PROBOLINGGO, RadarBangsa.co.id — Suasana akademik di Kampus Universitas Nurul Jadid (Unuja) Paiton, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (18/10/2025), berlangsung khidmat dan sarat gagasan. Dalam konferensi internasional bertajuk “The Future is Now: Reimagining Knowledge, Power, and Justice in a Changing World”, perhatian peserta tertuju pada kehadiran anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Dr. Lia Istifhama.
Senator asal Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia itu tampil sebagai salah satu pembicara bersama narasumber dari berbagai negara. Dalam forum ilmiah tersebut, ia memaparkan pandangan tentang arah kebijakan global Indonesia dan peran kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam membangun posisi strategis bangsa di dunia internasional.
“Kita harus akui, dalam satu tahun masa pemerintahannya, Presiden Prabowo berhasil menempatkan Indonesia sebagai negara yang strategis dan diperhitungkan secara global,” ujar Lia di hadapan para akademisi dan mahasiswa. “Beliau mampu membaca arah geopolitik dunia dengan sangat tajam dan melakukan langkah-langkah konkret yang berdampak pada stabilitas nasional maupun internasional.”
Ia kemudian mengaitkan keberhasilan tersebut dengan teori ekonomi global Big Push Theory dari Jeffrey Sachs, yang menjelaskan bahwa negara berpendapatan menengah dapat melesat menjadi kekuatan dunia melalui investasi besar-besaran di sektor strategis. “Kalau negara mampu menguasai sektor penting seperti pangan, energi, atau teknologi, maka secara otomatis akan memiliki pengaruh besar terhadap negara lain yang bergantung pada sektor tersebut,” jelas Lia.
“Melalui kebijakan investasi pangan, hilirisasi sumber daya alam, dan kerja sama bilateral yang terarah, Presiden Prabowo telah mulai membangun fondasi menuju kemandirian dan kedaulatan ekonomi nasional,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Lia juga menyinggung keberanian Presiden Prabowo dalam menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina di forum internasional. Ia menyebut langkah tersebut sebagai bukti nyata bahwa Indonesia kini memiliki posisi tawar tinggi di mata dunia.
“Kalau Indonesia tidak kuat secara ekonomi dan diplomasi, tentu tidak akan mudah bagi presiden untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina secara terbuka,” ujarnya. “Namun, beliau melakukannya dengan penuh keyakinan dan pada momentum yang tepat. Itu menunjukkan bahwa Bapak Presiden sangat cerdas, berani, dan memahami psikologi politik global.”
Menurut Lia, keberanian itu dibarengi kemampuan komunikasi antarbangsa yang luar biasa. “Beliau bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu menyampaikan pesan yang diterima dengan hormat oleh pemimpin-pemimpin dunia. Komunikasi Bapak Presiden tidak hanya berhasil di dalam negeri, tapi juga di dunia internasional,” tegasnya.
Senator yang dikenal dekat dengan kalangan santri itu juga mengulas strategi kerja sama ekonomi Indonesia dengan Uni Eropa melalui perjanjian *Comprehensive Economic Partnership Agreement* (EU-CEPA). Ia menilai kebijakan itu menjadi langkah cerdas yang membuka peluang besar, tidak hanya di sektor perdagangan, tapi juga di pasar tenaga kerja internasional.
“Kesepakatan dagang dengan Eropa itu penting. Meskipun jarak kita jauh, Presiden Prabowo melihat potensi besar di sana. Beliau tidak berhenti pada pangsa pasar pangan saja, tetapi juga pasar dunia kerja,” paparnya. “Sumber daya manusia Indonesia punya keunggulan tersendiri. Tenaga kerja kita dikenal rajin, disiplin, memiliki skill bagus, serta kehangatan dalam berinteraksi. Ini menjadi nilai tambah yang sangat disukai masyarakat dunia.”
Ning Lia juga menyinggung soal pandangan Prabowo terhadap pentingnya pemberdayaan tenaga kerja migran. “Beliau selalu menekankan bahwa pekerja migran adalah pahlawan devisa. Karena itu, negara harus hadir untuk melindungi mereka dan memastikan bahwa kerja mereka di luar negeri adalah bentuk kontribusi nyata untuk bangsa,” katanya.
Selain membahas isu global, Lia juga memberikan apresiasi terhadap kebijakan domestik Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia menilai program *Makan Bergizi Gratis* (MBG) merupakan terobosan penting untuk menyiapkan generasi unggul Indonesia.
“Program MBG ini bukan sekadar bantuan makan, tapi investasi jangka panjang pada sumber daya manusia. Gizi yang baik akan melahirkan generasi cerdas, sehat, dan berdaya saing tinggi. Ini kebijakan yang berpihak pada masa depan bangsa,” tuturnya.
Lia menutup pemaparannya dengan menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga arah pembangunan bangsa. “Kita semua harus ikut serta. Pemerintah sudah membuka jalan, tinggal bagaimana kita bersama memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar membawa manfaat bagi rakyat dan memperkuat posisi Indonesia di dunia,” pungkasnya.
Lainnya:
- DPRD Musi Rawas Gaspol 4 Raperda Krusial Dibahas, Dari Tata Ruang hingga Ketertiban Daerah
- Banjir Sidoarjo Tak Kunjung Usai, Pemkab Gandeng BNPB Gaspol Rp209 M
- Sidoarjo Hapus Denda Pajak 2026, Warga Dikejar Deadline Oktober
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








