Gubernur Khofifah Tancap Gas Swasembada Gula, Jatim Garap 54.897 Hektare Tebu

Kamis, 18 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

MALANG, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai mengakselerasi program peningkatan produksi gula nasional melalui gerakan panen dan tanam tebu serentak yang dipusatkan di Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Kamis (18/6/2026).

Kegiatan yang dipimpin langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa itu menjadi bagian dari Program Bongkar Ratoon dan Perluasan Areal Tebu Tahun 2026 yang menargetkan pengembangan lahan tebu seluas 54.897 hektare di 24 kabupaten sentra tebu Jawa Timur.

Langkah tersebut dinilai strategis mengingat Jawa Timur masih menjadi tulang punggung industri gula nasional dengan kontribusi sekitar 51 persen terhadap produksi gula Indonesia. Pada 2025, produksi gula kristal putih Jawa Timur bahkan mencapai sekitar 1,34 juta ton atau tertinggi dalam satu dekade terakhir.

“Kegiatan hari ini memiliki makna yang sangat strategis. Kita tidak hanya melaksanakan panen dan tanam tebu, tetapi juga memperkuat fondasi dalam mewujudkan swasembada gula nasional,” kata Khofifah.

Selain Kabupaten Malang, pelaksanaan panen dan tanam tebu juga berlangsung serentak di sejumlah daerah sentra tebu lainnya seperti Kediri, Magetan, Jombang, Situbondo, Bondowoso, Mojokerto, dan Lamongan yang terhubung secara daring.

Menurut Khofifah, program tersebut merupakan bentuk kepercayaan pemerintah pusat kepada Jawa Timur sebagai daerah penghasil gula terbesar nasional. Dari total target 54.897 hektare, seluas 48.315 hektare dialokasikan untuk Program Bongkar Ratoon, sedangkan 6.582 hektare lainnya untuk perluasan areal tanam tebu.

Program bongkar ratoon sendiri merupakan upaya peremajaan tanaman tebu melalui penanaman ulang menggunakan bibit unggul guna meningkatkan produktivitas lahan yang selama ini mengalami penurunan hasil akibat usia tanaman yang sudah tua.

“Target ini sekaligus menjadi bentuk kepercayaan pemerintah pusat terhadap kapasitas dan kesiapan Jawa Timur dalam memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Khofifah menjelaskan, peningkatan produktivitas menjadi kunci utama dalam mendukung swasembada gula. Karena itu, seluruh kebutuhan benih program tersebut didukung oleh Kementerian Pertanian dengan memanfaatkan varietas unggul yang memiliki potensi hasil tinggi.

Beberapa varietas yang digunakan antara lain NX 04, NX 03, NXI-4T, SGN 01, NX 02, NX 01, serta varietas Bululawang yang selama ini dikenal memiliki produktivitas di atas 110 ton per hektare. Bahkan dalam kondisi optimal, produktivitasnya mampu mencapai sekitar 150 ton per hektare.

Pemanfaatan bibit unggul tersebut menjadi bagian dari transformasi sektor perkebunan tebu yang terus didorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperbaiki kualitas rendemen gula.

Tak hanya mengandalkan benih unggul, pemerintah juga menyiapkan berbagai langkah pendukung berupa penerapan teknologi budidaya modern, mekanisasi pertanian, efisiensi irigasi, penguatan kelembagaan petani, hingga peningkatan kapasitas industri pengolahan gula.

Kabupaten Malang dipilih sebagai lokasi utama kegiatan karena memiliki posisi strategis dalam industri pergulaan Jawa Timur. Daerah ini memiliki areal tebu sekitar 41 ribu hektare yang didukung keberadaan Pabrik Gula Krebet Baru dan Pabrik Gula Kebon Agung.

Khofifah menyebut Malang memiliki catatan historis yang menunjukkan potensi produktivitas tebu yang sangat tinggi. Di Kecamatan Gondanglegi, produktivitas tebu bahkan pernah mencapai sekitar 250 ton per hektare.

Menurutnya, capaian tersebut membuktikan bahwa peningkatan hasil panen bukan hal yang mustahil selama didukung penggunaan varietas unggul, teknologi pertanian modern, riset berkelanjutan, serta kolaborasi berbagai pihak.

“Dengan dukungan teknologi yang semakin maju, laboratorium yang semakin canggih, dukungan perguruan tinggi dan Kementerian Pertanian, saya rasa bukan sesuatu yang mustahil jika produktivitas tebu dapat terus kita tingkatkan. Gondanglegi pernah membuktikannya,” ujar Khofifah.

Meski demikian, keberhasilan industri gula tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan inovasi. Peran petani tetap menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan produksi tebu di lapangan.

Khofifah menegaskan capaian produksi gula Jawa Timur selama ini merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pabrik gula, lembaga penelitian, perguruan tinggi, lembaga keuangan, penyuluh pertanian, dan petani tebu.

“Keberhasilan tersebut tentu tidak diraih secara instan. Di balik capaian itu terdapat kerja keras para petani tebu, dukungan pabrik gula, pemerintah pusat dan daerah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, lembaga keuangan, serta seluruh pemangku kepentingan yang terus bersinergi memperkuat sektor pergulaan dari hulu hingga hilir,” tegasnya.

Lebih jauh, Khofifah menyoroti pentingnya membangun ekosistem industri gula secara menyeluruh. Menurutnya, upaya meningkatkan produksi harus diiringi perlindungan terhadap pasar gula konsumsi agar hasil produksi petani tidak terganggu.

Ia mengingatkan perlunya pengawasan terhadap distribusi gula rafinasi agar tidak masuk ke pasar konsumsi yang selama ini menjadi ruang bagi gula produksi petani. Langkah tersebut dianggap penting untuk menjaga harga dan keberlangsungan usaha petani tebu.

“Kita membangun ekosistem pergulaan dari hulu sampai hilir. Produksi petani harus terlindungi sehingga mereka mendapatkan kepastian pasar yang sehat,” katanya.

Selain produktivitas lahan, pemerintah juga memberi perhatian pada peningkatan rendemen atau tingkat kandungan gula dalam tebu. Rendemen menjadi indikator penting karena berpengaruh langsung terhadap jumlah gula yang dihasilkan dari setiap ton tebu yang digiling.

Khofifah menjelaskan bahwa rendemen tidak hanya ditentukan oleh kualitas bibit, tetapi juga dipengaruhi proses budidaya, waktu panen, teknik penebangan, hingga proses pengolahan di pabrik gula.

Menurutnya, penebangan yang tepat dan kapasitas giling pabrik yang optimal dapat meningkatkan efisiensi ekstraksi gula sehingga menghasilkan rendemen yang lebih tinggi.

“Selain kualitas bibit, proses penebangan dan penggilingan juga harus dikawal dengan baik. Karena itu pendampingan petugas lapangan menjadi sangat penting agar produktivitas dan rendemen dapat terus meningkat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Pemprov Jawa Timur juga menyalurkan berbagai bantuan untuk mendukung produktivitas sektor pertanian dan perkebunan di Kabupaten Malang.

Bantuan tersebut meliputi pompa air untuk kelompok tani tebu, handtraktor untuk mendukung mekanisasi pertanian, bantuan sarana pengolahan kopi berupa pulper dan huller, alat pemotong rumput, hingga bantuan bibit cengkeh bagi kelompok tani di sejumlah kecamatan.

Menurut Khofifah, dukungan alat dan sarana produksi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi usaha tani, memperkuat produktivitas lahan, serta meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan masyarakat.

Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus memperkuat ekonomi pedesaan yang sebagian besar masih bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan.

Di tengah tantangan perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan nasional, sektor tebu dinilai akan memegang peran penting dalam menjaga ketersediaan gula nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Karena itu, pemerintah mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi, inovasi, dan modernisasi sektor perkebunan agar mampu bersaing di tingkat global.

Khofifah optimistis Jawa Timur tetap menjadi motor utama industri gula Indonesia sekaligus menjadi daerah terdepan dalam mewujudkan target swasembada gula nasional yang selama ini menjadi agenda strategis pemerintah.

“Saya optimis, dengan kerja keras, inovasi, dan gotong royong seluruh pemangku kepentingan, Jawa Timur akan terus menjadi penggerak utama tercapainya swasembada gula nasional serta memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang berdaulat di bidang pangan,” pungkasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Menaker Yassierli Ungkap 3 Karakter SDM yang Dibutuhkan di Era AI
SMSI Siap Kawal Prabowo, Ini Sikap Organisasi Pers terhadap Pemerintah
Yassierli Targetkan Pendampingan Produktivitas Menjangkau Ratusan Ribu Perusahaan
Kemnaker-IWIP Perkuat SDM Lokal, 80 Persen Peserta Magang Masuk Kawasan Industri
Lia Istifhama Turun Langsung, Donor Darah HUT DPD RI di Jatim Tembus 100 Orang
Kemnaker Fasilitasi 100 Pekerja Musik, Dorong Kompetensi dan Pelindungan Profesi
AI Ubah Dunia Jurnalistik, Wamenaker Tekankan Kompetensi dan Perlindungan Insan Pers
Menaker Yassierli: Indonesia Siap Jadi Mitra Dialog Pekerja ASEAN di Tengah Gejolak Global

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 10:47

Menaker Yassierli Ungkap 3 Karakter SDM yang Dibutuhkan di Era AI

Rabu, 4 November 2026 - 18:30

SMSI Siap Kawal Prabowo, Ini Sikap Organisasi Pers terhadap Pemerintah

Selasa, 3 November 2026 - 19:42

Yassierli Targetkan Pendampingan Produktivitas Menjangkau Ratusan Ribu Perusahaan

Selasa, 3 November 2026 - 07:46

Kemnaker-IWIP Perkuat SDM Lokal, 80 Persen Peserta Magang Masuk Kawasan Industri

Selasa, 3 November 2026 - 06:46

Lia Istifhama Turun Langsung, Donor Darah HUT DPD RI di Jatim Tembus 100 Orang

Berita Terbaru