SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Upaya mendekatkan politik kepada generasi muda mulai bergeser ke arah yang lebih adaptif. Hal itu tampak dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Bidang Kaderisasi dan Pemuda DPD Partai Golkar Jawa Timur, saat Lia Istifhama memperkenalkan strategi “SENI” sebagai pendekatan baru komunikasi politik.
Di tengah dominasi simbol partai berwarna kuning, kehadiran senator yang akrab disapa Ning Lia itu bukan sekadar menarik perhatian secara visual. Ia membawa gagasan yang menyasar persoalan serius: rendahnya keterlibatan generasi Z dan milenial dalam politik formal.
Menurutnya, pola komunikasi politik yang kaku menjadi salah satu penyebab utama jarak antara generasi muda dan dunia politik. Padahal, kelompok usia ini memiliki peran strategis dalam menentukan arah kebijakan publik ke depan.
“Generasi muda hari ini adalah Syubbanul Yaum Rijalul Ghod—pemimpin masa depan. Politik tidak boleh kaku; harus ada sentuhan seni agar pesan bisa menyentuh hati,” ujar Lia.
Konsep SENI yang diperkenalkan mencakup empat pilar utama. Pertama, Strategy (Strategi), yakni pentingnya pengemasan pesan politik yang kreatif dan relevan di era digital. Kedua, Equity (Keadilan), yang menekankan kebijakan harus inklusif dan tidak diskriminatif.
Ketiga, Nation (Bangsa), mengingatkan bahwa politik sejatinya adalah pengabdian kepada rakyat. Terakhir, Integrity (Integritas), sebagai fondasi utama agar kepercayaan publik tetap terjaga.
Pendekatan ini dinilai penting karena berdampak langsung pada kualitas partisipasi publik, khususnya dalam pemilu, pengawasan kebijakan, hingga keterlibatan dalam pembangunan daerah.
Anggota DPR RI, Fathoni, bahkan menyebut pemaparan Ning Lia sebagai “tausiyah politik kekinian” karena mampu menyederhanakan konsep politik menjadi lebih komunikatif dan relevan.
Sementara itu, panitia kegiatan, Aan Ainur Rofiq, menilai strategi tersebut sejalan dengan kebutuhan internal partai dalam menghadapi perubahan perilaku pemilih.
“Kami ingin merumuskan strategi yang lebih inklusif. Pendekatan naratif berbasis nilai seperti ini menjadi kunci merangkul Gen Z yang sangat digital,” ujarnya.
Transformasi pendekatan politik ini bukan hanya penting bagi partai, tetapi juga bagi masyarakat luas. Komunikasi politik yang lebih terbuka dan relevan diyakini dapat meningkatkan literasi politik publik, memperkuat demokrasi, serta mendorong kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan warga.
Di Jawa Timur, langkah ini menjadi sinyal pergeseran dari politik berbasis kekuatan menuju politik berbasis gagasan—lebih komunikatif, inklusif, dan berintegritas.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar