KENDAL,RadarBangsa.co.id – Harga telur ayam ras di tingkat peternak (on farm) hancur hingga berada di kisaran Rp18 ribu per kilogram setelah Hari Raya Iduladha. Kondisi tersebut membuat peternak merugi karena harga jual berada di bawah biaya produksi.
Peternak ayam petelur asal Kendal, Bakir, mengatakan harga telur sebelumnya masih berada di kisaran Rp26 ribu per kilogram. Namun, dalam hampir dua bulan terakhir, harga terus merosot hingga menyentuh Rp18 ribu per kilogram.
“Ini lebih parah daripada saat pandemi Covid-19,” kata Bakir, Rabu (1/7/2025), dalam keterangannya.
Menurut dia, hancurnya harga telur dipicu melimpahnya pasokan di pasar. Banyak peternak baru bermunculan setelah muncul harapan permintaan telur meningkat melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi tersebut justru berujung pada kelebihan produksi, sementara penyerapan pasar belum mampu mengimbanginya.
Di sisi lain, biaya produksi masih tinggi. Harga jagung sebagai bahan baku utama pakan ayam disebut telah mencapai sekitar Rp8 ribu per kilogram, sehingga semakin menekan kondisi keuangan peternak.
Bakir berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga telur. Ia mengusulkan pemerintah membeli telur sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat melalui koperasi.
Selain itu, ia meminta masa penyaluran jagung SPHP diperpanjang dari tiga bulan menjadi enam bulan agar biaya pakan dapat ditekan. Penjualan telur melalui SPPG dan KDMP juga diusulkan dilakukan melalui satu pintu, yakni koperasi, dengan mengacu pada HPP.
Menurut Bakir, peternak yang tergabung dalam koperasi dan kelompok ternak memiliki peluang lebih besar untuk bertahan di tengah hancurnya harga telur.
Di sisi lain, turunnya harga telur menjadi keuntungan bagi masyarakat. Harga yang lebih murah diperkirakan akan meningkatkan konsumsi telur sebagai salah satu sumber protein dengan harga terjangkau.
Penulis : Tim
Editor : Arifin Zaenul


















Komentar