SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Ribuan jamaah memadati Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Minggu (17/5), dalam peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU yang dipimpin Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa. Di hadapan ulama dunia Al Sheikh Al Sayid Afeefuddin Al-Jailani dan lebih dari 15 ribu jamaah, Muslimat NU menyerukan penghentian perang dunia melalui surat resmi yang ditujukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU di Surabaya tahun ini tak sekadar menjadi agenda keagamaan. Acara tersebut berubah menjadi panggung seruan kemanusiaan global di tengah meningkatnya konflik dan krisis kemanusiaan di berbagai negara.
Pesan utama yang digaungkan Muslimat NU cukup tegas: perang harus dihentikan. Seruan itu dibacakan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di hadapan ribuan jamaah yang memenuhi kawasan Masjid Nasional Al Akbar Surabaya.
Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU sekaligus Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, gerakan perdamaian yang disuarakan Muslimat NU bukan simbolik semata. Surat pernyataan damai tersebut akan disampaikan langsung kepada Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.
“Sebetulnya kalau Harlah Muslimat ini pesannya adalah membangun perdamaian dunia. Ini tidak hanya dibacakan di sini saja, tapi juga di semua harlah di seluruh Indonesia,” ujar Khofifah.
Menurutnya, seruan damai itu sebelumnya sudah dikirim secara daring. Namun, proses penyampaian resmi tetap akan dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi.
“Intinya, pesan perdamaian Muslimat NU kepada PBB adalah hentikan perang, bangun kesejukan dan kedamaian. Mudah-mudahan ini akan membawa dampak nyata ke depannya,” katanya.
Momentum Harlah ke-80 Muslimat NU juga terasa istimewa dengan hadirnya tokoh sufi dunia Al Sheikh Al Sayid Afeefuddin Al-Jailani bersama keluarga. Kehadiran keturunan ke-19 Syekh Abdul Qadir Al-Jailani itu mendapat sambutan hangat dari jamaah.
Khofifah menyebut kehadiran Syeikh Afeefuddin membawa energi spiritual tersendiri bagi ribuan anggota Muslimat NU yang datang dari berbagai daerah, termasuk wilayah kepulauan.
“Tidak ada daun pohon manapun yang jatuh tanpa izin Allah. Maka atas izin Allah beliau hadir di majelis yang mulia ini,” ucap Khofifah disambut lantunan sholawat jamaah.
Ia juga mengapresiasi militansi anggota Muslimat NU yang datang secara mandiri dari berbagai wilayah di Jawa Timur. Sebagian jamaah bahkan menempuh perjalanan laut berjam-jam demi mengikuti acara tersebut.
“Ada yang dari Kangean, jalan lautnya berapa jam ke sini. Ada juga yang dari Sepudi, semuanya bayar sendiri-sendiri. Inilah kemandirian yang dibangun di lingkungan Muslimat,” tuturnya.
Tak hanya dihadiri jamaah dari Jawa Timur, kegiatan itu juga diikuti Pimpinan Cabang Istimewa Muslimat NU dari sejumlah negara seperti Malaysia dan Jepang. Kehadiran peserta lintas negara memperkuat posisi Muslimat NU sebagai organisasi perempuan Islam yang aktif membawa pesan moderasi dan perdamaian.
Dalam Mau’idhoh Hasanah, Syeikh Afeefuddin turut menyoroti ancaman penggunaan teknologi yang tidak terkendali terhadap kehidupan keluarga dan generasi muda. Ia mengingatkan bahaya kecanduan gawai yang dinilai mulai menggerus kualitas spiritual masyarakat.
“Pertanyaannya adalah, apakah kita termasuk golongan orang yang berdzikir banyak, atau bermain hp yang banyak?” ujar Syeikh Afeefuddin.
“Kalau kita termasuk orang yang bermain hp yang banyak, sungguh musibah sedang menimpa kita,” sambungnya.
Menurutnya, orang tua memegang peran penting dalam membentuk generasi yang berakhlak di tengah derasnya arus digital. Pendidikan karakter dan keteladanan dinilai menjadi benteng utama menghadapi tantangan zaman.
“Maka kewajiban kita sebagai orang tua yaitu mendidik generasi muda anak-anak kita. Sehingga ketika kita mendidik mereka dengan benar, mereka akan menjadi da’i-da’i, pengajar-pengajar, tidak hanya dengan lisan, tetapi dengan akhlak dan budi pekertinya,” pungkas Syeikh Afeefuddin.
Rangkaian Harlah ke-80 Muslimat NU berlangsung khidmat dengan pembacaan sholawat, Surat Yasin, tahlil, ayat suci Al-Qur’an Surat Al Hasyr, hingga Sholawat Badar bersama ribuan jamaah yang memadati kawasan Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. “Semangat perdamaian yang digaungkan dari Surabaya itu kini diarahkan menembus forum dunia, membawa suara perempuan Nahdliyin untuk menghentikan perang dan menjaga kemanusiaan, “tutupnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar