Tradisi Unting-Unting Kangkung Banyuwangi Hidupkan Identitas Lokal

Jumat, 21 November 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto kegiatan lomba unting-unting kangkung di Kelurahan Penataban. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Foto kegiatan lomba unting-unting kangkung di Kelurahan Penataban. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id – Tradisi unting-unting, atau seni mengikat sayur kangkung, kembali menjadi perhatian publik setelah warga Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, menggelar lomba khusus sebagai upaya mempromosikan potensi lokal. Lomba tersebut digelar di Lapangan Penataban pada Rabu (19/11/2025) dan diikuti warga dari berbagai usia, mulai remaja hingga lansia.

Penataban selama ini dikenal sebagai sentra produksi kangkung di Banyuwangi. Aktivitas bertani menjadi mata pencaharian utama masyarakat, sementara tradisi unting-unting merupakan keterampilan turun-temurun yang masih dijaga hingga kini. Suasana lapangan tampak meriah saat penonton memberikan tepuk tangan dan sorakan untuk mendukung para peserta yang berlomba mengikat kangkung secepat dan serapi mungkin.

Lomba ini diinisiasi Asosiasi Lurah Indonesia (Asli) Banyuwangi sebagai bagian dari program menggali potensi unik masing-masing kelurahan. Ketua Asli Banyuwangi, Yuda Teguh Siswanto menegaskan, kegiatan tersebut bukan sekadar kompetisi, melainkan wadah mengenalkan proses panjang di balik komoditas yang sering dianggap sederhana.

“Kita sering hanya tahu beli kangkung seharga dua ribu rupiah. Padahal ada proses panjang, ada ketekunan yang harus dihargai,” ujarnya.

Salah satu peserta muda, Habibah (33), mengaku bangga bisa turut melestarikan tradisi lokal.
“Menyenangkan. Bukan hanya lomba, tapi cara mengenalkan budaya unting-unting ke masyarakat luar,” katanya.

Sementara itu, peserta tertua, Mbah Zaenab (71), menunjukkan kelincahan yang masih terjaga setelah puluhan tahun bekerja sebagai buruh unting-unting.
“Saya sudah mengikat kangkung sejak muda, mungkin lebih dari tiga puluh tahun. Senang masih ada yang menghargai pekerjaan ini,” tuturnya.

Lurah Penataban, Komariah menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari strategi memperkuat identitas daerah.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Penataban punya ikon yang tidak kalah menarik dengan daerah lain. Ini bentuk mengangkat kearifan lokal. Kami juga ingin agar anak-anak muda belajar agar keterampilan ini tetap hidup dan menjadi kebanggaan bersama,” jelasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Pernah Mendaki Ijen, Konjen AS Terpikat Wisata dan Kuliner Banyuwangi
Operasi Patuh Candi 2026, Polres Kendal Mengajak Warga Tertib Taat Bayar Pajak
496 Tahun Pamekasan, Komitmen Baru untuk Daerah yang Lebih Maju
Pemprov Jatim Raih Satya JKN Awards 2026, Khofifah Perkuat Perlindungan Pekerja
24 Tim dari 18 Kecamatan Ramaikan Bupati Cup Free Fire Pasuruan
Seni Budaya Kendal Tampil di Panggung Nasional TMII, Sedot Perhatian Pengunjung
SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan
Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 10:12

Pernah Mendaki Ijen, Konjen AS Terpikat Wisata dan Kuliner Banyuwangi

Kamis, 5 November 2026 - 22:03

Operasi Patuh Candi 2026, Polres Kendal Mengajak Warga Tertib Taat Bayar Pajak

Kamis, 5 November 2026 - 08:46

496 Tahun Pamekasan, Komitmen Baru untuk Daerah yang Lebih Maju

Senin, 2 November 2026 - 10:14

Pemprov Jatim Raih Satya JKN Awards 2026, Khofifah Perkuat Perlindungan Pekerja

Senin, 2 November 2026 - 06:05

24 Tim dari 18 Kecamatan Ramaikan Bupati Cup Free Fire Pasuruan

Berita Terbaru