Anugrah Saat Positif Covid-19

  • Whatsapp
Eko Djiantoro. Pria, usia : 61 th. Domisili : kota Semarang. [IST]

SEMARANG, RadarBangsa.co.id – Berhubung banyak yang bertanya bagaimana proses dan gejalanya kok bisa kena covid. Ijinkan saya sedikit bercerita hingga kondisi terachir saat ini.

Nama saya Eko Djiantoro. Pria, usia : 61 th. Domisili : kota Semarang.

Bacaan Lainnya

Berawal kecapaian nunggu lahiran cucu dan kurang tidur karena lahir pagi hari. Achirnya saya terserang flu walau sempat istirahat.

Saat kondisi tubuh kurang fit saya berobat ke dokter. Tetapi sudah 3 hari tidak sembuh, hingga achirnya senin malam tgl 7 Des’20 kondisi drop dan muntah² karena pusing dan lambung sakit.

Langsung dilarikan ke IGD RSPW Cipto, dan dilakukan tindakan. Setelah dipasang infus, observasi jantung, paru, tensi dan lain² hingga achirnya harus opname.

Karena ruang rawat inap penuh, terpaksa harus menunggu. Setelah hasil rontgen paru keluar esok paginya, ternyata sudah banyak flex, padahal saya tidak ada riwayat sakit paru dan saat itu tidak batuk.

Semua indera perasa dan penciuman juga masih normal. Achirnya saya harus masuk ke ruang khusus penderita covid, dan dilakukan swab, tanpa boleh ditunggu atau dibesuk.

Setelah hari yang ke 3 hasil swab keluar dan sudah dapat dipastikan positive, karena bisa ditebak dari foto paru yang flex. Dan selang 2 hari kemudian menantu nyusul harus opname karena batuk² dan demam, setelah swab positive juga.

Sempat sekamar berdua dengan menantu, achirnya saya harus pindah ke kamar khusus dengan peralatan yang lengkap karena nafas sesak. Dengan peralatan yang terpasang didada, tangan kanan kiri dan infus cukup mempengaruhi psikis bila dipikirkan.

Beruntung masih bisa ada hp, walau susah untuk komunikasi dan setelah 14 hari, menantu sudah boleh pulang. Tetapi kondisi saya masih belum ada perubahan yang berarti, padahal setiap hari jadwal suntik melalui infus 3x dan min 4 – 6 ampul obat yang masuk.

Masih ditambah obat yang diminum, min 5-7 butir setiap pagi, siang, malam, anti biotik dan vitamin yang juga dimasukkan lewat infus. Kondisi fisik makin drop, karena kesulitan dan mulai kehilangan nafsu makan, sehari hanya 2-3 suap nasi lembek yang termakan dan sisanya terbuang.

Didalam satu ruang kecil dengan ditemani alat² medis yang berbunyi seolah saling berlomba memang sesuatu banget. Ketika tidak melakukan aktivitas apapun, tidak ada pilihan harus lebih berserah dan dekat lagi kepada Tuhan.

Hanya Anugerah Tuhan, setelah seminggu terapi khusus oxygen dan saturasi sudah mulai naik, alat mulai dilepas satu persatu. Hingga dipindah ke kamar dan Puji Tuhan, tgl 29 Des sudah boleh pulang, untuk dilanjut isolasi mandiri di rumah.

Setelah siap untuk pulang, ternyata tanggal 29 itu tanpa sebab, tiba² drop dan batal pulang. Achirnya tanggal 30 saya pulang, walau masih belum bisa berjalan karena terlalu lama tiduran.

Puji Tuhan, ada suka cita di rumah setelah 23 hari di RS tanpa ada yang menemani karena protokol. Walau sampai hari ini masih belum lepas oxygen, karena suasana rumah berbeda, mendatangkan suka cita.

Pemulihan terus terjadi dan kemarin pulang kontrol dari RS sudah bisa berjalan sendiri walau tertatih. Tekanan oxygen pun sudah mulai dikurangi dan berharap akan kembali normal.

Semua hanya karena Anugerah Tuhan semata, saat mengalami kesakitan hingga sudah tidak bisa merasakan sakit karena sering ganti tempat infus. Sekecil apapun selalu butuh pertolongan Tuhan untuk menguatkan dan bertahan dari rasa sakit.

Hikmat yang saya dapat ialah. Virus ini tidak bisa mati, obat²an yang disuplay ke tubuh kita hanya untuk mencegah dan mengobati yang sudah masuk.

Setelah ditangani ternyata kadar virus hanya 10٪ menjadi pembunuh. Yang *90٪ ialah rasa takut, kuatir, ragu, bimbang dan cemas, hingga tidak percaya kepada Tuhan.

Paulus menasehati untuk selalu mengisi hati dan pikiran dengan hal² benar. Percayalah sedahsyat apa pun badai menerjang hidup, takkan sanggup merampas rasa tenteram di dalam hati dan memisahkan orang² pilihan dari kasih Allah.

_Semua hanya karena Anugerah Tuhan semata, kalau saya masih bisa ada. Bila ada teman atau saudara yang terkena covid, janganlah fokus berfikir ke virusnya, karena itu sudah bagian dari dokter yang menangani.

Fokuslah kepada pemikiran yang positif, jangan takut, ragu, bimbang atau khawatir, karena jadwal kita pulang ke rumah Bapa dibawa oleh Tuhan. Percayalah, tidak ada satu penyakit atau apapun yang bisa membawa kita pulang kecuali Tuhan Yesus sendiri.

Sekarang kondisi saya sudah lebih baik walau selang oxygen masih menempel. Tetapi tekanan sudah dikurangi dan sesekali di lepas beberapa menit, dan ternyata saturasi sudah bisa diatas 90 tanpa oxygen.

Berat badan yang semula 82 kg, saat pulang kerumah menjadi 68 kg, berkurang 14 kg. Tetapi sekarang sudah naik lagi menjadi 70 kg.

SALAM SEHAT DAN SEMANGAT.

God Bless..

(Oki/Agus P)
Radar bangsa Jateng-DIY

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *