JOMBANG, RadarBangsa.co.id – Alumni Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang, Khilma Anis, meraih Jawa Pos Radar Jember Awards 2026 kategori The Excellence in Literary, Cinematic, and Women’s Empowerment Award.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas perjalanan Khilma sebagai novelis, sineas, sekaligus penggerak pemberdayaan perempuan. Karyanya konsisten membawa nilai-nilai pesantren, budaya Jawa, spiritualitas, serta pengalaman perempuan ke ruang sastra dan sinema nasional.
Khilma mengaku bersyukur atas penghargaan yang diterimanya. Ia menilai pencapaian tersebut bukan semata hasil kerja pribadi, melainkan buah dari dukungan banyak pihak yang selama ini ikut membersamai perjalanan karyanya.
“Alhamdulillah, tentu saya bersyukur dan berterima kasih kepada Jawa Pos Radar Jember atas penghargaan ini. Saya tidak pernah melihat karya-karya yang saya lahirkan sebagai capaian saya sendiri. Ada banyak orang yang membersamai, ada pembaca, keluarga, para santri, teman-teman perempuan yang menjadi agen dan mitra, juga orang-orang yang selama ini ikut merawat karya-karya tersebut,” kata Khilma.
Pengalaman sebagai santri menjadi bagian penting dalam perjalanan kepenulisan Khilma. Ia pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas, Jombang, kemudian melanjutkan perjalanan intelektual pesantrennya di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta.
Lingkungan pesantren tidak sekadar menjadi latar dalam karya-karyanya. Dunia pesantren hadir melalui nilai kehidupan, tradisi, spiritualitas, kebudayaan, relasi sosial, serta dinamika perempuan yang kemudian diolah Khilma menjadi cerita yang dekat dengan pembaca.
Salah satu karya yang paling dikenal adalah novel Hati Suhita. Melalui karya tersebut, Khilma menghadirkan kehidupan pesantren, budaya Jawa, relasi keluarga, spiritualitas, dan pergulatan batin perempuan.
Hati Suhita sebelumnya ditulis Khilma sebagai cerita bersambung melalui Facebook pada 2019. Respons pembaca kemudian berkembang besar hingga jumlah pengikutnya mencapai sekitar 150 ribu.
Cerita yang pada awalnya terdiri atas 13 bab tersebut kemudian dikembangkan menjadi novel utuh sebanyak 33 bab dalam waktu sekitar tujuh bulan.
Popularitas Hati Suhita tidak berhenti di dunia sastra. Novel tersebut kemudian diadaptasi menjadi film layar lebar yang tayang pada 2023. Khilma turut terlibat dalam proses kreatif, termasuk penulisan skenario, pemilihan lokasi, hingga pemeran.
Karya tersebut kemudian juga dikembangkan menuju format serial. Perjalanan itu menunjukkan bagaimana cerita yang berangkat dari pengalaman dan nilai-nilai pesantren dapat berkembang ke medium lain dan menjangkau publik yang lebih luas.
“Bagi saya, menulis adalah bagian dari ngaji dan berdakwah. Ketika kemudian karya itu dibaca banyak orang, difilmkan, dan bisa ikut membuka ruang bagi perempuan untuk tumbuh dan mandiri, saya merasa karya itu menemukan jalan manfaatnya. Penghargaan ini justru menjadi pengingat agar saya tidak berhenti belajar dan berkarya,” ujarnya.
Kiprah Khilma juga berkembang di luar aktivitas sebagai novelis dan sineas. Ia membangun jejaring lebih dari 200 agen Hati Suhita yang seluruhnya perempuan.
Jejaring tersebut tersebar di Jawa, luar Jawa, hingga Malaysia dan Taiwan. Para perempuan yang terlibat tidak hanya berperan sebagai agen pemasaran buku, tetapi juga didorong untuk tumbuh secara mental dan ekonomi.
Khilma juga menjadikan jejaring tersebut sebagai bagian dari upaya membangun agen kebudayaan yang memahami karya, tradisi, pesantren, dan nilai-nilai yang dibawa melalui karya sastra.
