BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id — Ribuan warga dan wisatawan memadati Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi, Sabtu malam (18/4/2026), untuk menikmati Festival Janda Reni yang masuk kalender Banyuwangi Attraction. Event ini tak sekadar pesta kuliner, tetapi strategi menggerakkan ekonomi desa, melestarikan budaya Osing, dan memperkuat daya tarik wisata daerah.
Festival tersebut menampilkan dua kuliner khas yang telah diwariskan turun-temurun, yakni Sego Lemeng dan Kopi Uthek. Keduanya dikenal sebagai identitas masyarakat Osing yang selama ini hidup di kawasan lereng Gunung Ijen.
Sejak sore hari, jalan desa dipenuhi pengunjung. Aroma nasi bakar dari bambu dan sajian kopi tradisional menciptakan suasana khas pedesaan yang menjadi magnet bagi pelancong dari berbagai daerah.
Dampaknya langsung dirasakan warga. Kehadiran ribuan pengunjung mendorong peningkatan pendapatan pedagang kecil, pelaku UMKM, jasa parkir, hingga sektor homestay dan transportasi lokal. Event berbasis budaya seperti ini dinilai efektif menyebarkan manfaat ekonomi secara merata.
Tokoh Adat Desa Banjar, Lukman Hakim, menjelaskan nama “Janda Reni” atau “Rondo Reni” memiliki makna yang berkaitan dengan tradisi pertanian masyarakat. Menurutnya, istilah itu merujuk pada proses pemisahan bunga aren.
“Reni yang dimaksud di sini adalah nama dari bunga aren. Lalu Janda atau Rondo tersebut merupakan proses megat atau pemisahan. Jadi Janda Reni atau Rondo Reni ini merupakan proses pemisahan bunga aren,” ujar Lukman.
Kepala Desa Banjar, Sunandi, menegaskan kuliner yang ditampilkan bukan sekadar makanan, melainkan sarat filosofi kehidupan. Menurutnya, warisan kuliner lokal harus terus dirawat agar tidak tergerus zaman.
“Kopi Uthek yang bersanding dengan gula aren mengandung makna pahit manisnya kehidupan, sementara Sego Lemeng adalah makanan yang menjaga perut tetap kenyang,” kata Sunandi.
Sego Lemeng dibuat melalui proses panjang. Nasi yang telah dibumbui dicampur daging ayam atau ikan tuna cincang, lalu dibungkus daun pisang dan dimasukkan ke bambu muda.
Setelah itu, bambu dibakar menggunakan kayu bakar selama kurang lebih empat jam. Teknik tradisional ini menghasilkan aroma asap yang khas dan tekstur nasi yang padat serta gurih.
Menurut cerita warga, makanan ini dahulu menjadi bekal para pejuang pada masa penjajahan. Sego Lemeng juga sering dibawa warga saat menempuh perjalanan panjang menuju Kawah Ijen.
Sementara itu, Kopi Uthek memiliki cara minum yang unik. Penikmat menggigit gula aren terlebih dahulu, lalu menyeruput kopi hitam panas hingga terdengar bunyi “uthek” dari benturan gula di gigi.
Sensasi pahit kopi dan manis gula aren menciptakan pengalaman rasa yang berbeda. Keunikan inilah yang membuat banyak wisatawan penasaran dan ingin mencobanya langsung di tempat asalnya.
Arbain, wisatawan asal Banyuwangi Kota, mengaku terkesan dengan suasana festival dan keramahan warga. Ia menilai kegiatan semacam ini penting untuk menjaga budaya lokal tetap dikenal generasi muda.
“Saya merasa sangat beruntung bisa datang di acara ini. Orang-orangnya sangat ramah, apalagi kuliner khas di sini masih terus dilestarikan, termasuk adat dan keseniannya,” pungkas Arbain.
Festival Janda Reni juga dimeriahkan pertunjukan seni “Gontang Kawean” dari Kampus ISI Surakarta kelas Banyuwangi bersama Sanggar Sayu Wiwit. Perpaduan kuliner, seni, dan budaya ini menunjukkan bahwa desa dapat tumbuh melalui pariwisata berbasis kearifan lokal.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar