MATARAM, RadarBangsa.co.id – Kehamilan kembar tak selalu ditentukan faktor keturunan. Fakta ini kembali disorot setelah dokter spesialis kandungan di RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram mengungkap peluang hamil kembar tetap bisa terjadi meski pasangan tidak memiliki riwayat keluarga kembar.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Ida Bagus Yuda A., Sp.OG mengatakan, faktor genetik memang meningkatkan kemungkinan kehamilan kembar, terutama bila berasal dari garis ibu.
“Kalau dari pihak ibu ada riwayat kembar, kemungkinan terjadinya sekitar satu banding 62 orang. Sedangkan jika faktor keturunan berasal dari pihak ayah, peluangnya lebih kecil, yakni sekitar satu banding 104 orang,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi itu berkaitan dengan kemampuan seorang wanita menghasilkan lebih dari satu sel telur dalam satu masa ovulasi. Situasi tersebut membuka peluang terjadinya pembuahan ganda yang berujung pada kehamilan kembar.
Namun, ia menegaskan peluang tersebut tetap ada meski pasangan tidak memiliki riwayat keluarga kembar. Hanya saja, persentasenya relatif lebih kecil.
“Kalau tidak ada faktor keturunan memang peluangnya kecil, tapi bukan berarti tidak mungkin terjadi,” katanya.
Fenomena ini menjadi perhatian banyak pasangan muda yang tengah menjalani program kehamilan. Tidak sedikit masyarakat yang selama ini menganggap kehamilan kembar hanya bisa diwariskan secara turun-temurun.
Selain faktor genetik, dr. Yuda juga mengungkap peningkatan kasus kehamilan kembar kerap ditemukan pada program bayi tabung atau fertilisasi in vitro (IVF). Dalam prosedur tersebut, dokter biasanya memasukkan lebih dari satu embrio untuk memperbesar peluang kehamilan berhasil.
“Pada program bayi tabung biasanya bisa dimasukkan dua sampai tiga embrio. Karena itu kemungkinan tumbuh menjadi kehamilan kembar juga lebih besar,” jelasnya.
Meski demikian, tidak semua embrio yang dimasukkan akan berkembang menjadi janin. Tetapi jika lebih dari satu embrio berhasil tumbuh, maka kehamilan kembar dapat terjadi.
Di sisi lain, dokter mengingatkan bahwa kehamilan ganda memiliki risiko lebih tinggi dibanding kehamilan tunggal. Karena itu, kondisi kesehatan ibu tetap menjadi pertimbangan utama sebelum menjalani program kehamilan berbantu.
“Kehamilan kembar memang sering dianggap membawa kebahagiaan lebih bagi keluarga. Tapi risikonya juga lebih besar sehingga perlu pengawasan ketat selama masa kehamilan,” pungkasnya.
Penulis : Aini
Editor : Zainul Arifin


















Komentar