Dari Bantal Jadi Dakwah, Bluk Gebluk Pasuruan Bertahan Seabad

Minggu, 19 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ratusan warga mengikuti tradisi Syi’iran Bluk Gebluk di Desa Rembang, Kecamatan Rembang, Pasuruan, Senin (13/7/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

Ratusan warga mengikuti tradisi Syi’iran Bluk Gebluk di Desa Rembang, Kecamatan Rembang, Pasuruan, Senin (13/7/2026). (Foto Dok Ho/RadarBangsa.co.id)

PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Tradisi Syi’iran Bluk Gebluk, seni dakwah Islam khas Desa Rembang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, masih terus bertahan di tengah perkembangan zaman. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun selama lebih dari satu abad itu hingga kini rutin digelar setiap Senin malam dengan lokasi yang berpindah dari satu desa ke desa lain di Kecamatan Rembang.

Pada Senin (13/7/2026) malam, ratusan ibu dari berbagai desa di Kecamatan Rembang berkumpul di rumah Ustadz Ahmad, warga Desa Rembang, untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa tradisi lokal yang sarat nilai keagamaan itu masih mendapat tempat di tengah masyarakat.

Kegiatan dimulai setelah peserta berkumpul dalam jumlah yang dianggap mencukupi. Setiap kelompok kemudian melantunkan syi’ir berbahasa Jawa dan Madura yang diiringi tabuhan ritmis pada bantal hingga menghasilkan bunyi khas “bluk”.

Suara itulah yang kemudian melahirkan nama Bluk Gebluk. Selain menjadi media pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran keagamaan bagi masyarakat.

Ketua PAC Lesbumi MWCNU Kecamatan Rembang, Zainul Arifin, menjelaskan bahwa Bluk Gebluk lahir sebagai metode dakwah yang mudah dipahami masyarakat. Tradisi ini diciptakan oleh Kyai Zainal Abidin dan Kyai Abdul Rosid sebagai media penyampaian ajaran aqidah, akhlak, dan fiqih.

“Kegiatan Bluk Gebluk merupakan metode pembelajaran untuk masyarakat awam. Para ulama saat itu merasa perlu menghadirkan cara sederhana agar materi keagamaan lebih mudah diterima masyarakat,” kata Zainul Arifin.

Menurutnya, perjalanan tradisi tersebut telah berlangsung sejak awal abad ke-20. “Waktu itu pada tahun 1923, Kiyai Hamid mendapat mandat dari Kiyai Rosyid untuk menyebarkan syi’iran versi Jawa hingga dikenal masyarakat pada tahun 1950,” ujarnya.

Zainul menuturkan, pada masa lalu Bluk Gebluk juga kerap ditampilkan dalam acara pernikahan warga. Bahkan masih ada saksi hidup yang mengetahui sejarah awal penggunaan tradisi tersebut dalam hajatan masyarakat.

“Namanya Ustadz Saeri. Beliau dulu khotib salat Jumat yang pernah menghadirkan Bluk Gebluk dalam acara pernikahan anaknya,” ungkapnya.

Di balik antusiasme warga, kegiatan ini berlangsung dengan suasana sederhana. Konsumsi yang disediakan hanya berupa roti dan kerupuk, namun tidak mengurangi semangat kebersamaan para peserta.

“Yang terpenting bagi warga adalah silaturahmi dan menjaga tradisi ini tetap hidup. Kesederhanaan justru menjadi bagian dari kekuatan Bluk Gebluk,” tegasnya.

Kini, Syi’iran Bluk Gebluk telah tercatat dalam sistem Kekayaan Intelektual Komunal Kementerian Hukum RI melalui pendaftaran yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

“Inilah bukti bahwa Syi’iran Bluk Gebluk berasal dari Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan,” pungkasnya.

Penulis : Nul

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember
95 Lukisan SBY Dipamerkan di Surabaya, Khofifah Soroti Karya tentang Tsunami Aceh
Sidoarjo Jadi Daerah Percontohan InCircular, Subandi Dorong Pengelolaan Sampah dari Hulu
Kemnaker Seleksi Peserta MagangHub Batch 2 Angkatan II, Mulai Magang 21 September
Kemnaker-Baznas Perluas Akses Kerja Inklusif, Disabilitas hingga Magang ke Jepang
Pemerintah Tetapkan 26 Hari Libur 2027, Ini Aturan Kerja dan Cuti Bersamanya
Khofifah Percepat BSPS di Jatim, 12.371 Rumah Sudah Masuk Tahap Konstruksi
RSUD H. Moh. Ruslan Mataram Siapkan One Stop Service Pemeriksaan Calon Jemaah Haji 2027

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 18:45

Beda Pilihan Politik Harus Dikesampingkan, Gus Fawait: Sekarang Waktunya Bangun Jember

Rabu, 16 September 2026 - 17:58

95 Lukisan SBY Dipamerkan di Surabaya, Khofifah Soroti Karya tentang Tsunami Aceh

Rabu, 16 September 2026 - 13:08

Sidoarjo Jadi Daerah Percontohan InCircular, Subandi Dorong Pengelolaan Sampah dari Hulu

Rabu, 16 September 2026 - 09:43

Kemnaker Seleksi Peserta MagangHub Batch 2 Angkatan II, Mulai Magang 21 September

Rabu, 16 September 2026 - 09:38

Kemnaker-Baznas Perluas Akses Kerja Inklusif, Disabilitas hingga Magang ke Jepang

Berita Terbaru