Pesan Hakim Sebelum Putusan Kasus RPHU Lamongan: ‘Kalau Bisa Bebas, Silakan Bebas’

Jumat, 15 Agustus 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Majelis Hakim Ni Putu Sri Indayani memimpin sidang kasus dugaan korupsi proyek Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) Lamongan di Pengadilan Tipikor Surabaya, Kamis (14/8/2025) (Foto Dok Duta.co Ho/RadarBangsa.co.id)

Ketua Majelis Hakim Ni Putu Sri Indayani memimpin sidang kasus dugaan korupsi proyek Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) Lamongan di Pengadilan Tipikor Surabaya, Kamis (14/8/2025) (Foto Dok Duta.co Ho/RadarBangsa.co.id)

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Fakta baru muncul dalam sidang dugaan korupsi proyek Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) Lamongan di Pengadilan Tipikor Surabaya. Nama Moch. Wahyudi, terdakwa sekaligus mantan Kepala Dinas Peternakan, ternyata tak pernah disebut dalam keterangan saksi maupun terdakwa lain.
Pengadilan Tipikor Surabaya kembali menggelar sidang kasus dugaan korupsi proyek Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) Lamongan, Kamis (14/8/2025), dengan agenda pemeriksaan terdakwa Moch. Wahyudi. Dalam proses tersebut, terungkap bahwa baik saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) maupun dua terdakwa lain, Sandi dan Davis, tidak pernah menyebut nama Wahyudi terkait keterlibatan dalam proyek, baik pada tahap perencanaan, proses lelang, maupun pelaksanaan.

Sidang yang teregister dengan nomor perkara 72/Pid.Sus-TPK/2025/PN Sby dipimpin Ketua Majelis Hakim Ni Putu Sri Indayani, SH, dengan anggota Ibnu Abbas Ali, SH, dan Athoillah, SH. Jaksa mempertanyakan peran Wahyudi sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut.

Wahyudi menjelaskan bahwa tugasnya mencakup penyusunan berita acara, perencanaan, hingga surat permohonan. Ia menegaskan, tidak menandatangani dokumen Berita Acara Kaji Ulang Pengurukan yang menjadi salah satu dasar kelanjutan proyek. “Mestinya proyek itu tidak dilanjutkan karena tidak ada tanda tangan saya,” ujarnya di hadapan majelis hakim.

Jaksa juga menyinggung tanggung jawab atas dokumen pengadaan, HPS, RAB, dan kontrak. Wahyudi mengakui secara hukum PPK bertanggung jawab, namun pelaksana teknis berada di bawah PPTK, tim pengadaan, dan tim teknis. Ia menambahkan, penunjukan dirinya sebagai PPK dilakukan karena jabatannya sebagai Kepala Dinas, bukan atas inisiatif pribadi.

Kuasa hukum Wahyudi, Muhammad Ridlwan, SH, menegaskan bahwa tidak ada bukti yang menguatkan dakwaan Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) KUHP terhadap kliennya. “Pasal 55 mensyaratkan adanya kesepakatan dan niat jahat. Fakta persidangan membuktikan tidak ada hal itu. Pak Wahyudi hanya menjalankan fungsi administratif dengan itikad baik,” kata Ridlwan.

Ia juga mengungkap bahwa dugaan kerugian negara sebesar Rp92 juta yang ditemukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah dikembalikan oleh rekanan sebelum proses penyidikan. Temuan dari Kantor Akuntan Publik yang dianggap tidak jelas pun telah dilunasi pihak ketiga. “Kerugian negara sudah dipulihkan, bahkan RPHU memberi manfaat sebagai sumber PAD Lamongan. Memaksakan perkara ini adalah bentuk ketidakadilan,” ujarnya.

Menurut Ridlwan, perkara ini sarat tebang pilih. “Banyak kasus lain dengan kerugian lebih besar dihentikan setelah kerugian dikembalikan. Di sini, meski kerugian sudah dipulihkan, perkara tetap dilanjutkan. Kami berharap majelis hakim obyektif,” tambahnya.

Sebelum menutup sidang, Ketua Majelis Hakim Ni Putu Sri Indayani menyampaikan bahwa putusan akan didasarkan pada fakta hukum dan pertimbangan nurani. “Putusan nanti akan membuka peluang upaya hukum, baik banding maupun kasasi. Kalau bisa bebas, silakan bebas,” tegasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Rumah Lansia di Deket Lamongan Dibobol, HP dan Perhiasan Emas Hilang
Arisan Bodong di Lamongan Rugikan Korban Rp132 Juta, Tersangka Ditangkap di Batam
Berawal dari Penyelidikan Pencurian Ayam, Polisi Lamongan Ungkap Curanmor
Warga Bluluk Lamongan Temukan Granat dan 41 Amunisi di Kebun Jati
Terduga Pelaku Curanmor Tewas usai Tabrak Median JLU Timur Lamongan
58 HP Senilai Rp310 Juta Dicuri, Pelarian Pembobol Konter Sragen Berakhir
Sterilisasi Stadion Surajaya, Polres Lamongan Temukan 14 Orang Konsumsi Miras
Beras SPHP Dibeli Rp1.750, Dijual Rp12.200 per Kg, 4 Tersangka Ditangkap

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 20:34

Rumah Lansia di Deket Lamongan Dibobol, HP dan Perhiasan Emas Hilang

Kamis, 5 November 2026 - 10:30

Arisan Bodong di Lamongan Rugikan Korban Rp132 Juta, Tersangka Ditangkap di Batam

Rabu, 4 November 2026 - 18:59

Berawal dari Penyelidikan Pencurian Ayam, Polisi Lamongan Ungkap Curanmor

Selasa, 3 November 2026 - 20:02

Warga Bluluk Lamongan Temukan Granat dan 41 Amunisi di Kebun Jati

Selasa, 3 November 2026 - 09:53

Terduga Pelaku Curanmor Tewas usai Tabrak Median JLU Timur Lamongan

Berita Terbaru