Rp518,4 juta. Hingga kini, Muksri mengaku baru menerima Rp155 juta, menyisakan kekurangan Rp363,4 juta. Transaksi tersebut dilakukan pada 6 April 2014.

 

Kasus ini menyoroti persoalan kepastian hukum dalam transaksi jual beli tanah, khususnya yang melibatkan pengembangan perumahan. Ketiga pelapor berharap kepolisian segera menindaklanjuti laporan mereka secara profesional dan adil. “Kami hanya ingin hak kami dipenuhi sesuai perjanjian dan hukum yang berlaku,” ujar salah satu pelapor menutup pernyataannya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Sterilisasi Stadion Surajaya, Polres Lamongan Temukan 14 Orang Konsumsi Miras
Beras SPHP Dibeli Rp1.750, Dijual Rp12.200 per Kg, 4 Tersangka Ditangkap
Polisi Ungkap Pencurian Dana BNI Rp42,05 Juta di Ukui
Truk Hilang di Paciran, Terduga Pelaku Diamankan Polisi di Blora
Cekcok Soal Cincin Tunangan Berujung Penusukan di Lamongan
Polres Lamongan Ungkap Peredaran Sabu di Tikung, Dua Tersangka Diamankan
Pengoplosan LPG Subsidi di Pasuruan Terbongkar, 8 Orang Jadi Tersangka
Pengeroyokan Remaja di Lamongan, 5 Terduga Pelaku Diamankan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:03

Beras SPHP Dibeli Rp1.750, Dijual Rp12.200 per Kg, 4 Tersangka Ditangkap

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:44

Polisi Ungkap Pencurian Dana BNI Rp42,05 Juta di Ukui

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:27

Truk Hilang di Paciran, Terduga Pelaku Diamankan Polisi di Blora

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:28

Cekcok Soal Cincin Tunangan Berujung Penusukan di Lamongan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:39

Polres Lamongan Ungkap Peredaran Sabu di Tikung, Dua Tersangka Diamankan

Berita Terbaru