LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Desa Jatirenggo di Kabupaten Lamongan kini menempatkan diri sebagai salah satu destinasi kuliner paling potensial di kawasan pesisir Bengawan Solo. Sebuah kawasan wisata baru di tepi sungai legendaris itu resmi dibuka dan langsung menarik perhatian karena menawarkan pengalaman bersantap yang memadukan kekayaan kuliner desa dengan panorama alam yang masih sangat alami.
Wisata Kuliner Pinggir Bengawan, yang baru saja diperkenalkan Pemerintah Desa Jatirenggo, hadir sebagai ruang kuliner sekaligus ruang ekonomi bagi warga. Lokasi yang berada tepat di tepi Bengawan Solo menjadikan suasana makan lebih hidup, dengan angin sungai dan pemandangan pedesaan yang menjadi nilai lebih.
Pengembangan kawasan ini merupakan hasil Program Desa Berdaya 2024 yang digagas Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Jawa Timur. Jatirenggo menjadi salah satu desa yang dipilih setelah mencatat Indeks Desa Membangun (IDM) tinggi, yang menunjukkan kesiapan desa dalam mengembangkan potensi lokal.
Kepala Desa Jatirenggo, Try Deasy Kusumaning Ayu, menyebut ikon utama yang diangkat adalah Udang Conggah, udang galah lokal yang sempat populer beberapa tahun lalu. “Kami hadirkan kembali Udang Conggah dengan cara yang lebih modern, agar bisa diterima semua kalangan. Tapi pilihan menunya tidak berhenti di situ,” ujarnya.
Selain Udang Conggah, banyak menu yang disajikan, seperti rica-rica belut, beragam ikan asap, ayam bakar, serta menu khas baru bernama Garang Asem Bambu. Menu ini menggunakan ayam kampung yang disajikan langsung dalam bambu sehingga memberikan aroma tradisional yang kuat. Harganya Rp 85 ribu untuk enam orang, sementara Udang Conggah dimulai dari Rp 50 ribu sesuai porsi.
Deasy menegaskan bahwa wisata ini tidak hanya menghadirkan cita rasa kuliner desa, tetapi juga konsep wisata berbasis alam. “Kami menjual pengalaman, bukan sekadar makanan. Pengunjung merasakan suasana tepi Bengawan yang asli dan tenang,” katanya.
Di sisi lain, program ini dirancang sebagai strategi pemberdayaan ekonomi. UMKM lokal ikut dilibatkan, termasuk perajin Batik Conggah dengan motif udang khas desa. Produk-produk ini dipamerkan sebagai bagian dari identitas Jatirenggo.
Kabid Usaha Ekonomi Pemberdayaan Masyarakat PMD Lamongan, Rahadi Puguh Raharjo, menyatakan bahwa pengembangan wisata kuliner ini menjadi contoh sektor unggulan desa yang dikelola BUMDes. “Potensinya besar. Udang Conggah bisa menjadi ikon kuliner Lamongan, bahkan masuk ke pasar ekspor jika dikembangkan konsisten,” ujarnya.
Setelah mencicipi langsung, ia mengaku terkesan. “Rasanya kuat dan khas. Udang Conggah punya karakter yang berbeda. Menu lain seperti rica-rica belut dan ayam bambu juga sangat layak dijadikan unggulan,” tutupnya.
Lainnya:
- Tekan Stunting, Bangkalan Genjot Tanam Padi Biofortifikasi Kaya Zat Besi
- May Day 2026: Saat Buruh Masih Rentan, BPJS Ketenagakerjaan Cairkan Santunan Rp744 Juta di Lamongan
- Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








