Senator Cantik Anggota DPD RI Lia Istifhama Tekankan Layanan Paru dan Pencegahan TBC di Surabaya

Minggu, 25 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Senator Lia Istifhama berdialog dengan Direktur RSUD Husada Prima Surabaya, Selasa (24/1/2026). Foto: Dok Ho/Nul-RadarBangsa.co.id

Senator Lia Istifhama berdialog dengan Direktur RSUD Husada Prima Surabaya, Selasa (24/1/2026). Foto: Dok Ho/Nul-RadarBangsa.co.id

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Lia Istifhama, menegaskan pentingnya penguatan layanan kesehatan paru saat mengunjungi RSUD Husada Prima Surabaya, Selasa (24/1/2026). Kunjungan ini menyoroti peran strategis rumah sakit paru sebagai garda terdepan dalam pengendalian tuberkulosis (TBC), penyakit menular yang masih menjadi tantangan serius di Indonesia.

Senator yang akrab disapa Ning Lia disambut langsung oleh Direktur RSUD Husada Prima, dr. Eka Basuki Rachmad. Dalam dialog terbuka, keduanya membahas strategi penguatan layanan paru mulai dari deteksi dini, edukasi pasien, hingga keberlanjutan pengobatan TBC.

Menurut dr. Eka Basuki Rachmad, rumah sakit paru memiliki tanggung jawab besar tidak hanya pada pelayanan medis, tetapi juga edukasi dan pendampingan pasien. Ia menekankan bahwa keberhasilan pengendalian TBC sangat tergantung pada kepatuhan pasien menjalani pengobatan dan kesadaran masyarakat akan risiko penularan.

“RSUD Husada Prima berupaya membangun layanan berbasis empati. Pasien harus merasa aman, diterima, dan tidak distigmatisasi. Dengan pendekatan humanis, pasien berani memeriksakan diri lebih awal dan menyelesaikan pengobatan hingga tuntas,” ujar dr. Eka Basuki.

Lia Istifhama menyampaikan apresiasi atas dedikasi RSUD Husada Prima dalam menangani penyakit paru menular. Ia menekankan bahwa keberhasilan layanan kesehatan tercermin dari kesungguhan seluruh pemangku kepentingan dalam melindungi masyarakat dari ancaman penyakit yang berdampak luas secara sosial dan ekonomi.

Data nasional menunjukkan Indonesia masih menghadapi beban TBC yang tinggi, dengan lebih dari satu juta kasus baru pada 2023, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Kondisi ini menuntut penguatan pengendalian penyakit menular secara berkelanjutan.

“Tuberkulosis bukan sekadar persoalan medis. Penularannya sering tidak disadari, dan jika tidak ditangani serius, dampaknya bisa melemahkan kualitas hidup pasien, keluarga, bahkan lingkungan sekitarnya,” ujar Lia. Ia menambahkan bahwa rumah sakit paru seperti RSUD Husada Prima memiliki peran vital sebagai pusat edukasi masyarakat.

Senator dari Jawa Timur itu menekankan pentingnya membangun kesadaran publik untuk menghapus stigma terhadap penderita TBC. Dengan lingkungan yang lebih suportif, pasien diharapkan tidak ragu menjalani pengobatan hingga sembuh, sehingga target eliminasi TBC nasional dapat tercapai.

Kunjungan ini merupakan bagian dari fungsi pengawasan Komite III DPD RI terhadap implementasi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Peninjauan lapangan memberikan gambaran faktual tentang kesiapan layanan kesehatan dan efektivitas program pengendalian penyakit menular.

“Pengendalian TBC membutuhkan sinergi solid antara pemerintah pusat, daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Penyakit ini terlalu berbahaya jika ditangani secara parsial. Semua pihak harus bergerak bersama,” tegas Lia. Masukan dari tenaga medis, manajemen rumah sakit, dan pemerintah daerah menjadi fondasi penting dalam merumuskan kebijakan kesehatan yang relevan dan berdampak nyata.

Selain isu TBC, Komite III juga meninjau pengendalian konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan dan transformasi pendidikan kesehatan, yang saling berkaitan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Kunjungan ini menegaskan komitmen DPD RI untuk hadir di tengah masyarakat, memastikan kebijakan kesehatan tidak berhenti pada regulasi, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya. “Rumah sakit paru seperti RSUD Husada Prima menjadi benteng strategis dalam melindungi generasi bangsa dari ancaman penyakit menular berbahaya,” pungkas Lia.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi
Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter
Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit
Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan
Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember
Hari Jadi Pasuruan ke-1097, RSUD Bangil Gelar Baksos Medis Gratis untuk Puluhan Warga
Tiga Kali Raih Diamond Status, RSUD HMR Mataram Selamatkan 234 Pasien Stroke
95 Lukisan SBY Dipamerkan di Surabaya, Khofifah Soroti Karya tentang Tsunami Aceh

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 20:40

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi

Rabu, 16 September 2026 - 20:16

Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter

Rabu, 16 September 2026 - 20:05

Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit

Rabu, 16 September 2026 - 19:58

Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan

Rabu, 16 September 2026 - 18:45

Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember

Berita Terbaru