PAMEKASAN, RadarBangsa.co.id – Suara telepon yang masuk pukul 01.45 WIB mengubah malam HS (50) menjadi mimpi buruk. Dari ujung sambungan, seseorang berteriak panik memberi kabar bahwa gudang kayunya terbakar.
Tanpa banyak bicara, HS langsung berlari menuju Gudang Kayu Berkah Al Banjari di Dusun Bakong, Desa Batukerbuy, Pasean. Namun saat tiba di lokasi, kobaran api sudah membesar dan melahap hampir seluruh bangunan.
Tumpukan kayu kering dan serbuk gergaji membuat api cepat merambat. Dalam hitungan menit, gudang yang menjadi sumber penghidupan keluarganya berubah menjadi lautan api.
“Rasanya kosong. Kayak nonton kerja keras sendiri habis dilalap api,” kata HS dengan suara pelan saat ditemui di lokasi kejadian.
Warga sekitar yang melihat api membesar langsung berhamburan keluar rumah. Sebagian berusaha membantu memadamkan api dengan alat seadanya, sementara lainnya menghubungi polisi dan petugas pemadam kebakaran.
Kasihumas Polres Pamekasan, IPDA Yoni Evan Pratama, mengatakan petugas langsung bergerak setelah menerima laporan warga.
“Setelah laporan masuk, kami langsung bergerak ke lokasi untuk mengamankan area dan membantu proses penanganan,” ujarnya.
Berdasarkan keterangan sementara, gudang masih beroperasi normal hingga sore hari sebelum kejadian. Para pekerja diketahui baru pulang usai melakukan aktivitas pemotongan kayu.
Polisi menduga api berasal dari puntung rokok yang menyambar serbuk gergaji di sekitar area gudang. Material yang mudah terbakar membuat kobaran api sulit dikendalikan.
Sekitar pukul 03.00 WIB, satu unit mobil pemadam kebakaran milik Pemkab Pamekasan tiba di lokasi. Petugas bersama warga berjibaku mencegah api merambat ke rumah penduduk di sekitar gudang.
Api baru berhasil dipadamkan total sekitar pukul 06.00 WIB. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, seluruh bangunan dan isi gudang dilaporkan hangus terbakar.
“Nihil korban jiwa. Tapi bangunan dan seluruh isinya habis terbakar. Kerugian ditaksir mencapai Rp2 miliar,” kata IPDA Yoni.
Kini garis polisi telah dipasang di area gudang untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Sementara HS hanya bisa memandangi puing hitam bekas usahanya yang selama ini menjadi penopang hidup keluarga.
“Saya ikhlas. Tapi jujur, berat. Mudah-mudahan ini jadi pelajaran buat kita semua,” ucapnya lirih.
Penulis : Debora
Editor : Zainul Arifin


















Komentar