Tragedi Musala Ambruk di Sidoarjo : Anggota DPD RI Lia Istifhama Suarakan Pemulihan Mental Santri

- Redaksi

Jumat, 3 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI, Dr. Lia Istifhama, saat menjenguk santri korban ambruknya musala Ponpes Al-Khoziny di RS Siti Hajar, Sidoarjo (Dok Foto Ho/RadarBangsa.co.id)

Anggota DPD RI, Dr. Lia Istifhama, saat menjenguk santri korban ambruknya musala Ponpes Al-Khoziny di RS Siti Hajar, Sidoarjo (Dok Foto Ho/RadarBangsa.co.id)

SIDOARJO, RadarBangsa.co.id – Ambruknya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, pada Senin (29/9) sore, menyisakan duka mendalam. Tragedi yang merenggut ketenangan para santri ini tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma psikologis yang sulit terlihat oleh mata.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Dr. Lia Istifhama, menegaskan bahwa pemulihan mental anak-anak korban peristiwa ini sama pentingnya dengan perawatan medis. Dalam kunjungannya ke RS Siti Hajar, Kamis (2/10), ia menyaksikan langsung kondisi para santri yang masih dalam perawatan.

“Anak-anak ini luar biasa tegar. Mereka punya resiliensi yang tinggi, bisa tersenyum meski dalam keadaan sakit. Namun kita tidak boleh menutup mata. Mereka baru saja mengalami pengalaman traumatis yang bisa membekas hingga dewasa. Maka, trauma healing menjadi kebutuhan mendasar, bukan sekadar tambahan,” tegas Lia.

Di ruang perawatan, suasana haru begitu terasa. Royhan (16) asal Bangkalan, yang mengalami retak pada kaki dan tangan, berusaha menahan rasa sakit. Meski tubuhnya masih diperban dan digips, ia berupaya tersenyum di hadapan ibunya, Mayuni. Senyum tipis itu mencerminkan kekuatan batin, meski di dalamnya masih tersimpan ketakutan.

Tidak jauh dari sana, Abdin Ramadhani (18) asal Probolinggo tampak lemah. Ia mengalami mimisan dan muntah akibat gumpalan pada pembuluh darah di kepalanya. Sang ibu, Munik, tidak pernah melepas genggaman tangannya, sembari berzikir memohon kesembuhan.

Sementara Shaka Nabil (16) asal Lumajang, dengan kepala masih diperban, menyapa Lia meski suaranya lirih. Ia tampak pucat, tetapi tetap menunjukkan ketenangan berkat kehadiran sang ibu, Suparti, yang setia mendampingi tanpa menunjukkan rasa panik.

Lia menilai, dukungan emosional keluarga menjadi pondasi utama bagi proses pemulihan psikologis. “Saya kagum dengan para ibu yang begitu sabar mendampingi anak-anaknya. Kehadiran orang tua, kelembutan, dan doa adalah bentuk trauma healing pertama yang paling ampuh,” ungkapnya.

Menurutnya, anak-anak akan lebih cepat pulih jika merasa aman dan disayangi. Tanpa itu, luka batin bisa berkembang menjadi trauma berkepanjangan yang menghambat tumbuh kembang mereka.

Senator yang dikenal aktif dalam isu sosial dan pendidikan itu juga menyoroti pentingnya keterlibatan pemerintah dan lembaga terkait. Ia mendorong penyediaan tenaga psikolog, konselor, hingga pendamping rohani untuk membantu para santri dalam masa pemulihan.

“Selain pengobatan medis, mereka butuh ruang untuk menyalurkan perasaan—untuk menangis, bercerita, dan mendapat penguatan. Pendampingan psikologis bisa mencegah trauma berkembang menjadi masalah serius di kemudian hari. Dengan penanganan yang tepat, mereka pasti bisa bangkit,” jelas Ning Lia, putri KH Maskur Hasyim itu.

Para orang tua korban juga menyampaikan kerinduan yang sama: ingin melihat anak-anak mereka kembali ceria. “Kami hanya ingin anak-anak bisa sekolah lagi, bisa mengaji lagi, tanpa ketakutan,” ucap Suparti dengan suara lirih, menggenggam erat tangan putranya.

Tragedi musala ambruk ini bukan sekadar peristiwa kecelakaan bangunan. Bagi para korban, pengalaman tersebut bisa meninggalkan ingatan traumatis yang memengaruhi keseharian, bahkan masa depan mereka. Di sinilah peran trauma healing menjadi kunci agar para santri dapat kembali menjalani hidup dengan normal.

Sebagaimana ditegaskan Lia, pendampingan psikologis bukan hanya soal sesi konseling formal, tetapi juga hadir melalui pelukan ibu, doa yang terus dipanjatkan, dan rasa aman yang diciptakan di lingkungan terdekat.

“Trauma healing adalah investasi bagi masa depan anak-anak. Jika luka batin ini pulih, maka semangat mereka untuk kembali belajar dan beribadah akan tumbuh lebih kuat,” pungkas Lia Istifhama.

Lainnya:

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Tekan Stunting, Bangkalan Genjot Tanam Padi Biofortifikasi Kaya Zat Besi
May Day 2026: Saat Buruh Masih Rentan, BPJS Ketenagakerjaan Cairkan Santunan Rp744 Juta di Lamongan
Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal
Menteri PKP Turun ke Bangkalan, 573 Rumah Warga Siap Dibedah Tahun Ini
Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948
Saat Dunia Memanas, Khofifah Pilih Panggung Nyepi untuk Serukan Stop Perang Global
Jembatan Tarik Nyaris Tumbang, Pemkab Sidoarjo Pastikan Dibangun 2027
BPBD Batang Dorong Adaptasi Rob, Kawasan Terdampak Disulap Jadi Wisata Perikanan

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 17:54 WIB

Tekan Stunting, Bangkalan Genjot Tanam Padi Biofortifikasi Kaya Zat Besi

Senin, 4 Mei 2026 - 11:41 WIB

May Day 2026: Saat Buruh Masih Rentan, BPJS Ketenagakerjaan Cairkan Santunan Rp744 Juta di Lamongan

Minggu, 3 Mei 2026 - 22:58 WIB

Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:38 WIB

Menteri PKP Turun ke Bangkalan, 573 Rumah Warga Siap Dibedah Tahun Ini

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:02 WIB

Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948

Berita Terbaru