Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama: Influencer Tak Cukup Viral, Ketenangan Batin Menentukan Dampak Pesan

Selasa, 13 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI Lia Istifhama Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id

Anggota DPD RI Lia Istifhama Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id

SURABAYA, RadarBangsa.co.id — Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menilai kesuksesan influencer tidak bisa semata-mata diukur dari popularitas digital. Di tengah arus media sosial yang serba cepat, ketenangan batin serta kesadaran etis justru menjadi faktor penentu apakah pesan yang disampaikan memberi manfaat atau sekadar lewat sebagai sensasi.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Lia saat menjadi pemateri dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) STAI Taruna Surabaya, Minggu (11/1/2026). Di hadapan ratusan mahasiswa, ia menekankan bahwa kegugupan dan tekanan psikologis sering kali menjadi penghambat utama komunikasi publik, khususnya bagi influencer muda.

“Jika ingin berbicara dengan tenang dan pesan dapat diterima dengan baik, jangan melupakan doa. Membaca *rabbi syrahli shadri, wa yassirli amri, wahlul ‘uqdatan min lisani yafqahu qouli* adalah ikhtiar spiritual agar hati lebih lapang dan ucapan mudah dipahami,” kata Lia Istifhama, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, saat sesi pemaparan materi.

Menurut Lia, doa bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sarana membangun ketenangan psikologis yang berpengaruh langsung pada cara berpikir, bersikap, dan berkomunikasi di ruang publik.

Selain aspek spiritual, Lia mengingatkan pentingnya kejujuran dan ketulusan dalam membangun narasi. Konten yang lahir dari niat baik dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan materi yang hanya mengejar viralitas jangka pendek.

Ia juga mengajak mahasiswa memahami teori komunikasi seperti *hypodermic needle theory* dan *spiral of silence*. Kedua teori tersebut, kata Lia, menunjukkan bahwa pesan di media sosial memiliki daya pengaruh kuat terhadap pembentukan opini publik.

“Konten yang kita produksi bisa memengaruhi cara orang berpikir dan bersikap. Karena itu, influencer harus sadar penuh akan tanggung jawab sosialnya,” ujarnya.

Melalui forum LDKM ini, Lia berharap mahasiswa STAI Taruna Surabaya mampu tumbuh sebagai influencer yang tidak hanya piawai berkomunikasi, tetapi juga beretika dan berkarakter. Pendekatan tersebut dinilai relevan untuk menjawab tantangan media sosial Indonesia yang kian berpengaruh, bahkan hingga tingkat global.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Dari Warung hingga Bengkel, BAZNAS Kendal Ubah Zakat Jadi Modal Kemandirian
Gus Fawait Rombak Pejabat Pemkab Jember, Target Percepatan RPJMD Jadi Alasan
Harhubnas 2026, Trans Jatim Gratis Sehari di 8 Koridor, Gubernur Khofifah Ajak Warga Beralih ke Transportasi Publik
Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi
Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter
Wabup Pasuruan Tegaskan Karier ASN Berbasis Kompetensi dan Sistem Merit
Sp4n-Lapor! Bangkalan 100 Persen Ditindaklanjuti, Perangkat Daerah Diminta Disiplin Input Pengaduan
Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 11:42

Dari Warung hingga Bengkel, BAZNAS Kendal Ubah Zakat Jadi Modal Kemandirian

Kamis, 17 September 2026 - 09:14

Gus Fawait Rombak Pejabat Pemkab Jember, Target Percepatan RPJMD Jadi Alasan

Kamis, 17 September 2026 - 09:06

Harhubnas 2026, Trans Jatim Gratis Sehari di 8 Koridor, Gubernur Khofifah Ajak Warga Beralih ke Transportasi Publik

Rabu, 16 September 2026 - 20:40

Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi

Rabu, 16 September 2026 - 20:16

Jalan Kedungbanteng-Wonokerto Pasuruan Kembali Diperbaiki, Lantai Kerja Capai 110 Meter

Berita Terbaru