RUU Perlindungan Konsumen Dibahas di Jakarta, Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama Dorong Transparansi E-Commerce

Selasa, 20 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI Lia Istifhama menyampaikan pandangan dalam RDP pembahasan RUU Perlindungan Konsumen di Jakarta. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Anggota DPD RI Lia Istifhama menyampaikan pandangan dalam RDP pembahasan RUU Perlindungan Konsumen di Jakarta. (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

JAKARTA, RadarBangsa.co.id — Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan pentingnya kejelasan identitas dan alamat offline penjual dalam ekosistem perdagangan digital. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Konsumen di Jakarta, Senin (19/1/2026), sebagai langkah memperkuat perlindungan konsumen di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital.

Dalam forum resmi tersebut, Lia menilai regulasi perlindungan konsumen perlu disesuaikan dengan karakter perdagangan digital yang kian dominan. Salah satu aspek krusial yang disorot adalah kewajiban platform e-commerce memastikan setiap penjual memiliki identitas dan alamat usaha offline yang jelas.

“Dalam transaksi daring, konsumen sering kali hanya melihat etalase digital. Padahal, mereka berhak mengetahui siapa penjualnya dan di mana alamat usahanya sebagai bentuk perlindungan hukum,” ujar Lia Istifhama, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, saat RDP di Jakarta.

Menurutnya, tanpa kejelasan tersebut, posisi konsumen menjadi lemah ketika menghadapi persoalan seperti barang tidak sesuai, keterlambatan pengiriman, hingga sengketa transaksi.

Lia mengaitkan pentingnya transparansi penjual dengan fenomena Rojali dan Rohana yang selama ini dikenal di pusat perbelanjaan. Rojali merujuk pada rombongan jarang beli, sedangkan Rohana adalah rombongan hanya nanya, yang menggambarkan ramainya pengunjung tanpa diiringi transaksi nyata.

“Di mall kita mengenal Rojali dan Rohana. Ramai, tapi tidak jadi beli. Kalau e-commerce tidak transparan soal identitas dan alamat penjual, pola seperti itu bisa terjadi juga di ruang digital,” katanya.

Ia menilai, ketidakpastian identitas penjual berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan konsumen, sehingga transaksi hanya berhenti pada tahap melihat dan bertanya tanpa keputusan membeli.

Lia menegaskan, kewajiban mencantumkan alamat offline bukan bertujuan membatasi fleksibilitas belanja online atau mempersulit pelaku usaha kecil. Sebaliknya, kebijakan tersebut menjadi penanda akuntabilitas dan keberadaan usaha yang nyata.

“Belanja online harus jelas: siapa penjualnya, di mana alamat usahanya, dan bagaimana tanggung jawabnya terhadap produk yang dijual. Transparansi ini justru akan memperkuat kepercayaan konsumen,” jelasnya.

Dengan alamat yang jelas, konsumen memiliki rujukan fisik apabila terjadi masalah, sementara pelaku usaha terdorong untuk lebih profesional dalam menjaga kualitas produk dan layanan.

Selain regulasi, Lia juga menekankan pentingnya literasi belanja digital bagi masyarakat. Ia mendorong konsumen agar lebih kritis dan tidak semata tergiur harga murah tanpa mempertimbangkan kredibilitas penjual.

“Belanja online bukan hanya soal klik dan bayar. Ini soal informasi yang lengkap dan rasa aman. Kejelasan alamat offline adalah bagian dari edukasi konsumen,” tegas Lia.

Melalui penguatan substansi dalam RUU Perlindungan Konsumen, Lia berharap ekosistem e-commerce nasional dapat tumbuh secara sehat, berkelanjutan, dan berkeadilan. “Kalau kepercayaan publik terbangun, transaksi akan meningkat secara alami dan berkesinambungan,” pungkas Lia Istifhama.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan
Sterilisasi Stadion Surajaya, Polres Lamongan Temukan 14 Orang Konsumsi Miras
Beras SPHP Dibeli Rp1.750, Dijual Rp12.200 per Kg, 4 Tersangka Ditangkap
Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak
PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan
Polisi Ungkap Pencurian Dana BNI Rp42,05 Juta di Ukui
PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani
DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 23:43

SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:13

Sterilisasi Stadion Surajaya, Polres Lamongan Temukan 14 Orang Konsumsi Miras

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:03

Beras SPHP Dibeli Rp1.750, Dijual Rp12.200 per Kg, 4 Tersangka Ditangkap

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:38

Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak

Kamis, 29 Oktober 2026 - 23:36

PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan

Berita Terbaru