SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali memperkuat investasi sumber daya manusia berbasis pesantren. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa resmi meluncurkan Program Beasiswa Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Jawa Timur Tahun 2026 dengan menghadirkan terobosan baru berupa akses pendidikan bidang Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) bagi kalangan santri.
Peluncuran program tersebut berlangsung di Ruang Hayam Wuruk Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Rabu (10/6/2026). Program ini melengkapi skema beasiswa yang selama ini telah menjangkau jenjang sarjana, magister, doktor hingga pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Pemprov Jawa Timur dalam mencetak generasi pesantren yang unggul, berkarakter dan memiliki daya saing global menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut Gubernur Khofifah, penguatan kualitas SDM pesantren harus dilakukan melalui diversifikasi keilmuan agar para santri tidak hanya memiliki kompetensi keagamaan, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan zaman yang terus berkembang.
“Kita mencoba terus menguatkan kualitas SDM di Jawa Timur lewat diversifikasi akademik dengan memberikan akses bagi para santri dari berbagai pondok pesantren di Jawa Timur,” kata Khofifah.
Ia menjelaskan, program beasiswa pesantren sebenarnya telah berjalan sejak era Gubernur Imam Utomo, kemudian berlanjut pada masa Soekarwo dengan cakupan pendidikan S1. Program tersebut terus berkembang hingga membuka akses pendidikan S2, S3 serta studi ke Universitas Al-Azhar Mesir.
“Tahun ini yang baru lagi adalah santri-santri dari berbagai pondok pesantren sudah mendapat kesempatan untuk bisa masuk pada program dalam payung STEM. Program ini diharapkan bisa menguatkan diversifikasi profesi yang berbasis pesantren,” ujarnya.
Khofifah menilai pesantren memiliki posisi strategis dalam melahirkan generasi masa depan Indonesia. Karena itu, adaptasi terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari.
Ia bahkan mengutip pandangan ilmuwan dan diplomat internasional Kishore Mahbubani tentang pergeseran pusat peradaban dunia ke kawasan Asia. Menurutnya, Indonesia, khususnya Jawa Timur, harus mampu memanfaatkan momentum tersebut dengan menyiapkan SDM unggul yang memiliki karakter kuat.
“Sebetulnya gravitasi peradaban dunia ini sudah saatnya diwarnai oleh Asia. Kalau kita bersiap lebih awal, bukan tidak mungkin Indonesia, terutama Jawa Timur, bisa ikut mewarnai peradaban dunia,” ungkapnya.
Menurut Khofifah, integrasi pendidikan pesantren dengan bidang STEM merupakan bentuk afirmasi yang penting untuk mempercepat lahirnya generasi adaptif yang mampu bersaing secara global tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai keislaman.
Selain capaian akademik, mantan Menteri Sosial tersebut menegaskan pembangunan manusia tidak cukup diukur dari prestasi pendidikan semata. Aspek kebermanfaatan sosial dan kontribusi terhadap bangsa menjadi faktor penting dalam membangun kualitas SDM.
“Bukan hanya pendekatan academic achievement, tapi kebermanfaatannya dan peran-peran secara proaktif dalam berbagai sektor. Karena itu kita harus membangun sinergi dan kolaborasi yang kuat,” tegasnya.
Pada Tahun Anggaran 2026, Pemprov Jawa Timur melalui LPPD menyiapkan 1.100 kuota beasiswa bagi calon mahasiswa dan mahasantri. Rinciannya meliputi Program Marhalah Ula (M1) Ma’had Aly sebanyak 60 orang, Marhalah Tsaniyah (M2) sebanyak 45 orang, Program Sarjana (S1) PTKIS sebanyak 540 orang, Program Magister (S2) PTKIS sebanyak 285 orang dan Program Doktor (S3) PTKIN/PTKIS sebanyak 80 orang.
Selain itu, terdapat terobosan baru berupa 40 kuota Program Sarjana STEM Perguruan Tinggi Negeri, 20 kuota Magister STEM serta 30 beasiswa Magister Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Program tersebut membuka akses pendidikan di 64 perguruan tinggi mitra di Jawa Timur dan Universitas Al-Azhar yang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka di dunia.
Data Pemprov Jatim menunjukkan selama enam tahun terakhir Program Beasiswa LPPD telah menjangkau 7.976 mahasiswa dan mahasantri dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.580 orang telah menyelesaikan pendidikan sarjana, 1.325 orang lulus program magister dan 64 orang berhasil meraih gelar doktor. Bahkan hingga 2029 mendatang, Jawa Timur diproyeksikan memiliki tambahan sekitar 250 doktor dari program tersebut.
“Ini adalah investasi jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan oleh masyarakat Jawa Timur. Semakin banyak SDM unggul yang lahir dari pesantren, semakin besar kontribusinya terhadap pembangunan daerah, bangsa dan negara,” jelas Khofifah.
Ketua LPPD Jawa Timur Abd Halim Soebahar menyebut perhatian dan komitmen Gubernur Khofifah terhadap pendidikan pesantren telah melahirkan berbagai inovasi yang memperluas manfaat program.
Menurutnya, dukungan langsung Khofifah juga berperan besar dalam mengatasi berbagai kendala, termasuk persoalan visa, keberangkatan mahasiswa hingga penguatan Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA).
“Ibu Gubernur langsung koordinasi dengan Grand Syeikh. Alhamdulillah, semuanya bisa terselesaikan. Program ini terbukti melahirkan SDM yang sangat bagus untuk masa depan Jawa Timur,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Program Beasiswa LPPD Tahun 2026 antara Ketua LPPD Jawa Timur dan 63 perguruan tinggi mitra.
Khofifah berharap program tersebut menjadi fondasi penting dalam melahirkan generasi unggul berbasis pesantren yang mampu bersaing di tingkat global sekaligus memperkuat posisi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
“Ini investasi jangka panjang. Semakin banyak SDM unggul yang lahir dari pesantren, semakin besar manfaatnya bagi masyarakat, bangsa dan negara,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar