140 Peserta Ikuti Musabaqah Kaligrafi Pegon, Lamongan Rawat Warisan Santri

Kamis, 22 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Sebanyak 140 peserta mengikuti Musabaqah Kaligrafi Pegon (MKP) yang diselenggarakan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Lamongan di Graha Narita, Tambakrigadung, Kecamatan Tikung, Rabu (21/10/2026). Kegiatan dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) 2026 ini menjadi upaya menghidupkan kembali tradisi literasi pesantren dan menjaga warisan aksara Pegon agar tetap dikenal generasi muda.

Dari seluruh peserta, enam orang terpilih sebagai pemenang dalam tiga kategori, yakni Ula, Wustha, dan Ulya.

Wakil Ketua PCNU Lamongan sekaligus Pembina Lesbumi, Agus Susanto, mengatakan musabaqah tersebut merupakan penyelenggaraan pertama di Lamongan. Ia bahkan menyebut kegiatan itu sebagai yang pertama di Indonesia.

“MKP pada HSN 2026 ini menjadi yang pertama dilaksanakan di Lamongan, bahkan di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Agus, penyelenggaraan lomba kaligrafi Pegon tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana memperkenalkan kembali tradisi keilmuan yang berkembang di lingkungan pesantren. Aksara Pegon memiliki peran dalam penulisan bahasa lokal menggunakan huruf Arab sehingga masyarakat pada masa lalu dapat mempelajari dan menyampaikan ilmu melalui bahasa yang mereka pahami.

Tradisi tersebut menjadi bagian dari perjalanan literasi Islam Nusantara, khususnya dalam penulisan bahasa Jawa. Penggunaan aksara Pegon juga dikenal dalam tradisi literasi Sunda dan Madura. Sementara itu, tradisi penulisan bahasa Melayu menggunakan huruf Arab lebih lazim dikenal sebagai aksara Jawi.

“Pegon merupakan warisan yang penting. Aksara ini menjadi bagian dalam Bahasa lokal sehingga dipahami masyarakat kala itu, baik Jawa, Sunda, Madura, Bali dan Melayu,” terang Agus.

Ia menilai pelestarian Pegon relevan dengan sejarah Lamongan yang memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan dakwah Islam dan peran para santri serta ulama.

Dalam tradisi sejarah lokal, sejumlah tokoh seperti Ronggo Hadi atau Tumenggung Surajaya, Raden Goliah, dan Kanjeng Pangeran Haryo Jimat dikaitkan dengan perkembangan awal Islam di wilayah tersebut.

Ronggo Hadi, yang dikenal pula sebagai Mbah Lamong, memiliki peran penting dalam sejarah pemerintahan Lamongan. Berdasarkan sejarah resmi Kabupaten Lamongan yang disebut dalam bahan kegiatan, ia diangkat sebagai Adipati Lamongan pertama pada 26 Mei 1569. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Lamongan.

Latar sejarah itu menjadi salah satu alasan pentingnya menjaga tradisi pesantren sebagai bagian dari identitas daerah. Agus berharap Pegon tidak hanya dipelajari di lingkungan pesantren atau melalui perlombaan, tetapi juga diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat.

Salah satu gagasan yang ia sampaikan ialah menghadirkan aksara Pegon pada papan nama jalan, penanda tempat, dan kantor pemerintahan. Menurutnya, penerapan di ruang publik dapat menjadi sarana edukasi budaya sekaligus memperkuat identitas Lamongan sebagai Kota Santri.

“Kalau Pegon dapat dihadirkan di ruang publik, masyarakat akan lebih mudah mengenal dan mempelajari warisan para ulama. Ini juga menjadi cara untuk memperkuat identitas Lamongan sebagai daerah yang memiliki tradisi pesantren,” tambah Agus.

Ia berharap Lamongan dapat menjadi pelopor penerapan Pegon secara lebih luas di tingkat kabupaten. Namun, gagasan tersebut masih memerlukan kajian dan perencanaan, terutama mengenai ketepatan penulisan, keterbacaan, dan penempatan aksara agar mudah dipahami masyarakat.

Jika dipadukan dengan tulisan Latin, Pegon berpotensi memperkaya identitas visual daerah sekaligus memperkenalkan kembali khazanah literasi Islam Nusantara kepada masyarakat luas.

Gagasan itu juga dikaitkan dengan Program Lamongan Nyantri yang diluncurkan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi pada 26 Mei 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Lamongan ke-456.

“Pak Bupati Yes akan menjadi tokoh sentral dalam ‘nguri-nguri budaya’, sebagai penerus estafet kepemimpinan Lamongan yang selaras dengan kronik sejarah awal berdirinya Lamongan. Bahwa Lamongan adalah Kota Santri. Ini Legacy yang luar biasa!” pungkas Agus.

Melalui Musabaqah Kaligrafi Pegon, Lesbumi PCNU Lamongan berupaya mempertemukan tradisi pesantren dengan keterlibatan generasi muda. Pelestarian aksara ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut melalui pembelajaran, dokumentasi naskah, dan pengenalan budaya di tengah masyarakat.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Hari Santri 2026, Khofifah Dorong Santri Kuasai AI dan Ekonomi Digital
InaSkills 2026 Diikuti 90 Peserta, Pemenang Berpeluang ke WorldSkills
Tak Ada Calon Dicoret, 8 Kandidat Rektor UIN KHAS Jember Diusulkan ke Menag
Khofifah Apresiasi Siswa Jatim, Juara Umum FIKSI Nasional 2026
Dari Ecobrick hingga Maggot, Cara Sekolah di Sidoarjo Kelola Sampah
Gibran Jajal AI Buatan Santri Dalwa, Khofifah Dorong Inovasi Pesantren
Khofifah Salurkan Bantuan Pendidikan untuk 450 Murid di Madura Raya
Literasi Politik Mahasiswa, Anggota DPD RI Lia Istifhama dan Unair Bahas Sekolah Legislatif

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:23

140 Peserta Ikuti Musabaqah Kaligrafi Pegon, Lamongan Rawat Warisan Santri

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:16

Hari Santri 2026, Khofifah Dorong Santri Kuasai AI dan Ekonomi Digital

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:24

InaSkills 2026 Diikuti 90 Peserta, Pemenang Berpeluang ke WorldSkills

Senin, 19 Oktober 2026 - 21:36

Tak Ada Calon Dicoret, 8 Kandidat Rektor UIN KHAS Jember Diusulkan ke Menag

Senin, 19 Oktober 2026 - 20:19

Khofifah Apresiasi Siswa Jatim, Juara Umum FIKSI Nasional 2026

Berita Terbaru