KEDIRI, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyoroti meningkatnya persoalan sosial yang dipicu maraknya pinjaman online (pinjol) ilegal, terutama yang menjerat kalangan muda dan perempuan. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan serius yang membutuhkan penguatan ketahanan keluarga, peran perempuan, serta pendampingan spiritual yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
Pesan itu disampaikan Khofifah saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Idarah Aliyah Lajnah Wathanah JATMAN (Jamaah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah) di Pondok Pesantren Al Islahiyyah Mayan, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Minggu (21/6). Kegiatan yang berlangsung pada 20-21 Juni 2026 tersebut mengangkat tema “Memperkokoh Peran Perempuan Tarekat dalam Membangun Keluarga dan Bangsa”.
Dalam forum yang juga dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi, Khofifah menegaskan perempuan tarekat memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan keluarga sekaligus memperkuat fondasi moral masyarakat.
Menurutnya, perempuan bukan hanya pendidik pertama bagi anak-anak dalam keluarga, melainkan juga menjadi penggerak lahirnya masyarakat yang tangguh secara spiritual, sosial, dan ekonomi. Peran tersebut semakin penting ketika berbagai persoalan sosial terus berkembang dan berdampak langsung pada kehidupan keluarga.
“Perempuan tarekat tidak hanya berperan sebagai pendidik pertama dalam keluarga, tetapi juga menjadi penggerak lahirnya masyarakat yang tangguh secara spiritual, sosial, dan ekonomi,” kata Khofifah.
Ia menilai Rakernas yang dihadiri para mursyid dan jamaah tarekat dari berbagai daerah menjadi momentum memperkuat keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Keseimbangan itu, menurutnya, harus diwujudkan melalui penguatan nilai keagamaan yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Karena itu, Khofifah menekankan pentingnya mengintegrasikan dakwah bil lisan, dakwah bil hal, dan dakwah bil maal. Ketiga pendekatan tersebut dinilai mampu menghadirkan manfaat langsung sekaligus menjawab berbagai kebutuhan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
“Ini menjadi bagian yang sangat penting untuk bisa memberikan penguatan bagaimana dakwah bil lisan, diikuti oleh dakwah bil hal dan dikuatkan lagi dengan dakwah bil maal,” ujarnya.
Sorotan utama Khofifah tertuju pada maraknya praktik pinjaman online ilegal yang semakin banyak menyasar masyarakat. Ia mengingatkan bahwa kelompok jamaah dan keluarga harus meningkatkan kewaspadaan agar tidak terjebak dalam praktik keuangan yang merugikan tersebut.
Menurutnya, perempuan memiliki peran penting dalam memberikan edukasi serta penguatan kepada anggota keluarga agar mampu mengelola keuangan secara sehat. Penguatan ekonomi keluarga juga menjadi bagian dari upaya mencegah masyarakat terjerumus ke dalam jeratan rentenir maupun pinjol ilegal.
“Hari ini starting point kita, para bunda solihah yang tergabung dalam Wathanah, semuanya menurut saya bagian sangat penting untuk saling memberikan penguatan. Kalau tidak, jamaah panjenengan tidak bisa dipungkiri potensial terjebak pada rentenir, dan harus diwaspadai pinjol ilegal,” ungkapnya.
Keprihatinan Khofifah bukan tanpa alasan. Ia mengaku memperoleh laporan terkait meningkatnya dampak psikologis yang dialami korban pinjaman online, khususnya generasi muda.
Saat berkunjung ke Rumah Sakit Menur Surabaya yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Khofifah mendapatkan informasi mengenai pasien yang mengalami gangguan psikososial akibat tekanan ekonomi setelah tidak mampu melunasi utang pinjaman online.
“Ada RS Menur yang dikelola Pemprov Jatim, kemarin malam saya ke sana, saya mendapat update bagaimana kamar-kamar bagi pasien yang kemudian secara psikososial itu bermasalah karena mereka tidak bisa bayar pinjol. Itu rata-rata anak muda dan kecenderungannya perempuan,” jelasnya.
Fenomena tersebut, menurut Khofifah, menunjukkan bahwa persoalan pinjaman online tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga menyentuh kesehatan mental masyarakat. Karena itu, keluarga harus menjadi ruang pertama yang mampu memberikan perlindungan, pendampingan, dan ketenangan bagi anggota keluarga yang menghadapi tekanan hidup.
Ia mengingatkan bahwa banyak persoalan psikologis tidak terlihat secara kasat mata sehingga sering kali tidak terdeteksi sejak awal. Dalam kondisi seperti itu, komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan mental keluarga.
“Ini bagian penting menjaga sehat lahir sehat batin. Banyak persoalan yang sakit batinnya, karena tidak tampak maka dianggap baik-baik saja. Itulah pentingnya keluarga untuk meneduhkan hati jiwa kehidupan anak-anak,” terangnya.
Khofifah juga mendorong seluruh keluarga untuk membangun family resilience atau ketahanan keluarga melalui komunikasi yang terbuka dan penuh kasih sayang. Kehadiran orang tua dinilai menjadi kunci dalam membangun rasa aman serta kepercayaan diri anak di tengah derasnya tantangan sosial dan perkembangan teknologi digital.
Selain penguatan keluarga, Khofifah mengajak Wathanah JATMAN memperluas pemberdayaan ekonomi umat. Menurutnya, organisasi keagamaan yang memiliki kemandirian ekonomi akan mampu memperkuat dakwah sekaligus menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
“Ini menjadi pekerjaan bersama yang harus terus kita ikhtiarkan. Dakwah akan semakin kuat apabila dibarengi dengan kemandirian ekonomi umat,” tegasnya.
Ia berharap jaringan Wathanah JATMAN yang tersebar di berbagai daerah dapat mengambil peran lebih besar dalam edukasi keluarga, pembinaan moral, penguatan spiritualitas, serta pemberdayaan perempuan.
“Dengan jaringan organisasi yang tersebar di berbagai daerah, Wathanah JATMAN memiliki potensi besar untuk memperkuat edukasi keluarga, pembinaan moral, penguatan spiritualitas, serta pemberdayaan perempuan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri PPPA Arifah Fauzi mengapresiasi konsistensi Wathanah JATMAN dalam memperkuat ketahanan keluarga melalui pendekatan keagamaan. Ia menilai perempuan dan anak memiliki posisi strategis dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Menurut Arifah, kolaborasi antara pemerintah dan organisasi keagamaan perlu terus diperkuat agar upaya pemberdayaan perempuan menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat. Rakernas tersebut dinilai menjadi ruang penting untuk memperkuat nilai keislaman sekaligus membangun ketahanan keluarga.
“Perempuan dan anak punya peran penting, artinya perannya sangat strategis menuju Indonesia Emas 2045. Maka Rakernas ini merupakan wasilah memperkuat nilai keislaman dan ketahanan keluarga,” kata Arifah.
Ia berharap Lajnah Wathanah JATMAN dapat terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat perlindungan perempuan dan anak di seluruh Indonesia.
“Oleh karena itu, saya berharap Lajnah Wathanah JATMAN ini menjadi mitra strategis bagaimana kita berkolaborasi bersinergi, bekerja sama menguatkan perempuan di seluruh Indonesia,” harapnya.
Sementara itu, Mudir ‘Ali JATMAN Ali Masykur Musa menyebut kehadiran Gubernur Jawa Timur dan Menteri PPPA menjadi energi baru bagi seluruh peserta Rakernas. Ia mengajak jamaah untuk terus memperkuat amaliah ruhaniyah sebagai fondasi membangun pribadi yang berakhlak dan masyarakat yang berkeadaban.
Menurutnya, penguatan spiritual melalui dzikir, istighasah, dan manaqib tetap menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan moral masyarakat di tengah berbagai tantangan zaman.
“Perempuan adalah tiangnya agama, tiangnya negara. Maka jangan lupa dzikir yang kuat, istighosah dan manaqib yang kuat. Itulah amalan ruhaniyah yang bisa menjadikan kita ma’rifatullah. Carilah olehmu wasilah, carilah mursyid, carilah thoriqoh, supaya dimudahkan masuk surga,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar