Anggota DPD RI Lia Istifhama Ingatkan : Jangan Biarkan Ego Menghancurkan Masa Depan Anak

- Redaksi

Selasa, 29 April 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPD RI Lia Istifhama  (dok net)

Anggota DPD RI Lia Istifhama (dok net)

JAKARTA, RadarBangsa.co.id – Pada saat meningkatnya perhatian publik terhadap kasus-kasus hak asuh anak yang melibatkan selebritas nasional seperti Tsania Marwah dan Paula Verhoeven, Senator asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan urgensi perlindungan hak asuh ibu kandung, terutama bagi anak-anak usia dini yang rentan secara emosional.

Dalam rapat kerja Komite III Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Khairi Fauzi, Lia dengan tegas menyerukan perlunya langkah konkret negara dalam menjamin hak asuh anak berada pada pihak ibu kandung setelah perceraian.

“Maraknya perceraian menyebabkan anak terpisah dari ibu kandungnya, sedangkan usia anak yang masih kanak-kanak seharusnya hak asuh di tangan ibu, menjadi masalah sosial yang perlu perhatian bersama,” ujar Lia dalam keterangannya kepada media, Minggu (27/4/2025).

Lia mempertanyakan kesiapan konkret KemenPPPA dalam memastikan anak-anak yang terdampak perceraian tetap memiliki hak untuk diasuh atau setidaknya bebas bertemu dengan ibu kandung mereka.

Meski belum mendapatkan jawaban eksplisit dari Menteri PPPA dalam forum tersebut, Lia tetap optimistis bahwa perjuangan ini akan membuahkan hasil. Ia percaya bahwa dengan kajian yang serius dan dukungan lintas sektor, hak asuh ibu kandung akan bisa ditegakkan sebagai bagian dari perlindungan hak anak yang lebih luas.

Dalam paparannya, Lia Istifhama mengajak publik untuk mengingat kembali perjuangan berat yang dialami sejumlah figur publik dalam memperjuangkan hak asuh anak, termasuk musisi Maia Estianty.

“Kalau kita flashback ke masa lalu, seperti yang dialami Maia Estianty, seharusnya itu membuat kita semua merenung. Tidak semua perempuan bisa sekuat dia, menahan rindu bertahun-tahun untuk bertemu anaknya,” ungkapnya penuh empati.

Tidak hanya itu, Lia juga menyoroti perjuangan aktris Tsania Marwah, yang selama lebih dari tujuh tahun berjuang mendapatkan hak untuk bertemu anak-anaknya, sebuah kisah yang bahkan dituangkannya dalam bentuk buku.

“Kisah Tsania Marwah ini mencengangkan. Ia mengalami keterpisahan yang menyakitkan dari anak-anaknya selama bertahun-tahun. Ini bukan sekadar kisah personal, ini adalah potret nyata betapa pentingnya perlindungan hak asuh ibu kandung bagi masa depan emosional anak-anak kita,” lanjut Lia.

Lebih jauh, Lia mengingatkan semua pihak untuk tidak melibatkan anak dalam konflik perceraian. Menurutnya, fitnah atau manipulasi emosional terhadap anak, yang bertujuan membenci salah satu orang tuanya, hanya akan meninggalkan luka jangka panjang.

“Saya berharap semua pihak dewasa yang terlibat perceraian bisa menahan diri. Jangan menciptakan fitnah, jangan racuni anak-anak dengan kebencian terhadap ayah atau ibunya,” ujarnya tegas.

Lia mengingatkan bahwa anak-anak membutuhkan cinta dari kedua orang tuanya untuk bertumbuh menjadi pribadi yang sehat secara emosional. Membenci salah satu orang tua, apalagi ibu kandung, menurutnya, bisa menjadi beban psikologis berat yang menghambat perkembangan anak.

“Apa untungnya meracuni anak untuk membenci ibu kandungnya? Kita semua dilahirkan oleh ibu. Seharusnya cinta kepada ibu adalah kekuatan yang mengantarkan kita menjadi pribadi sukses dan berakhlak mulia,” katanya.

Menutup pernyataannya, Lia berharap ke depan pemerintah lebih serius dalam merumuskan kebijakan perlindungan hak anak yang komprehensif, termasuk memperkuat posisi ibu kandung dalam hak asuh, terutama untuk anak usia dini.

Ia juga menyerukan kepada seluruh masyarakat agar memperjuangkan perceraian yang sehat, tanpa harus mengorbankan masa depan dan kebahagiaan anak-anak.

“Anak adalah amanah. Mereka berhak tumbuh dalam kasih sayang, bukan dalam bayang-bayang kebencian akibat ego orang tua,” pungkas Lia.

Lainnya:

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal
Menteri PKP Turun ke Bangkalan, 573 Rumah Warga Siap Dibedah Tahun Ini
Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948
Saat Dunia Memanas, Khofifah Pilih Panggung Nyepi untuk Serukan Stop Perang Global
Jembatan Tarik Nyaris Tumbang, Pemkab Sidoarjo Pastikan Dibangun 2027
BPBD Batang Dorong Adaptasi Rob, Kawasan Terdampak Disulap Jadi Wisata Perikanan
Bupati Bangkalan Genjot Bibit Lele, Siapkan Perikanan Jadi Penopang Ekonomi Warga
Blitar Siaga Kemarau 2026, 21 Desa Masuk Zona Merah Kekeringan

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 22:58 WIB

Darurat Lapangan Kerja, Wamenaker Ungkap 155 Juta Pekerja Masih Bertahan di Sektor Informal

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:02 WIB

Di Tengah Konflik Dunia, Khofifah Serukan Perdamaian dari Surabaya Saat Nyepi 1948

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:53 WIB

Saat Dunia Memanas, Khofifah Pilih Panggung Nyepi untuk Serukan Stop Perang Global

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:49 WIB

Jembatan Tarik Nyaris Tumbang, Pemkab Sidoarjo Pastikan Dibangun 2027

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:19 WIB

BPBD Batang Dorong Adaptasi Rob, Kawasan Terdampak Disulap Jadi Wisata Perikanan

Berita Terbaru