BANYUWANGI, RadarBangsa.co.id – Di Desa Kemiren, aroma kopi tak sekadar menggoda penciuman, tetapi juga menjadi simbol keramahan. Setiap tahun, jalan utama desa di Kecamatan Glagah ini disulap menjadi lautan cangkir dalam ajang Festival Ngopi Sewu, sebuah perayaan yang menyatukan ribuan warga dan wisatawan dalam suasana kekeluargaan khas masyarakat Osing.
Di depan setiap rumah, warga menyiapkan kopi dalam cangkir khas Banyuwangi untuk menyambut tamu yang datang dengan senyum tulus. Tradisi ini bukan hanya pesta minum kopi, melainkan cerminan filosofi hidup masyarakat Osing: suguh, gupuh, lungguh etika dalam menerima tamu dengan penuh penghormatan.
“Setiap tamu yang datang harus mendapat suguhan, meski hanya secangkir kopi,” ujar Suhaimi, Ketua Adat Osing di Desa Kemiren. “Suguh berarti memberi hidangan, gupuh itu menyambut dengan antusias, dan lungguh bermakna menyediakan tempat yang nyaman bagi tamu.”
Falsafah sederhana itu menjadi napas bagi seluruh kegiatan di desa adat ini. Tak heran, Festival Ngopi Sewu disebut warga sebagai perwujudan nyata nilai suguh, gupuh, lungguh dalam bentuk paling hangat: berbagi kopi dengan siapa saja yang datang.
Desa Kemiren adalah rumah bagi masyarakat Osing, suku asli Banyuwangi yang masih menjaga adat leluhur dengan teguh. Dari bahasa, rumah tradisional, hingga ritual seperti Tumpeng Sewu, Barong Ider Bumi, dan Mocoan Lontar Yusuf, semua diwariskan lintas generasi tanpa kehilangan makna.
Setiap Minggu pagi, desa ini juga hidup dengan Pasar Kuliner Tradisional, tempat wisatawan bisa mencicipi Pecel Pitik, Ayam Kesrut, dan aneka kudapan tempo dulu yang menggugah selera. Tak jauh dari situ, sanggar Tari Gandrung ikon seni Banyuwangi tetap aktif melatih penari muda yang menjaga denyut kebudayaan Osing tetap hidup.
Komitmen warga menjaga tradisi kini berbuah pengakuan internasional. Desa Wisata Adat Osing Kemiren resmi masuk dalam jaringan The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025 yang digagas United Nations Tourism (UN Tourism). Penghargaan itu diumumkan dalam Best Tourism Villages by UN Tourism-2025 Ceremony & Third Annual Network Meeting di Huzhou, Tiongkok, pada 17 Oktober 2025.
Kemiren terpilih setelah melewati seleksi ketat bersama 270 desa wisata dari 65 negara. Penghargaan ini menegaskan posisi Kemiren bukan sekadar destinasi lokal, tetapi contoh global tentang harmoni antara budaya, pariwisata, dan keberlanjutan.
Meski bukan daerah penghasil kopi, Kemiren menjelma menjadi surga bagi penikmatnya. Di sepanjang jalan desa, berdiri kedai-kedai kopi tradisional yang setiap harinya ramai dikunjungi pelancong dari berbagai daerah.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut Kemiren sebagai bukti bahwa kemajuan tidak harus meninggalkan akar budaya. “Kemiren telah menunjukkan bahwa desa dengan akar budaya yang kuat bisa maju dan mendunia tanpa kehilangan jati dirinya. Ini menjadi semangat bagi kami untuk terus memperkuat pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Ipuk.
Lainnya:
- Tekan Stunting, Bangkalan Genjot Tanam Padi Biofortifikasi Kaya Zat Besi
- May Day 2026: Saat Buruh Masih Rentan, BPJS Ketenagakerjaan Cairkan Santunan Rp744 Juta di Lamongan
- Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








