TRENGGALEK, RadarBangsa.co.id — Ribuan anggota Pramuka se-Jawa Timur memadati kawasan Pantai Cengkrong, Trenggalek, Kamis (4/12), dalam rangkaian kegiatan Peningkatan Wawasan Kebangsaan dan Bakti Masyarakat Tahap II 2025. Kegiatan yang diwarnai aksi penanaman ribuan mangrove dan penyerahan program bedah rumah itu mendapatkan apresiasi langsung dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Sejak pagi, sekitar 3.000 anggota Pramuka dari berbagai daerah datang membawa bibit mangrove yang akan ditanam di kawasan pesisir. Aksi ini menjadi bagian dari gerakan lingkungan yang terus digalakkan Pemprov Jatim. “Kegiatan ini adalah bentuk nyata pengabdian Pramuka. Mereka hadir dengan semangat menjaga lingkungan sekaligus memperkuat wawasan kebangsaan,” kata Khofifah.
Selain penanaman mangrove, acara ini juga dirangkai dengan penyerahan kunci secara simbolis kepada 10 warga penerima rumah layak huni dari program Wirakarya. Total, Pramuka Jatim pada tahun ini telah merehabilitasi 170 rumah tidak layak huni. “Program ini membuktikan bahwa Pramuka tidak hanya berkegiatan di alam bebas, tetapi hadir langsung menjawab kebutuhan masyarakat,” tambah Khofifah.
Ia menegaskan pentingnya melibatkan generasi muda dalam agenda lingkungan. Penanaman mangrove, menurutnya, dapat memperkuat daya dukung alam dan mengurangi dampak perubahan iklim. “Jika kita ingin mencapai net zero emission 2060, maka inisiatif seperti ini harus diperbanyak,” ujarnya.
Gubernur juga memberikan pesan khusus mengenai persatuan bangsa. “Wawasan kebangsaan itu tidak boleh hanya diajarkan lewat teori. Ia harus dihidupi dalam tindakan nyata. Hari ini, Pramuka menunjukkan bahwa kerja sama itu menguatkan kita sebagai satu Indonesia,” kata Khofifah.
Di sela kegiatan, peserta juga melakukan aksi bersih-bersih pantai. Gubernur menyebut langkah itu sebagai simbol penting pendidikan karakter. “Saat memungut sampah, mereka belajar ketulusan. Saat menanam pohon, mereka belajar harapan. Ini pendidikan kebangsaan versi alam,” ujarnya.
Beberapa peserta menyambut positif kegiatan itu. Dwi Saputra (18), Pramuka Penegak asal Banyuwangi, menyebut pengalaman ini menambah rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. “Kami ingin ikut menjaga pantai dan mengurangi abrasi. Kegiatan ini membuat kami lebih paham arti gotong royong,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Bupati Trenggalek, Nur Arifin. Ia menilai bahwa keterlibatan Pramuka dalam berbagai operasi kemanusiaan merupakan aset penting bagi daerah. “Ibu Gubernur selalu menjadi yang pertama mengirim bantuan saat ada bencana. Ini contoh konkret bagi generasi muda,” katanya.
Ke depan, Pemprov Jatim bersama berbagai komunitas berencana menggelar Festival Mangrove pada 22 Desember 2025 yang melibatkan Kaka Slank. Khofifah berharap gerakan akar rumput seperti ini dapat direplikasi di wilayah lain. “Menjaga lingkungan harus menjadi kebiasaan, bukan acara musiman,” tegasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








