SURABAYA, RadarBangsa.co.id — Pengukuhan Duta Parlemen Muda (DPM) menjadi momentum penting untuk menegaskan arah baru keterlibatan generasi muda dalam politik. Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menekankan bahwa politisi muda tidak cukup hanya aktif, tetapi harus mampu membaca kebutuhan riil masyarakat secara kontekstual di tiap daerah.
Menurut Lia, perbedaan karakter wilayah di Indonesia menuntut pendekatan kebijakan yang tidak seragam. Ia menilai, kegagalan memahami kondisi lokal berpotensi melahirkan kebijakan yang tidak efektif bahkan merugikan masyarakat.
“Duta parlemen muda harus benar-benar mengerti keinginan masyarakat di setiap wilayah. Tidak semua daerah bisa diperlakukan sama. Semua harus dibaca secara situasional, adaptif, dan inventif,” ujarnya, Senin (27/4).
Pernyataan ini menjadi sorotan karena berkaitan langsung dengan kualitas pelayanan publik dan pemerataan pembangunan. Kebijakan yang tidak tepat sasaran kerap berdampak pada ketimpangan infrastruktur, ekonomi, hingga akses layanan dasar warga.
Dalam arahannya, Lia juga memperkenalkan pendekatan *contingency theory* sebagai landasan kepemimpinan politisi muda. Teori ini menekankan pentingnya fleksibilitas dalam merumuskan kebijakan sesuai kondisi lapangan.
Ia mencontohkan ketimpangan distribusi manfaat dari sektor kendaraan bermotor. Kota besar seperti Surabaya memperoleh Pendapatan Asli Daerah (PAD) tinggi, namun dampak kerusakan jalan justru dirasakan oleh daerah lain yang tidak mendapatkan pemasukan sebanding.
“Kita mendapatkan pemasukan besar dari kendaraan, tapi jalan yang dilalui tidak hanya di kota besar. Daerah lain ikut menanggung kerusakan, tapi tidak mendapat manfaat. Ini yang harus diselesaikan lewat kebijakan yang adil,” tegasnya.
Isu tersebut menjadi relevan dalam konteks kebijakan fiskal dan pemerataan pembangunan daerah. Jika tidak diantisipasi, ketimpangan ini dapat memicu ketidakpuasan publik dan memperlebar kesenjangan antarwilayah.
Selain aspek kebijakan, Lia juga menyoroti pentingnya ketangguhan mental atau resiliensi bagi politisi muda. Ia menilai dunia politik yang dinamis menuntut kemampuan bertahan, beradaptasi, dan tetap konsisten dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.
“Kalian harus menjadi pribadi yang kuat. Resiliensi itu bagaimana tetap tangguh menghadapi tantangan,” ujarnya.
Lebih jauh, Lia mengajak generasi muda untuk membangun demokrasi yang sehat melalui pendekatan inklusif dan edukatif. Ia menekankan pentingnya dialog, pemahaman lintas perbedaan, serta peningkatan literasi politik di tengah masyarakat.
Di era digital, peran politisi muda dinilai semakin strategis. Pemanfaatan teknologi dapat memperkuat komunikasi publik, memperluas partisipasi, dan mempercepat penyerapan aspirasi warga.
“Kalian punya ruang untuk speak up. Tanyakan pada diri sendiri, apa yang bisa dilakukan untuk negara. Maksimalkan kolaborasi dan konvergensi digital,” pungkas Lia.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar