SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menilai terjadi pergeseran signifikan dalam pola pikir Generasi Z (Gen Z). Ia menyebut generasi muda saat ini semakin kritis, humanis, dan tidak lagi menjadikan materi maupun status sosial sebagai tolok ukur utama dalam menilai seseorang.
Pandangan tersebut disampaikan Lia saat menerima audiensi Aliansi BEM Pasuruan Raya di Kantor Perwakilan DPD RI Surabaya, Selasa (3/3/2026). Dialog tersebut membahas berbagai isu sosial, pendidikan, dan kepemudaan yang berkembang di tengah masyarakat.
“Turun langsung dan berdiskusi dengan mahasiswa selalu memberi energi positif bagi saya. Saya melihat Gen Z sekarang punya keberanian menyampaikan pendapat, tetapi tetap mengedepankan etika dan empati. Ini kombinasi yang sangat baik untuk masa depan bangsa,” ujar Lia.
Ia menjelaskan, dibandingkan generasi sebelumnya, terdapat perubahan cara pandang yang cukup terasa. Jika dahulu penghormatan kerap dilekatkan pada kekayaan, jabatan, atau kekuatan materiil, kini ukuran tersebut mulai bergeser.
“Saya pernah melalui fase ketika orang dihormati karena materi atau kekuasaan yang dimiliki. Bahkan ada peringatan dalam hadis tentang golongan yang taat kepada pemimpin bukan karena ketulusan, melainkan karena keuntungan yang diperoleh. Nilai seperti itu perlahan mulai terkikis,” jelasnya.
Menurut Lia, Gen Z lebih menghargai integritas, konsistensi sikap, serta kesungguhan seseorang dalam menjalani kehidupan. Transparansi di era digital juga membuat publik semakin mudah menilai keaslian karakter seseorang.
“Di era media sosial, publik bisa melihat keseharian seseorang secara lebih terbuka. Tidak cukup hanya menampilkan simbol kemewahan atau atribut branded. Ketulusan, kerja nyata, dan keberpihakan pada masyarakat lebih mudah terdeteksi,” tegasnya.
Ia menilai perubahan tersebut merupakan modal sosial yang sangat penting dalam membangun kepemimpinan masa depan. Generasi muda yang kritis namun tetap humanis diyakini mampu melahirkan pemimpin yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki empati sosial tinggi.
“Harapan saya, karakter kritis dan humanis ini terus dijaga. Jangan sampai idealisme luntur karena pragmatisme. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang kuat secara moral dan dekat dengan rakyat,” pungkasnya.
Sementara itu, Koordinator Aliansi BEM Pasuruan Raya, Ubaidillah, menyampaikan apresiasi atas keterbukaan Lia dalam menerima aspirasi mahasiswa.
“Kami merasa dihargai dan didengarkan. Ning Lia memahami cara berpikir Gen Z dan tidak berjarak dengan kami. Itu yang membuat dialog berjalan terbuka dan konstruktif,” ujarnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar