Di Forum IPM Jatim, Anggota DPD RI Lia Istifhama Tekankan Peran Keluarga dan Sekolah Cegah Kekerasan

Rabu, 8 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I., memaparkan pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam membangun karakter pelajar pada Seminar Nasional Musyawarah Wilayah IPM Jawa Timur di BBPPMPV BOE Malang, Sabtu (4/7/2026).

Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I., memaparkan pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam membangun karakter pelajar pada Seminar Nasional Musyawarah Wilayah IPM Jawa Timur di BBPPMPV BOE Malang, Sabtu (4/7/2026).

MALANG, RadarBangsa.co.id – Pencegahan kekerasan terhadap anak dan pelajar tidak cukup hanya mengandalkan lingkungan sekolah. Peran keluarga dinilai menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter, empati, dan cara anak berinteraksi dengan orang lain sejak usia dini.

Pesan itu disampaikan Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I., saat menjadi narasumber Seminar Nasional dalam rangka Musyawarah Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur di BBPPMPV BOE Malang, Sabtu (4/7/2026).

Mengangkat tema “Lawan Kekerasan: Keluarga dan Lingkungan Pendidikan”, Lia menilai keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk nilai, etika, kepedulian, dan sikap saling menghargai. Menurutnya, pola komunikasi yang terbuka serta keteladanan orang tua menjadi faktor penting dalam mencegah munculnya perilaku kekerasan.

“Pencegahan kekerasan harus dimulai dari rumah. Ketika keluarga mampu menghadirkan kasih sayang, komunikasi yang terbuka, dan keteladanan yang baik, anak akan tumbuh dengan karakter yang kuat, penuh empati, dan menghargai orang lain,” ujar Lia.

Ia menjelaskan proses pembentukan karakter berlangsung melalui keteladanan yang setiap hari diterima anak di lingkungan keluarga. Anak tidak hanya menyerap nasihat, tetapi juga meniru perilaku yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, orang tua diharapkan membangun komunikasi yang sehat, menunjukkan sikap saling menghormati, serta menyelesaikan persoalan secara bijaksana agar menjadi contoh yang dapat ditiru anak.

“Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari teladan yang diberikan setiap hari. Ketika keluarga menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian, maka karakter tersebut akan terbawa hingga mereka hidup bermasyarakat,” katanya.

Dalam paparannya, Lia juga menyoroti fungsi pendidikan yang menurutnya tidak berhenti pada penyampaian ilmu pengetahuan. Sekolah, kata dia, perlu menjadi ruang yang mendorong peserta didik berpikir kritis, menghargai keberagaman, memiliki empati, dan menyelesaikan konflik secara damai.

Ia menyebut pendidikan karakter, pendidikan kesetaraan, serta pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif.

“Pendidikan yang baik bukan hanya melahirkan generasi cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki hati nurani, mampu menghormati perbedaan, dan berani menolak segala bentuk kekerasan,” jelasnya.

Lia juga mengingatkan bahwa tujuan pendidikan tidak semata diukur dari capaian akademik. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus memberi manfaat bagi kehidupan, memperkuat akhlak, serta mendorong peserta didik memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Ia menilai pendidikan yang berkualitas akan melahirkan generasi yang mampu berpikir rasional, memiliki integritas, dan siap menghadapi tantangan perkembangan zaman.

“Ilmu akan bernilai ketika digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama. Pendidikan harus melahirkan manusia yang cerdas, berakhlak, dan mampu menjadi solusi bagi persoalan di masyarakat,” ungkapnya.

Selain membahas keluarga dan pendidikan, Lia mengajak pelajar membangun kemampuan beradaptasi, bekerja sama, memiliki empati, serta bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil. Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi bekal menghadapi perubahan sosial maupun perkembangan teknologi.

“Generasi yang tangguh bukan hanya mereka yang cerdas secara akademik, tetapi juga mampu menjaga integritas, memiliki empati, menghormati sesama, dan menjadikan nilai kemanusiaan sebagai dasar dalam setiap tindakan,” pungkasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Dari Kampus ke Kampus, Anggota DPD RI Asal Jawa Timur Lia Istifhama Ajak Mahasiswa Belajar Pengabdian
Biro Adpim Jatim Raih Penghargaan, Literasi Digital Santri Jadi Perhatian
Partisipasi Pemilih Jatim Naik, Senator Cantik Anggota DPD RI Lia Istifhama Dorong Peran Gen Z
Anggota DPD RI Lia Istifhama Apresiasi KPU Jatim, Partisipasi Pemilih Naik
Polres Lamongan Gelar Apel Satgas Polisi Jogo Sekolah
SMPN 1 Bangsalsari Jember Kembangkan Gulat, Siapkan Atlet Pelajar ke Popda Jatim
Anggota DPD RI Lia Istifhama Kenalkan Filosofi PEREMPUAN, Ajak Fatayat NU Berani Berpolitik
Festival Film Santriwati Warnai Penutupan HSN 2026 di Lamongan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:41

Dari Kampus ke Kampus, Anggota DPD RI Asal Jawa Timur Lia Istifhama Ajak Mahasiswa Belajar Pengabdian

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:14

Biro Adpim Jatim Raih Penghargaan, Literasi Digital Santri Jadi Perhatian

Jumat, 30 Oktober 2026 - 03:34

Partisipasi Pemilih Jatim Naik, Senator Cantik Anggota DPD RI Lia Istifhama Dorong Peran Gen Z

Jumat, 30 Oktober 2026 - 03:25

Anggota DPD RI Lia Istifhama Apresiasi KPU Jatim, Partisipasi Pemilih Naik

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:08

Polres Lamongan Gelar Apel Satgas Polisi Jogo Sekolah

Berita Terbaru