Pemkab Lamongan Angkat Bicara soal Putusan PTUN Staf Turi

Rabu, 28 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Bagian Hukum Setda Lamongan, M. Rois, memberikan klarifikasi terkait sengketa Sekdes Turi, Rabu 28 Januari 2025 (Foto Dok Ho/Nul -RadarBangsa.co.id)

Kepala Bagian Hukum Setda Lamongan, M. Rois, memberikan klarifikasi terkait sengketa Sekdes Turi, Rabu 28 Januari 2025 (Foto Dok Ho/Nul -RadarBangsa.co.id)

LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui Kepala Bagian Hukum Setda Lamongan, M. Rois, memberikan klarifikasi terkait dugaan pengabaian putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya oleh Staf Kepala Sub Bagian Umum Kecamatan Turi, SRT. Polemik ini sebelumnya disorot kuasa hukum pelapor yang menilai pengangkatan SRT sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) tidak sah.

Rois menegaskan, langkah Pemda Lamongan sudah sesuai prinsip hukum administrasi negara. Menurutnya, dalam karakteristik hukum PTUN, suatu Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) dianggap sah hingga dibatalkan oleh putusan pengadilan.

“Keberlakuan putusan PTUN bersifat ex tunc, sejak diputuskan dibatalkan, bukan ex nunc. KTUN itu bersifat dapat dibatalkan (vernetigebaar), bukan batal demi hukum (van rechtswege nietig),” ujar Rois, Rabu (28/1/2025).

Terkait surat somasi pertama hingga ketiga yang dikirim kuasa hukum H. Umar Wijaya, S.H., M.H., Rois mengaku belum mengetahui secara rinci isi somasi. Ia juga menambahkan belum jelas pihak yang diwakili Umar dalam somasi tersebut.

Sementara itu, Umar menegaskan putusan PTUN Surabaya telah berkekuatan hukum tetap tanpa upaya hukum lanjutan. “Kalau suatu putusan dibatalkan, itu harus melalui upaya hukum. Dalam kasus ini tidak ada upaya lanjutan, sehingga putusannya final dan mengikat,” jelasnya. Ia menekankan cacat hukum pada pengangkatan SRT sebagai Sekdes sudah sangat jelas dan berdampak pada status PNS yang bersangkutan.

Menurut Umar, sengketa ini bermula dari pemilihan Sekdes Turi sekitar 2003, dengan tiga calon: KNO, SRT, dan AMR. Hasil pemilihan dimenangkan Kasno, namun yang dilantik justru SRT. Amar putusan PTUN mengabulkan gugatan penggugat sepenuhnya, sehingga pengangkatan Suroto dinilai tidak sah secara hukum.

“Pengangkatan SRT  sebagai PNS berdasarkan jabatannya sebagai Sekdes cacat demi hukum. Gaji yang diterima seharusnya dikembalikan ke negara sejak awal,” pungkas Umar.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan
Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak
PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan
PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani
DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi
Gus Iqdam di Pasuruan: Serukan Ilmu, Akhlak, dan Sedekah
Paripurna, Fraksi Golkar DPRD Ngawi Soroti Defisit RAPBD 2027, Usulkan Stadion Baru Berkapasitas 40.000 Penonton
HKG PKK ke-54, Luthfiana Lukman Hakim Perkuat Peran Keluarga di Bangkalan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 23:43

SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:38

Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak

Kamis, 29 Oktober 2026 - 23:36

PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:47

PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:31

DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi

Berita Terbaru