JOMBANG, RadarBangsa.co.id – Fatayat NU memang tidak memiliki hak suara struktural dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), tetapi peran perempuan NU dinilai tetap penting dalam menentukan arah organisasi lima tahun ke depan.
Wakil Ketua PW Fatayat NU Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, mengatakan hak suara dalam Muktamar berada di tangan muktamirin dari struktur NU yang memenuhi ketentuan dan telah terverifikasi sebagai peserta.
“Kalau bicara Banom NU seperti Fatayat, positioning-nya adalah sebagai peninjau atau observer, bukan peserta tetap yang memiliki hak suara struktural. Jadi konteksnya harus sesuai aturan,” kata Lia.
Menurut Lia, tidak adanya hak voting tidak berarti perempuan NU kehilangan ruang untuk memengaruhi arah organisasi. Ia menilai peran perempuan berkaitan erat dengan keberlangsungan generasi Nahdliyin, terutama melalui pendidikan dalam keluarga.
“Keberlangsungan generasi Nahdliyin salah satunya terletak pada pola didikan kaum perempuan NU. Kultur Nahdliyin yang sarat religi, Aswaja dan kearifan lokal sebagai identitas Islam Nusantara harus terus dibumikan, dilestarikan dan dijaga,” ujarnya.
Karena itu, Lia mendorong Muslimat, Fatayat hingga IPPNU untuk terus menghadirkan gagasan dan kader perempuan di ruang-ruang strategis publik.
“Ayo kita berperan, jangan sampai baperan,” tegasnya.
Jalan Pulang NU Harus Menyentuh Jamaah
Lia juga menilai gagasan “Jalan Pulang NU ke Jamaah” perlu diterjemahkan dalam kerja nyata yang menyentuh persoalan sehari-hari masyarakat.
Menurutnya, kekuatan NU tidak semata berada dalam dinamika elite organisasi, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan solusi bagi jamaah di tingkat akar rumput.
Di Jawa Timur, Fatayat telah menjalankan sejumlah program yang menyentuh masyarakat, antara lain forum daiyah dan Desa Sahabat.
Jejaring pemberdayaan perempuan NU juga memiliki program Mustika Darling untuk kesadaran lingkungan, Mustika Mesem untuk pengentasan kemiskinan ekstrem, serta Baznas Microfinance Majelis Taklim (BMMT) untuk memperkuat akses pembiayaan mikro bagi perempuan.
“Ini bentuk nyata implementasi jalan pulang NU ke jamaah. Secara kontekstual, NU harus hadir dalam daily life masyarakat sebagai benevolent society, masyarakat kebajikan,” jelasnya.
Ibu Jadi Benteng Anak di Era AI
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau AI juga menjadi tantangan bagi keluarga Nahdliyin. Lia menilai perempuan, khususnya ibu, memiliki posisi strategis dalam mendampingi anak menghadapi perubahan tersebut.
“Anak-anak harus tumbuh melek digital, alias tidak terpental, tetapi juga tidak terjebak menjadi objek yang dimanfaatkan oleh produk-produk digital,” katanya.
Menurut Lia, pendidikan digital tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah. Orang tua perlu tetap hadir sebagai pengawas sekaligus sahabat bagi anak, termasuk untuk mencegah mereka terjerat judi online dan berbagai dampak negatif digitalisasi.
“Peran orang tua itu terus melekat dalam kehidupan anak. Tantangannya adalah bagaimana keluarga tetap menjaga rel kehidupan anak-anaknya di tengah perkembangan digital yang sangat revolusioner,” ujarnya.
Perkuat Ekonomi Perempuan Nahdliyin
Di sektor ekonomi, Lia menilai penguatan kapasitas perempuan perlu menjadi bagian dari strategi pemberdayaan jamaah.
Salah satu program yang dinilainya potensial ialah BMMT. Program tersebut memberikan pembiayaan modal usaha tanpa bunga melalui skema qardhul hasan, dengan nominal hingga Rp3 juta per penerima.
Sasarannya adalah pelaku usaha mikro, terutama ibu-ibu dan jamaah perempuan yang aktif di lingkungan majelis taklim.
Menurut Lia, pemberdayaan berbasis komunitas tidak hanya membuka akses permodalan, tetapi juga dapat mendorong kemandirian ekonomi perempuan.
Ia berharap sinergi antara Banom NU, pemerintah, Baznas dan berbagai pihak terus diperkuat agar program pemberdayaan perempuan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Jangan sampai program pemberdayaan perempuan berjalan sendiri-sendiri atau terjebak ego sektoral antar-Banom. Yang harus diperkuat adalah kolaborasi dan sinergi,” katanya.
Soal Caketum PBNU, Ning Lia Pilih Tak Berpihak
Terkait sejumlah nama yang muncul dalam bursa Ketua Umum PBNU, Lia memilih tidak masuk dalam pusaran dukung-mendukung kandidat.
Ia menilai seluruh figur yang muncul memiliki kapasitas dan merupakan tokoh penting bangsa.
“Semua figur Caketum PBNU sangat kuat. Mereka semua tokoh bangsa, tokoh penting Indonesia. Kita harus memiliki satu keyakinan yang sama, bahwa siapapun Ketum PBNU ke depan, beliau adalah sosok yang tepat untuk menakhodai ormas terbesar Indonesia,” pungkasnya.
Bagi Lia, siapa pun yang terpilih nantinya harus mampu menjaga marwah NU sekaligus memastikan organisasi tetap dekat dengan jamaah.
Di tengah dinamika elite organisasi, ia menempatkan keluarga, pesantren, majelis taklim, kader perempuan dan jamaah sebagai bagian penting dari kekuatan NU di tingkat akar rumput.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar