Anggota DPD RI Ning Lia Datang sebagai Kakak, Mahasiswa Baru Cerita Soal Adaptasi

Selasa, 8 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ning Lia saat menemui dan mendengarkan cerita mahasiswa baru di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, Surabaya. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Ning Lia saat menemui dan mendengarkan cerita mahasiswa baru di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, Surabaya. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

SURABAYA, RadarBangsa.co.id — Sebulan menjalani kehidupan di pesantren menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa yang datang dari berbagai daerah. Jauh dari keluarga, mereka mulai belajar mengatur kebutuhan sendiri, beradaptasi dengan lingkungan, membangun pertemanan, hingga berbagi fasilitas dengan penghuni asrama lainnya.

Pengalaman tersebut didengar langsung Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama atau Ning Lia, saat mendatangi mahasiswa baru di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, Surabaya.

Ning Lia hadir bukan dalam suasana formal sebagai seorang senator. Ia memilih berbincang layaknya seorang kakak dengan adik-adiknya. Berbagai cerita tentang kehidupan selama sebulan tinggal di asrama pun mengalir dalam pertemuan yang berlangsung cair dan penuh keakraban.

Para mahasiswa bercerita tentang proses meninggalkan kampung halaman, menjalani kehidupan mandiri, mendapatkan teman baru, hingga menghadapi kebiasaan sederhana seperti mengantre kamar mandi.

Salah satu mahasiswa baru, Widya Alfa Rohman asal Bojonegoro, mengaku masa awal tinggal di asrama memberinya banyak pengalaman dan pelajaran baru.

“Pengalaman pertama kali saya berada di asrama ini benar-benar mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pengalaman baru. Karena saya juga dari luar Kota Surabaya, memang ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari,” cerita Widya.

Bagi Widya, kehidupan mandiri bukan hal yang sepenuhnya baru. Ia pernah menjalani kehidupan mondok sehingga aktivitas sehari-hari seperti mencuci pakaian sendiri sudah biasa dilakukan.

“Alhamdulillah tidak kesulitan karena sebelumnya saya sudah pernah mondok. Jadi kegiatan seperti mencuci baju sendiri sudah sering saya lakukan,” katanya.

Penyesuaian justru terasa dalam hal bahasa dan kebiasaan berkomunikasi. Perbedaan lingkungan antara Bojonegoro dan Surabaya membuat Widya menemukan sejumlah perubahan dalam penggunaan bahasa sehari-hari.

“Mungkin yang sedikit menjadi kesulitan itu bahasa. Ada sedikit perubahan bahasa dari Bojonegoro ke Surabaya,” tuturnya.

Cerita berbeda disampaikan Fahima Nudinia. Mahasiswa baru tersebut mengaku salah satu pengalaman menyenangkan selama sebulan tinggal di asrama adalah bertemu dan berinteraksi dengan banyak teman baru.

“Teman-temannya baik-baik. Interaksi dengan teman juga menyenangkan,” ungkap Fahima.

Ketika ditanya mengenai kesulitan menjalani kehidupan mandiri, Fahima mengaku tidak menghadapi kendala berarti. Pengalaman mondok sebelumnya membuat proses adaptasi berjalan relatif mudah.

Namun, ada pengalaman sederhana yang cukup membekas dalam kesehariannya, yakni ketika harus berbagi fasilitas bersama penghuni asrama.

“Kalau kesulitan tidak terlalu, karena dulu pernah mondok juga. Tapi yang paling terasa itu antre, terutama antre kamar mandi,” ujar Fahima.

Cerita tentang bahasa, pertemanan hingga antre kamar mandi menjadi bagian kecil dari proses adaptasi mahasiswa baru yang tinggal jauh dari keluarga.

Di lingkungan pesantren, mereka tidak hanya menjalani aktivitas perkuliahan. Kehidupan bersama juga mengajarkan mahasiswa untuk mengatur waktu, mengurus kebutuhan pribadi, berbagi fasilitas, membangun komunikasi serta beradaptasi dengan teman-teman dari berbagai daerah.

Bagi Ning Lia, mendengarkan langsung pengalaman mahasiswa menjadi cara untuk memahami kehidupan generasi muda dari sisi yang lebih dekat dengan keseharian mereka.

Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa proses membangun kemandirian tidak selalu hadir melalui pengalaman besar. Hal-hal sederhana seperti mencuci pakaian sendiri, menyesuaikan bahasa, membangun pertemanan dan belajar bersabar saat mengantre juga menjadi bagian dari proses mahasiswa memasuki fase kehidupan yang lebih dewasa.

Sebulan mungkin masih menjadi tahap awal. Namun, dari berbagai pengalaman tersebut, mahasiswa baru mulai membangun kebiasaan dan karakter yang akan menemani perjalanan mereka selama menjalani pendidikan dan kehidupan di Surabaya.

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Dari Kampus ke Kampus, Anggota DPD RI Asal Jawa Timur Lia Istifhama Ajak Mahasiswa Belajar Pengabdian
Biro Adpim Jatim Raih Penghargaan, Literasi Digital Santri Jadi Perhatian
Partisipasi Pemilih Jatim Naik, Senator Cantik Anggota DPD RI Lia Istifhama Dorong Peran Gen Z
Anggota DPD RI Lia Istifhama Apresiasi KPU Jatim, Partisipasi Pemilih Naik
Polres Lamongan Gelar Apel Satgas Polisi Jogo Sekolah
SMPN 1 Bangsalsari Jember Kembangkan Gulat, Siapkan Atlet Pelajar ke Popda Jatim
Anggota DPD RI Lia Istifhama Kenalkan Filosofi PEREMPUAN, Ajak Fatayat NU Berani Berpolitik
Festival Film Santriwati Warnai Penutupan HSN 2026 di Lamongan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:41

Dari Kampus ke Kampus, Anggota DPD RI Asal Jawa Timur Lia Istifhama Ajak Mahasiswa Belajar Pengabdian

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:14

Biro Adpim Jatim Raih Penghargaan, Literasi Digital Santri Jadi Perhatian

Jumat, 30 Oktober 2026 - 03:34

Partisipasi Pemilih Jatim Naik, Senator Cantik Anggota DPD RI Lia Istifhama Dorong Peran Gen Z

Jumat, 30 Oktober 2026 - 03:25

Anggota DPD RI Lia Istifhama Apresiasi KPU Jatim, Partisipasi Pemilih Naik

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:08

Polres Lamongan Gelar Apel Satgas Polisi Jogo Sekolah

Berita Terbaru