SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Peran perempuan dalam keluarga dinilai menjadi kunci menentukan kualitas generasi masa depan. Tanpa penguatan literasi di tingkat rumah tangga, target Indonesia Emas 2045 berisiko sulit tercapai.
Hal itu ditegaskan politisi muda Lia Istifhama saat menjadi narasumber podcast di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Rabu (29/4). Ia menyebut perempuan bukan hanya pengasuh, tetapi penentu arah peradaban bangsa.
“Perempuan adalah penyangga peradaban. Dari rumah, mereka membentuk cara berpikir dan karakter generasi,” ujarnya.
Menurut Lia, persoalan rendahnya minat baca di Indonesia menjadi tantangan serius yang harus segera diatasi. Di tengah bonus demografi, kualitas sumber daya manusia dinilai sangat bergantung pada budaya literasi yang dibangun sejak dini.
Ia menekankan bahwa keluarga adalah titik awal pembentukan kebiasaan membaca. Buku, kata dia, tidak sekadar sumber informasi, tetapi juga alat membentuk pola pikir kritis dan cara pandang hidup.
“Pena lebih tajam dari pedang. Buku membentuk cara berpikir, lalu memengaruhi tindakan dalam kehidupan nyata,” tegasnya.
Dari sisi kebijakan, penguatan literasi dinilai mendesak karena berkaitan langsung dengan kualitas pendidikan, daya saing tenaga kerja, hingga ketahanan sosial masyarakat. Tanpa intervensi serius, Indonesia berisiko tertinggal dalam kompetisi global.
Lia juga menyoroti pentingnya pemberdayaan perempuan di era digital. Menurutnya, perempuan harus memiliki akses terhadap pengetahuan dan ruang aktualisasi agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Perempuan harus dibekali literasi yang kuat, agar tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu memimpin perubahan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur, Tiat S. Suwardi, menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi pembangunan manusia jangka panjang.
“Literasi adalah ujung tombak menuju Indonesia Emas 2045. Dan ibu adalah pintu pertama budaya membaca dalam keluarga,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebiasaan membaca bahkan bisa ditanamkan sejak dini, termasuk saat anak masih dalam kandungan. Hal ini menunjukkan betapa strategisnya peran perempuan dalam membentuk generasi unggul.
Dengan penguatan literasi berbasis keluarga, pemerintah berharap lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan daya saing global.
“Kalau literasi kuat, masa depan bangsa juga akan kuat,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar