LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Tradisi Mendhak Sanggring di Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, kini memiliki identitas budaya baru. Pemerintah Desa Tlemang resmi memperkenalkan Udeng Semolo Gandring, ikat kepala khas desa yang mengandung filosofi tentang kehidupan dan nilai-nilai kebudayaan masyarakat setempat.
Peluncuran udeng tersebut berlangsung pada Minggu (8/11), dalam rangkaian kegiatan Sanggring Ziarah Buyut Terik. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Desa Tlemang untuk memperkuat pelestarian tradisi sekaligus memperkenalkan kekhasan budaya desa kepada masyarakat luas.
Udeng Semolo Gandring tidak sekadar menjadi pelengkap busana adat. Setiap bagian ikatannya memiliki makna tersendiri yang berkaitan dengan identitas dan filosofi kehidupan masyarakat Tlemang.
Pada sisi kiri udeng terdapat motif gunungan yang melambangkan Gunung Inggil di Desa Tlemang. Sementara bagian depan memiliki ikatan menyerupai tongkat atau teken dalam bahasa Jawa, yang dimaknai sebagai tuntunan atau tujuan hidup.
Adapun bagian kanan menampilkan tiga lipatan yang merepresentasikan tiga kenceng atau tempat memasak dalam tradisi Sanggring. Pada lipatan terluar terdapat lima tekukan yang melambangkan Pancasila dan Rukun Islam.
Kepala Desa Tlemang, Aris Pramono, menjelaskan bahwa pengembangan udeng tersebut merupakan gagasan untuk menunjang keberlangsungan tradisi Mendhak Sanggring. Pemerintah desa juga telah merencanakan pengembangan produk budaya lain berupa batik dengan motif khas Tlemang.
“Untuk menunjang itu (Mendhak Sanggring) kita mempunyai ide dan gagasan dengan mengembangkan udeng, dan rencana ke depan kita juga mau membuat batik yang bermotif Tlemang yang berkaitan langsung dengan Mendhak Sanggring,” terang Aris.
Ia menjelaskan, filosofi tiga lipatan pada Udeng Semolo Gandring juga berkaitan dengan makna tiga tahapan kehidupan manusia.
“Filosofi Sanggring, Sanggring mempunyai tiga tempat masak atau kenceng, di sini ada lipatan tiga yang menggambarkan kenceng itu sendiri. Kenapa tidak empat atau lima? Orang dulu mengartikan Sanggring itu bisa dimaknai seperti lapisan kehidupan juga, dari alam kandungan, alam dunia, dan alam akhirat,” imbuhnya.
Menurut Aris, pelestarian Mendhak Sanggring tidak hanya berkaitan dengan menjaga peninggalan budaya leluhur. Tradisi tersebut juga memberikan ruang bagi penguatan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
Mendhak Sanggring sendiri merupakan tradisi adat Desa Tlemang yang dilaksanakan setiap sekitar tanggal 27 Jumadil Awal. Tradisi ini menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil bumi sekaligus bentuk penghormatan kepada Ki Buyut Terik, tokoh yang dikenal sebagai leluhur pendiri Desa Tlemang.
Rangkaian kegiatan adat tersebut mencapai puncaknya melalui prosesi memasak besar Kuah Sanggring dengan bahan utama ayam Jawa dan racikan bumbu khas. Salah satu keunikan tradisi ini adalah seluruh proses memasaknya dilakukan secara khusus oleh kaum laki-laki Desa Tlemang.
Tradisi Mendhak Sanggring juga telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) milik Desa Tlemang.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menyampaikan pentingnya menjaga tradisi yang diwariskan para pendahulu. Menurutnya, Mendhak Sanggring merupakan kekhasan budaya Desa Tlemang yang memiliki nilai filosofi bagi masyarakat.
“Jadi ini kekhasan dan keunikan khusus dari Desa Tlemang. Mendhak Sanggring ini salah satu budaya yang sudah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Pemerintah Republik Indonesia, sehingga kewajiban bagi kita semua bahwa budaya ini akan terus kita laksanakan karena ini mengandung filosofi yang tinggi bagi seluruh masyarakatnya,” ujar Yuhronur.
Ia juga mengapresiasi peluncuran Udeng Semolo Gandring sebagai bagian dari pengembangan identitas budaya lokal.
“Dari kegiatan ini kita juga melaunching udeng khas dari Tlemang ini yang namanya Semolo Gandring, diharapkan udeng ini menampilkan suatu semangat dari Tlemang ini untuk Indonesia, dari Lamongan untuk Indonesia,” tuturnya.
Kehadiran Udeng Semolo Gandring diharapkan menjadi salah satu penanda identitas budaya Desa Tlemang. Pengembangan udeng dan rencana batik bermotif khas desa menjadi langkah untuk memperluas pelestarian Mendhak Sanggring, sehingga warisan budaya tersebut tidak hanya terjaga melalui prosesi adat, tetapi juga berkembang melalui produk budaya masyarakat.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar