SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Kampung Pancasila di Kota Surabaya kembali menggeliat. Program yang menyasar 1.360 RW itu tidak hanya diarahkan sebagai sebuah lomba, tetapi juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali gotong royong, kepedulian sosial, toleransi, dan kemandirian warga.
Pemerintah Kota Surabaya telah mematangkan pelaksanaan Lomba Kampung Pancasila 2026 dengan melibatkan seluruh 1.360 RW. Tahapan persiapan lomba berlangsung pada September 2026 dan dirancang mendorong perubahan nyata di tingkat kampung.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sebelumnya menegaskan bahwa semangat Kampung Pancasila bukan semata-mata mengejar kemenangan dalam perlombaan. Gotong royong dan kepedulian warga menjadi bagian penting dari tujuan program tersebut.
“Saya berharap dengan kembali kepada Kampung Pancasila ini, maka gotong royong, saling tolong menolong dan menjaga dilakukan di Kota Surabaya,” kata Eri Cahyadi saat peluncuran Lomba Kampung Pancasila.
Agenda tersebut mendapat perhatian Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau Ning Lia. Menurutnya, keberlangsungan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kuatnya institusi negara, tetapi juga oleh masyarakat yang mampu menjalankan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Kampung Pancasila sebagai bentuk konkret penerapan nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, saya Surabaya dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menghidupkan nilai Pancasila di tingkat Masyarakat,” kata Ning Lia.
Dalam konteks itu, Pancasila tidak berhenti sebagai materi pendidikan kewarganegaraan ataupun simbol kenegaraan. Nilainya dapat diterjemahkan melalui tindakan sosial yang dekat dengan kehidupan warga, mulai dari membantu tetangga, menjaga lingkungan, membangun toleransi, hingga menyelesaikan persoalan bersama.
Pemikiran tersebut juga berkaitan dengan konsep masyarakat sipil atau civil society. Pemerintah dapat membuat kebijakan dan menyediakan ruang, tetapi pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan masyarakat, kepedulian, serta kepercayaan terhadap institusi negara.
Ning Lia mengaitkan keberlangsungan bangsa dengan pentingnya hubungan antara masyarakat dan negara. Ia juga merujuk pemikiran Ibnu Khaldun mengenai siklus sosial serta potensi disintegrasi ketika hubungan emosional antara masyarakat dengan negara melemah.
“Ketika warga terbiasa saling membantu, muncul solidaritas. Ketika masyarakat merasa didengar dan dilibatkan, kepercayaan dapat tumbuh. Dan ketika negara mampu hadir melalui kebijakan yang dirasakan manfaatnya, hubungan antara negara dan masyarakat menjadi semakin kuat,” kata Ning Lia.
Bagi Surabaya, gotong royong menjadi salah satu nilai yang ingin kembali diperkuat melalui Kampung Pancasila. Pemkot Surabaya juga menetapkan empat pilar dalam pelaksanaan program, yakni lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, serta sosial budaya.
Dalam pelaksanaan 2026, proses lomba tidak berhenti pada tahap administrasi. Dari 1.360 RW yang mengikuti tahapan awal, seleksi akan berlanjut melalui verifikasi lapangan hingga menghasilkan RW-RW yang masuk tahapan berikutnya.
“Benang merahnya adalah hubungan timbal balik. Pemerintah membutuhkan kepercayaan masyarakat. Masyarakat membutuhkan pemerintah yang hadir dan bekerja. Di antara keduanya terdapat ruang sosial yang disebut civil society. Dan Kampung Pancasila dapat menjadi salah satu ruang tersebut,” kata Ning Lia.
Program tersebut pada akhirnya menempatkan kampung sebagai ruang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Di tingkat inilah nilai Pancasila diuji melalui tindakan sehari-hari, bukan hanya melalui slogan, tetapi melalui kemampuan warga untuk saling membantu dan menyelesaikan persoalan bersama.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar