JEMBER, RadarBangsa.co.id — Pendidikan politik tak lagi hanya menyasar mahasiswa atau pelajar SMA. Di tengah derasnya arus informasi digital dan meningkatnya penyebaran hoaks politik, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Jember mulai menyasar siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai calon pemilih pemula masa depan.
Program bertajuk “Generasi Muda dan Partisipasi Dalam Pembangunan Bangsa (Masa Depan Demokrasi Ada Di Tanganmu)” itu digelar di Aula Nusantara Bakesbangpol Jember, Rabu (20/05/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan pelajar dari SMPN 7, SMPN 8, SMPN 9, SMPN 10, dan SMPN 11 Jember. Langkah ini menjadi terobosan baru karena edukasi politik biasanya hanya menyasar kalangan SMA dan perguruan tinggi.
Kepala Bidang Politik Dalam Negeri Bakesbangpol Jember, Dwi Handarisasi, mengatakan para siswa SMP saat ini diproyeksikan sudah memasuki usia pemilih pada Pemilu 2029 dan Pilkada serentak 2031.
Karena itu, pendidikan politik sejak dini dinilai menjadi investasi jangka panjang untuk menjaga kualitas demokrasi di masa depan.
“Dari pendidikanlah tumbuh semangat untuk membela nusa dan bangsa. Munculnya Sumpah Pemuda itu diawali dari kaum pendidik atau mereka yang memiliki pendidikan. Merekalah yang lebih memahami bagaimana kita bisa hidup lebih merdeka,” terang Dwi.
Menurutnya, generasi muda tidak boleh tumbuh menjadi pemilih yang cuek terhadap arah bangsa. Di era media sosial, pelajar justru menjadi kelompok yang paling rentan terpapar informasi palsu dan propaganda politik yang menyesatkan.
Karena itu, materi pendidikan politik yang diberikan tidak hanya membahas demokrasi, tetapi juga cara berpikir kritis dalam menilai program dan visi calon pemimpin.
Narasumber dari Tim Pengarah Percepatan Pembangunan Daerah (TP3D) Kabupaten Jember, Evi Lestari, menegaskan pentingnya membentuk karakter pemilih rasional sejak usia sekolah.
“Kita ingin mereka nantinya menjadi pemilih yang rasional, bukan emosional. Keputusan politik yang mereka ambil di masa depan harus didasarkan pada pertimbangan yang matang demi kemajuan daerah dan bangsa,” tegasnya.
Sementara itu, pengamat politik Cak Kusbandono mengingatkan bahwa politik tidak selalu identik dengan perebutan kekuasaan.
Ia menilai pelajar perlu memahami politik dari sisi paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti musyawarah, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
“Bagi adik-adik di bangku SMP, politik itu adalah bagaimana kita menghidupkan budaya musyawarah untuk mencapai mufakat, belajar bertanggung jawab atas keputusan bersama, dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap kepentingan lingkungan sekitar,” urainya.
Langkah Bakesbangpol Jember ini menjadi sinyal bahwa pendidikan demokrasi tidak bisa lagi ditunda. Ketika hoaks, politik identitas, dan apatisme mulai mengancam generasi muda, sekolah dinilai menjadi ruang penting untuk membangun kesadaran politik yang sehat sejak dini.
“Demokrasi yang kuat lahir dari generasi yang sadar, kritis, dan peduli terhadap masa depan bangsanya,” pungkasnya.
Penulis : Herry
Editor : Zainul Arifin


















Komentar