Sungai Dangkal dan Air Menghitam, Sidoarjo Bergerak

Senin, 21 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana meninjau normalisasi Saluran Sekunder Kedunguling di Desa Durungbanjar, Senin (21/9/2026). (Dok. Ho/RadarBangsa.co.id)

Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana meninjau normalisasi Saluran Sekunder Kedunguling di Desa Durungbanjar, Senin (21/9/2026). (Dok. Ho/RadarBangsa.co.id)

SIDOARJO, RadarBangsa.co.id — Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mempercepat normalisasi sungai dan saluran air menjelang musim hujan. Salah satu titik yang dikerjakan berada di Saluran Sekunder Kedunguling, Desa Durungbanjar, Kecamatan Candi, dengan pengerukan sepanjang sekitar 1,5 kilometer menggunakan dua ekskavator.

Pengerjaan pada Senin (21/9/2026) dilakukan untuk mengangkat sedimentasi yang menyebabkan saluran mengalami pendangkalan dan berkurangnya kapasitas aliran air.

Normalisasi Kedunguling merupakan bagian dari pekerjaan di delapan titik sungai dan saluran yang tersebar di Kecamatan Candi dan Tanggulangin. Pemkab Sidoarjo menargetkan aliran air kembali lebih lancar sehingga risiko luapan saat curah hujan meningkat dapat ditekan.

Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana meninjau langsung pengerjaan di Desa Durungbanjar. Ia mengatakan pendangkalan di lokasi tersebut membuat normalisasi perlu segera dilakukan.

“Hari ini saya ada di Kecamatan Candi, Desa Durungbanjar. Sungai di desa ini memang terjadi pendangkalan. Hari ini kita keruk, kita normalisasi,” katanya.

Mimik juga memastikan pengawasan terhadap kondisi sungai akan dilakukan menjelang musim hujan. Ia menyatakan akan turun langsung memantau sejumlah sungai di wilayah Sidoarjo.

“Menghadapi musim hujan ini saya akan selalu sidak. Mengawasi langsung sungai-sungai di Kabupaten Sidoarjo. Saya ingin pengerjaan normalisasi sungai dilakukan dengan baik sebagai upaya menanggulangi banjir,” ujarnya.

Namun, persoalan di Kedunguling tidak hanya berkaitan dengan sedimentasi. Mimik turut menyoroti kondisi air saluran yang tampak tercemar.

Ia meminta pemerintah desa dan Kecamatan Candi menindaklanjuti dugaan pencemaran tersebut, termasuk memberikan teguran kepada pihak usaha yang diduga berkaitan dengan kondisi saluran.

Mimik juga mengingatkan pelaku industri agar tidak membuang limbah ke sungai. Menurut dia, pengelolaan limbah harus dilakukan melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL) agar tidak mencemari saluran dan mengganggu lingkungan warga.

“IPAL penting dimiliki industri usaha. Kalau tidak, jadinya seperti ini, meresahkan warga. Sungainya jadi hitam kayak gini. Nanti coba kita cek langsung,” tegasnya.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air Sidoarjo Suprayitno mengatakan dua ekskavator dikerahkan untuk mengerjakan normalisasi Saluran Sekunder Kedunguling di Desa Durungbanjar.

Selain Kedunguling, normalisasi juga menyasar sejumlah titik lain. Di Kecamatan Candi, pekerjaan dilakukan di Saluran Afvour Kedunguling Desa Kedungpeluk, Saluran Afvour Link II Desa Kedungkendo, serta Saluran Afvour Link III Desa Klurak.

Sementara di Kecamatan Tanggulangin, pengerjaan mencakup Saluran Gedangrowo Desa Kedungbanteng, Saluran Sekunder Gedangrowo Desa Kalidawir, Saluran Sekunder Gedangrowo Desa Ngaban, serta Afvoer Ketapang Desa Ketapang.

Percepatan pengerukan tersebut merupakan kelanjutan dari langkah Pemkab Sidoarjo yang sejak musim kemarau telah mengintensifkan pembersihan sungai dan afvoer. Kondisi debit air yang lebih rendah selama kemarau dinilai memudahkan pengangkatan sedimentasi, sampah, serta tumbuhan liar yang menghambat aliran.

Sebelumnya, pada 16 September 2026, Bupati Sidoarjo juga melakukan sidak normalisasi Sungai Gedangrowo di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin. Dalam sidak tersebut, lima alat berat diminta segera diturunkan untuk mempercepat normalisasi sebelum musim hujan.

Pemkab Sidoarjo juga telah membahas persoalan banjir bersama kepala desa dari wilayah Candi dan Tanggulangin pada awal September. Normalisasi sungai dan saluran air menjadi salah satu persoalan infrastruktur yang dibahas dalam koordinasi tersebut.

Dengan pengerjaan yang kini menyasar sejumlah titik, upaya menghadapi musim hujan di Sidoarjo tidak hanya berkaitan dengan pengerukan sungai. Kondisi sedimentasi, sampah, tumbuhan liar hingga dugaan pencemaran limbah turut menjadi persoalan yang perlu ditangani agar fungsi saluran air tetap berjalan ketika hujan turun.

Penulis : Tom

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

200+ Perusahaan Beroperasi di Tambaksawah, Pemkab Sidoarjo Dekatkan Layanan Pajak
Kendal Masuk Lima Besar Nasional, Raih Terbaik I PPD 2026
APBD 2027 dan Pariwisata 2040 Jadi Agenda Paripurna DPRD Kabupaten Blitar
Pompa Sidokare Naik Jadi 1.200 Liter per Detik, Sidoarjo Kejar Kesiapan Musim Hujan
Dari Rp86,4 Miliar Pangan hingga 4.500 PPPK, Ini Titik Panas RAPBD Bondowoso 2027
Bapenda Online Banyuwangi Buka Layanan Pajak 24 Jam, Anggaran Bisa Hemat Rp900 Juta
24 Dokter Hewan FIKKIA Unair Banyuwangi Dilantik, Disiapkan Perkuat Keamanan Pangan dan Peternakan
KAI Logistik Uji Coba Kereta Angkut Hasil Bumi Banyuwangi-Jakarta

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 20:27

200+ Perusahaan Beroperasi di Tambaksawah, Pemkab Sidoarjo Dekatkan Layanan Pajak

Rabu, 30 September 2026 - 19:20

Kendal Masuk Lima Besar Nasional, Raih Terbaik I PPD 2026

Rabu, 30 September 2026 - 08:42

APBD 2027 dan Pariwisata 2040 Jadi Agenda Paripurna DPRD Kabupaten Blitar

Rabu, 30 September 2026 - 08:29

Pompa Sidokare Naik Jadi 1.200 Liter per Detik, Sidoarjo Kejar Kesiapan Musim Hujan

Selasa, 29 September 2026 - 14:14

Dari Rp86,4 Miliar Pangan hingga 4.500 PPPK, Ini Titik Panas RAPBD Bondowoso 2027

Berita Terbaru