Dari ekosistem itu kemudian berkembang berbagai produk kreatif seperti jilbab, mukena, tas, gelang, dan produk lainnya yang mengangkat unsur wayang serta tradisi Jawa.
Bagi Khilma, pemberdayaan perempuan memiliki keterkaitan erat dengan kekuatan keluarga dan masyarakat. Ia memandang perempuan perlu memiliki ilmu, pengalaman, kemandirian, kebijaksanaan, serta spiritualitas.
“Saya selalu percaya perempuan adalah soko guru, tiang penyangga keluarga dan masyarakat. Karena itu perempuan harus kuat. Kuat dengan ilmu, pengalaman, kemandirian, dan spiritualitas. Perempuan harus terus belajar, menjadi sumur sinaba, supaya kehadirannya selalu memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya,” tegasnya.
Pemikiran tersebut juga berkelindan dengan falsafah Jawa yang menjadi salah satu warna dalam karya dan pemikiran Khilma. Salah satunya wanita, wani tapa, yang menggambarkan pentingnya keteguhan, pengendalian diri, ketenangan batin, serta keterhubungan dengan Sang Pencipta.
Direktur Jawa Pos Radar Jember Choliq Baya mengatakan penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap konsistensi Khilma dalam berkarya sekaligus dampak yang dihasilkan dari perjalanan kreatifnya.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Khilma Anis atas dedikasi dan konsistensinya selama ini. Khilma menunjukkan bahwa sebuah karya tidak berhenti pada prestasi personal. Dari literasi, karyanya bergerak ke sinema, membawa kekayaan pesantren dan budaya kepada publik yang lebih luas, sekaligus tumbuh menjadi gerakan yang ikut memberdayakan perempuan,” kata Choliq.
Menurut Choliq, kemampuan Khilma membawa kekayaan lokal, dunia pesantren, dan perspektif perempuan ke ruang publik yang lebih luas menjadi salah satu kekuatan dalam perjalanan karyanya.
“Khilma Anis adalah salah satu sosok inspiratif dari Jember yang karyanya telah menjangkau jauh melampaui daerah kelahirannya. Kami berharap Khilma terus melahirkan karya-karya berkualitas, terus menginspirasi, dan semakin banyak memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya perempuan Indonesia untuk berani berkarya, mandiri, dan memberikan kontribusi terbaiknya,” ujarnya.
Choliq berharap Radar Jember Awards tidak berhenti sebagai penghargaan atas capaian, tetapi juga menjadi energi bagi para penerima penghargaan untuk terus berkarya dan memperluas manfaat bagi masyarakat.
“Kami ingin Radar Jember Awards menjadi ruang untuk memberikan apresiasi kepada figur-figur yang bekerja, berkarya, dan memberikan dampak. Semoga apa yang dilakukan Khilma menjadi inspirasi bahwa dari Jember kita bisa melahirkan karya, gagasan, dan gerakan yang memberi warna bagi Indonesia,” pungkasnya.
Penghargaan The Excellence in Literary, Cinematic, and Women’s Empowerment Award menambah catatan perjalanan Khilma Anis sebagai alumni pesantren yang membawa nilai-nilai dari lingkungan pendidikan yang pernah membentuknya ke ruang publik yang lebih luas.
Melalui sastra, Khilma menghadirkan cerita tentang pesantren, budaya Jawa, spiritualitas, dan perempuan. Karya tersebut kemudian bergerak menuju sinema, sementara jejaring pembaca dan perempuan yang dibangunnya berkembang menjadi ruang pemberdayaan.
Perjalanan itu juga memperlihatkan bagaimana pengalaman kepesantrenan dapat menjadi sumber gagasan yang terus berkembang dalam karya. Dari Tambakberas, nilai-nilai tersebut dibawa Khilma ke ruang sastra, film, hingga gerakan pemberdayaan perempuan.
Di tengah perjalanan tersebut, Khilma tetap memegang prinsip “klungsu-klungsu waton udu”, yakni lebih baik menghasilkan karya sederhana yang memberikan sumbangsih daripada berhenti pada angan-angan.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar